Mengapa Macron Yakin G20 Berada di Ambang Kehancuran?
-
Presiden Prancis Emmanuel Macron
Pars Today - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dalam pidato yang belum pernah terjadi sebelumnya pada pembukaan KTT G20 di Johannesburg bahwa G20 telah kehilangan kemampuannya untuk memengaruhi krisis global.
Menurut laporan Pars Today, Johannesburg, Afrika Selatan telah menjadi tuan rumah bagi para pemimpin G20 selama dua hari sejak Sabtu (22/11/2025).
G20 adalah organisasi antarpemerintah yang terdiri dari 19 negara, bersama dengan Uni Eropa (UE) dan Uni Afrika (AU). Negara-negara G20 mewakili 85 persen output ekonomi global dan 75 persen perdagangan global, serta mencakup dua pertiga populasi dunia.
Kelompok ini berupaya mengatasi isu-isu utama terkait ekonomi global, seperti stabilitas keuangan internasional, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.
KTT Johannesburg diselenggarakan dengan slogan "Solidaritas, Kesetaraan, dan Keberlanjutan" dan membahas tantangan dan prioritas global, terutama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, pembangunan, dan pembiayaan. Kerja sama dan langkah ke depan bagi G20 juga akan menjadi fokus pembicaraan para kepala negara. Namun, sanksi, konflik, kemiskinan, dan kelaparan telah mengurangi harapan akan pertemuan puncak negara-negara ekonomi kuat dunia di Johannesburg.
AS telah memboikot pertemuan puncak ini, sementara para pemimpin Tiongkok dan Rusia juga tidak hadir. G20, yang dikenal sebagai forum ekonomi dan politik terpenting dunia dalam beberapa dekade terakhir, kini menghadapi tantangan serius. Oleh karena itu, pernyataan bersama diperkirakan tidak akan dikeluarkan di akhir pertemuan puncak, melainkan hanya pernyataan dari negara tuan rumah.
Macron memperingatkan di awal pertemuan puncak G20 di Johannesburg bahwa kelompok ini kehilangan kemampuannya untuk memengaruhi krisis global, yang membahayakan keberadaannya. Menurutnya, semakin sulit bagi para anggota kelompok untuk mencapai pendekatan bersama di bidang keamanan karena tidak adanya persatuan yang diperlukan di antara mereka.
Dalam pidatonya, Macron mengatakan, "G20 mungkin sedang mendekati akhir siklusnya. Kita berada di momen geopolitik di mana sangat sulit untuk menyelesaikan krisis internasional besar di meja perundingan ini, terutama dengan para anggota yang bahkan tidak hadir di sini hari ini. Sulit bagi kita untuk mencapai standar bersama di bidang geopolitik."
Salah satu alasan utama peringatan Macron adalah meningkatnya perbedaan di antara negara-negara besar G20. Dalam situasi di mana krisis global seperti perubahan iklim, perang, kerawanan pangan, dan krisis keuangan membutuhkan kerja sama kolektif, para anggota kelompok tersebut justru lebih cenderung berkompetisi dan berkonfrontasi daripada konvergensi.
Situasi ini menyebabkan pengambilan keputusan bersama di forum ini berjalan lambat atau bahkan terhenti. Macron mencatat dalam pidatonya bahwa beberapa anggota bahkan tidak hadir dalam pertemuan, yang menunjukkan penurunan serius dalam kohesi internal kelompok ini.
Di sisi lain, perkembangan keamanan dan militer terkini seperti perang di Ukraina dan ketegangan antara Barat dan Rusia, serta meningkatnya persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, telah sangat melemahkan atmosfer kerja sama di G20. Dalam situasi seperti itu, hampir mustahil untuk mencapai kesepakatan komprehensif mengenai keamanan global atau ekonomi internasional.
Macron melihat hal ini sebagai tanda berakhirnya siklus sejarah G20 dan memperingatkan bahwa jika tren saat ini berlanjut, lembaga tersebut tidak akan lagi mampu memainkan peran efektif dalam mengelola krisis global.
Sebenarnya, pernyataan Macron mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di antara para pemimpin dunia yang meyakini bahwa struktur tradisional kerja sama internasional tidak lagi responsif terhadap kebutuhan saat ini. G20 pernah memainkan peran penting dalam krisis keuangan 2008, tetapi kini telah kehilangan efektivitasnya dalam menghadapi krisis yang lebih kompleks dan multidimensi.
Peringatan ini menunjukkan bahwa dunia perlu memikirkan kembali mekanisme kerja sama internasional. Mekanisme yang dapat beradaptasi dengan realitas geopolitik dan ekonomi baru.
Dengan demikian, dengan menyatakan bahwa G20 berada di ambang kehancuran, Macron tidak hanya menyoroti kelemahan lembaga tersebut saat ini, tetapi juga mengingatkan perlunya menciptakan kerangka kerja baru untuk mengelola krisis global.
Pernyataannya merupakan peringatan keras bahwa, jika diabaikan, dunia dapat dibiarkan tanpa forum yang efektif dan terkoordinasi untuk menangani krisis di masa mendatang.
Sementara itu, KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, telah dibayangi oleh meningkatnya ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump yang kontroversial. AS, yang akan mengambil alih kepresidenan G20 setelah Afrika Selatan, tidak hadir. Donald Trump secara terbuka memboikot KTT G20 pertama di benua Afrika dan bahkan tidak mengirimkan delegasi. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kelompok global yang berpengaruh ini dan tampaknya mencerminkan hubungan Trump yang tegang dengan Afrika, khususnya Afrika Selatan.
Jarak ini telah berlangsung lama, dan menjadi jelas ketika Trump berbicara tentang apa yang disebutnya "genosida hitam terhadap petani kulit putih" saat kunjungan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa ke AS pada bulan Mei. Sikap ini juga didorong oleh ketegangan, karena Afrika Selatan berupaya menjalin hubungan yang lebih erat dengan Rusia dan Tiongkok serta mengajukan gugatan genosida terhadap sekutu AS, Israel, di Mahkamah Internasional atas perang Gaza.
Pada akhir September, Trump membatalkan program AGOA yang telah berusia 25 tahun, yang telah memberikan akses bebas tarif kepada negara-negara Afrika ke pasar AS. Akibatnya, negara-negara seperti Lesotho, Kenya, dan Madagaskar, serta Afrika Selatan sendiri, yang sedang berjuang dengan tingkat pengangguran yang tinggi, kehilangan pekerjaan.(sl)