Rusia dan Sistem Keamanan Kolektif
https://parstoday.ir/id/news/world-i12682-rusia_dan_sistem_keamanan_kolektif
Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (22/6/2016) menyampaikan pidato di hadapan anggota parlemen yang menandai berakhirnya masa kerja Majelis Rendah Rusia (Duma).
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 23, 2016 06:14 Asia/Jakarta
  • Rusia dan Sistem Keamanan Kolektif

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (22/6/2016) menyampaikan pidato di hadapan anggota parlemen yang menandai berakhirnya masa kerja Majelis Rendah Rusia (Duma).

Dalam pidatonya, Putin menyerukan pembentukan sebuah sistem keamanan kolektif yang akan melayani kepentingan semua negara secara merata dan Rusia siap untuk membahas masalah yang sangat penting ini.

"Gagasan tersebut sejauh ini sudah direspon oleh negara-negara Barat. Tapi sekali lagi, seperti pada awal Perang Dunia II, kita tidak melihat respon positif. Sebaliknya, NATO meningkatkan retorika agresif dan tindakan agresif di dekat perbatasan kita," tegas Putin.

"Dalam konteks ini, kita harus memberikan perhatian khusus untuk memperkuat kemampuan pertahanan negara kita," pungkasnya.

Menurutnya, terorisme tetap menjadi ancaman utama bagi keamanan global dan masyarakat internasional harus bekerja bersama-sama daripada terus berseteru.

Komentar Putin tentang sikap agresif NATO terhadap Rusia harus ditelusuri dalam perkembangan 2,5 tahun terakhir terutama pasca pecahnya krisis di Ukraina. NATO telah meningkatkan kehadirannya di Eropa Timur khususnya di dekat perbatasan Rusia dan terus memperluas ekspansinya ke wilayah timur. Oleh karena itu, Kremlin menganggap NATO sebagai ancaman bagi keamanan nasional Federasi Rusia.

Dalam pandangan Kremlin, permusuhan Barat terhadap Rusia adalah bukan pemandangan sesaat, tetapi sebuah pendekatan yang berkelanjutan yang diadopsi oleh NATO dan Amerika Serikat. Rusia sudah sering meminta NATO untuk meninggalkan kebijakan ekspansif, namun aliansi militer Barat ini tidak menghiraukan seruan itu dan secara konstan meningkatkan tindakan agresifnya terhadap Rusia.

Persoalan lain yang dianggap Moskow sebagai indikasi permusuhan Barat adalah kelanjutan sanksi mereka terhadap Rusia. Sanksi AS dan Uni Eropa merupakan bukti dari tekad Barat untuk mempertahankan tekanan sehingga Rusia mengalah dalam masalah Ukraina.

Barat ingin memaksa Rusia mengubah kebijakannya terkait krisis Ukraina dan oleh sebab itu, mereka menggunakan sanksi untuk memperlemah pemerintahan Putin. Meski begitu, Rusia tetap ingin meredam ketegangan di benua Eropa dan Putin menawarkan sebuah proposal untuk pembentukan sistem keamanan kolektif pada tingkat Eropa.

Usulan ini juga pernah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Dia mengatakan, gagasan untuk menciptakan sistem keamanan kolektif Euro-Atlantik berdasarkan kesetaraan masih tetap relevan.

Menurut Moskow, pembentukan sistem keamanan kolektif baru di Eropa – tanpa kehadiran kekuatan asing khususnya AS – akan mendorong kesepahaman di antara negara-negara Eropa dalam menghadapi ancaman dan melahirkan kekompakan pasukan dari setiap negara Eropa dalam memelihara keamanan wilayah mereka.

Dalam pandangan Putin, saat ini ancaman utama terhadap Eropa adalah terorisme. Keamanan benua ini menjadi tanggung jawab negara-negara Eropa dan kehadiran AS dalam sebuah pakta keamanan Eropa hanya akan melahirkan permusuhan dengan Rusia dan para pemimpin Eropa juga akan bergabung dengan Washington untuk memusuhi Moskow.

Kekhawatiran Rusia sudah terbukti dan NATO yang seharusnya menjaga keamanan Eropa, justru terjebak dalam permainan AS yang memprovokasi negara-negara Eropa.

AS mendorong NATO untuk memicu ketegangan di Eropa Timur, memancing emosi Rusia di wilayah Baltik dan Laut Hitam, memperluas penyebaran sistem perisai rudal, dan melanjutkan ekspansi ke wilayah timur. Langkah-langkah ini tentu saja mengundang reaksi Rusia dan pada akhirnya menciptakan krisis keamanan di Eropa Timur. (RM)