Kekhawatiran akan Masa Depan Demokrasi di AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i137112-kekhawatiran_akan_masa_depan_demokrasi_di_as
Presiden AS Joe Biden dua tahun setelah insiden pendudukan Kongres negara ini mengakui, "Kita sampai pada titik balik di sejarah AS, dan 6 Januari adalah pengingat bahwa demokrasi kami tidak dijamin."
(last modified 2025-11-30T14:38:07+00:00 )
Jan 08, 2023 11:31 Asia/Jakarta

Presiden AS Joe Biden dua tahun setelah insiden pendudukan Kongres negara ini mengakui, "Kita sampai pada titik balik di sejarah AS, dan 6 Januari adalah pengingat bahwa demokrasi kami tidak dijamin."

" Terlepas dari perbedaan pendapat, kita harus mengatakan dengan satu suara bahwa tidak ada tempat untuk provokasi atau kekerasan politik di Amerika," kata Biden.

Kepada mereka yang mengaku sebaga pahlawan penjaga demokrasi Amerika, Biden mengatakan, "Ancaman, kekerasan, kebrutalan yang terjadi pada 6 Januari semuanya nyata."

Penyerangan gedung Kongres AS pada 6 Januari 2021 dilakukan oleh sekelompok pendukung Presiden AS saat itu, Donald Trump. Bahkan, Trump yang kalah dalam pemilihan presiden November 2020 dari saingannya dari Partai Demokrat, Joe Biden, menghasut para pendukung dan simpatisannya untuk memprotes hasil tersebut dengan mengklaim bahwa pemilihan tersebut dicurangi. Trump menyebut sistem politik Amerika korup; Dia mempertanyakan sistem pemungutan suara dan berbicara tentang penipuan yang meluas. Dengan cara ini, menurut para pesaingnya, dia praktis mengorganisir kuasi-kudeta dengan tujuan mengganggu proses pemilihan Joe Biden. Pendukung Trump juga menyerang gedung Kongres, yang mengakibatkan 5 orang, termasuk dua polisi, tewas. Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika ini disebut sebagai serangan terhadap simbol demokrasi oleh beberapa politisi dan media.

Insiden 6 Januari 2021, serangan ke kongres AS

Dalam penyerangan ini, para pelaku tidak mencapai tujuannya untuk mengubah hasil pemilihan presiden AS 2020, tetapi kekacauan politik yang diakibatkannya terus berlanjut di negara ini. Menyusul serangan ini, Trump dimakzulkan oleh Demokrat karena pernyataannya sebelum penyerangan gedung Kongres dan menghasut para pendukungnya. Tetapi pemakzulan ini tidak menghasilkan apa-apa dan Senat akhirnya membebaskan Trump.

Departemen Kehakiman AS juga menuntut dan mengadili para pelaku insiden ini, dan sebuah komite dibentuk di Kongres untuk menyelidiki penyerangan 6 Januari itu. Setelah 18 bulan penyelidikan, komite merilis laporan lengkap tentang penyelidikannya atas serangan di gedung Kongres, dan meskipun Trump dibebaskan oleh Senat dalam persidangan Februari 2021, komite memutuskan dia bersalah atas kerusuhan tersebut.

Insiden 6 Januari 2021, sebuah peristiwa istimewa yang bukan saja memperlebar perpecahan antara kubu konservatif dan Demokrat, dan juga memicu polarisasi di tengah masyarakat Amerika, bahkan menguak kerentanan demokrasi di negara ini.

Saat ini, ketegangan politik terus berlanjut di Amerika, dan kesenjangan antara Demokrat dan Republik tidak hanya meningkat, tetapi juga antar partai. Puncaknya adalah pemungutan suara anggota Kongres untuk memilih ketua baru hingga akhirnya Kevin McCarthy mendapatkan posisi tersebut setelah melakukan pemungutan suara sebanyak lima belas kali; Suatu peristiwa yang belum pernah terjadi dalam 160 tahun terakhir Amerika.

Situasi ini menyebabkan seorang analis bernama Christina Hartman menulis dalam sebuah artikel di media The Hill,"Saya khawatir Amerika Serikat akan menghadapi kerapuhan pemerintah yang lebih dari yang dibayangkan banyak orang. Orang-orang tidak mempercayai pemerintah mereka, dan institusi publik—termasuk media—tidak berbuat banyak untuk memulihkan kepercayaan itu."

Sejumlah meyakini bahwa berlanjutnya proses ini akan membahayakan masa depan demokrasi ala Amerika Serikat. (MF)