Kontak Rahasia antara Para Pemimpin Eropa; Pengkhianatan AS terhadap Ukraina
Menurut percakapan yang bocor antara para pemimpin Eropa, mereka sangat khawatir bahwa Amerika Serikat akan mengkhianati Ukraina dalam masalah konsesi teritorial.
Menurut transkrip yang bocor dari panggilan telepon bersama antara para pemimpin Eropa dan Ukraina tentang cara mendukung Kiev, presiden Prancis memperingatkan bahwa Amerika Serikat mungkin akan mengkhianati Ukraina.
Menurut Fars Today, majalah Jerman Der Spiegel menerbitkan detail panggilan telepon tersebut, yang sebelumnya dilakukan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Mertz, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Presiden Finlandia Alexander Stubb, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dan beberapa pejabat lainnya mengenai negosiasi yang sedang berlangsung mengenai rencana perdamaian AS.
Berdasarkan laporan tersebut, presiden Prancis mengatakan bahwa "ada kemungkinan AS akan mengkhianati Kiev terkait masalah wilayah Ukraina dan tanpa mengklarifikasi jaminan keamanan" dan memperingatkan "bahaya yang sangat besar" yang mengancam Zelensky.
Menurut Fars, kanselir Jerman juga bergabung dalam diskusi dan memperingatkan bahwa Zelensky harus "sangat berhati-hati dalam beberapa hari mendatang." "Mereka mempermainkan Anda dan kami," kata Meretz, merujuk pada perwakilan Trump dalam pembicaraan dengan Rusia. Kedua pria tersebut mengadakan pembicaraan tertutup selama lima jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Selasa mengenai rencana perdamaian AS.
Menurut transkrip panggilan telepon yang bocor, Presiden Finlandia Alexander Stubb sependapat dengan Meretz, dengan mengatakan "kita tidak bisa membiarkan Ukraina dan Zelensky sendirian," sebuah komentar yang digaungkan oleh Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
"Saya setuju dengan Alexander, kita harus melindungi Volodymyr," kata Rutte.
Panggilan telepon tersebut juga dihadiri oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, Perdana Menteri Italia Giorgi Meloni, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Storr, dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, menurut Der Spiegel.
Panggilan telepon tersebut muncul setelah pemerintahan Trump mengajukan rencana perdamaian 28 poin yang dikritik oleh Ukraina dan sekutu-sekutu Eropanya karena memberikan terlalu banyak konsesi kepada Rusia, yang memicu gelombang perundingan intensif di Jenewa.
Perundingan selanjutnya, yang dihadiri oleh pejabat Eropa, Ukraina, dan Amerika, menghasilkan rencana 19 poin yang diperbarui yang belum disetujui Rusia. Para pejabat Rusia bersikeras bahwa setiap perjanjian yang langgeng harus mempertimbangkan tuntutan keamanan fundamentalnya, termasuk netralitas Ukraina, tidak bergabungnya Ukraina dengan NATO atau blok militer lainnya, demiliterisasi dan de-Nazifikasi Ukraina, serta penerimaan realitas teritorial yang ada.(PH)