Kegagalan Rencana Penggunaan Aset Rusia yang Dibekukan untuk Membantu Ukraina
Pars Today – Rencana untuk menggunakan aset Rusia yang dibekukan guna membantu Ukraina akhirnya gagal.
Menurut laporan Pars Today, para pemimpin Uni Eropa, di tengah tekanan politik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mendorong tercapainya kesepakatan cepat mengakhiri perang Ukraina, memilih opsi pinjaman bersama dari anggaran Uni Eropa daripada mengambil keputusan mahal terkait aset Rusia yang dibekukan. Perbedaan internal dan kekhawatiran atas dampak tindakan terhadap aset Rusia menjadi sumber keraguan serius dalam dukungan terhadap Ukraina.
Meskipun Eropa ingin menggunakan aset Rusia yang disita untuk menunjukkan citra persatuan dan ketegasan di hadapan Amerika dan Rusia, pada kenyataannya perbedaan internal dan biaya pengambilan keputusan membuat Brussel tidak mampu menampilkan citra tersebut.
Hasil dari perundingan panjang semalam di Brussel adalah kesepakatan para pemimpin Uni Eropa untuk memberikan pinjaman sebesar 90 miliar euro guna menutup defisit anggaran Ukraina dalam dua tahun ke depan. Namun, rencana yang semula dimaksudkan untuk memanfaatkan sekitar 200 miliar euro aset Bank Sentral Rusia di Eropa sebagai alat tekanan sekaligus sumber pembiayaan, berhenti tepat pada titik di mana biaya dan risiko nyata dimulai.
Menurut perkiraan Uni Eropa, Ukraina membutuhkan sekitar 135 miliar euro tambahan dalam dua tahun ke depan untuk tetap bertahan, dan tekanan finansial ini dapat mulai terasa pada musim semi mendatang. Kyiv secara tegas menyatakan bahwa tanpa sumber dana baru, pembayaran gaji militer dan pemenuhan beberapa kebutuhan mendesak akan sulit dilakukan.
Antonio Costa, Ketua Dewan Eropa yang memimpin pertemuan tersebut, menggambarkan keputusan pada Jumat dini hari, 19 Desember, sebagai penyediaan alat yang diperlukan untuk membela Ukraina dan berbicara tentang dukungan bagi rakyat Ukraina. Namun, kesimpulan resmi itu tidak mengurangi kenyataan kebuntuan, karena Uni Eropa ragu dan mundur dari keputusan yang bisa ditafsirkan sebagai konfrontasi lebih langsung dengan Moskow.
Di pusat kemunduran ini terdapat aset Rusia yang disita, sebagian besar disimpan di Belgia. Para pejabat Uni Eropa selama berminggu-minggu telah membicarakan penggunaan sumber daya keuangan yang disita tersebut, dan Kyiv pun membenarkannya dari sudut pandang moral dan hukum. Namun, ketika isu tanggung jawab hukum dan pembagian konsekuensi potensial muncul, Belgia menuntut jaminan yang jelas untuk pembagian tanggung jawab, sementara beberapa negara lain menyatakan kekhawatiran atas dampak hukum dan kemungkinan reaksi balasan Moskow. Akhirnya, opsi utama ditinggalkan, dan Uni Eropa kembali pada pilihan yang lebih murah, di mana beban utamanya bukan pada aset Rusia, melainkan pada anggaran umum dan kapasitas keuangan Eropa sendiri.
Menurut rencana penggunaan aset Rusia yang disita untuk membantu Ukraina, yang diajukan oleh negara-negara seperti Jerman, seharusnya aset Rusia yang dibekukan di bank dan lembaga keuangan Eropa disita untuk menyediakan sumber daya finansial yang diperlukan bagi rekonstruksi Ukraina dan mendukung negara tersebut dalam menghadapi perang. Namun, rencana ini pada praktiknya menghadapi hambatan serius dan akhirnya gagal.
Alasan utama kegagalan rencana ini adalah pertimbangan hukum dan legalitas. Aset negara dalam sistem keuangan internasional memiliki bentuk kekebalan tertentu, dan penggunaannya tanpa keputusan pengadilan atau kesepakatan internasional dapat dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan prinsip kedaulatan negara. Banyak pakar memperingatkan bahwa tindakan semacam itu akan menciptakan preseden berbahaya dan dapat merusak kepercayaan negara-negara terhadap sistem keuangan global. Jika hari ini aset Rusia disita, maka besok negara lain juga bisa menghadapi tindakan serupa, dan hal ini akan mengancam stabilitas ekonomi global.
Alasan kedua adalah adanya perbedaan pandangan di antara negara-negara Barat. Meskipun Amerika Serikat dan sebagian anggota Uni Eropa menekankan penyitaan aset Rusia, sejumlah negara Eropa—terutama yang memiliki hubungan ekonomi lebih luas dengan Rusia—khawatir terhadap konsekuensi langkah tersebut. Mereka mencemaskan bahwa Rusia, sebagai reaksi, akan menarik investasi dan aset luar negerinya dari negara-negara itu atau melakukan tindakan balasan ekonomi. Perbedaan pandangan ini menyebabkan konsensus yang diperlukan untuk menjalankan rencana tersebut tidak terbentuk.
Dari perspektif ekonomi, rencana ini juga menghadapi tantangan serius. Aset Rusia yang dibekukan pada umumnya berupa cadangan devisa dan surat berharga yang disimpan di bank-bank Barat. Mengonversi aset-aset ini menjadi sumber pendanaan yang dapat digunakan bagi Ukraina memerlukan proses hukum dan finansial yang kompleks, yang dapat memakan waktu bertahun-tahun. Selain itu, pemanfaatan aset-aset tersebut berpotensi mengganggu stabilitas pasar keuangan dan mengurangi kepercayaan investor global terhadap keamanan aset mereka di bank-bank Barat.
Dampak dari kegagalan rencana ini juga patut dicermati. Dampak pertama adalah melemahnya posisi Barat dalam perang ekonomi melawan Rusia. Ketidakmampuan untuk menyita dan memanfaatkan aset Rusia menunjukkan bahwa instrumen ekonomi Barat memiliki keterbatasan serius dan tidak mampu sepenuhnya memaksakan kebijakannya kepada pihak lain. Hal ini dapat membuat Rusia semakin berani dan memberi negara itu kesempatan untuk mengelola tekanan ekonomi dengan bertumpu pada sumber daya domestik serta kerja sama dengan mitra non-Barat seperti Tiongkok.
Dampak kedua adalah meningkatnya ketidakpercayaan global terhadap sistem keuangan Barat. Banyak negara kini sampai pada kesimpulan bahwa menyimpan cadangan devisa di bank-bank Barat dapat menjadi berisiko dalam situasi krisis. Karena itu, besar kemungkinan kita akan melihat tren negara-negara memindahkan cadangannya ke mata uang alternatif atau lembaga keuangan non-Barat. Tren ini dapat melemahkan posisi dolar dan euro dalam sistem keuangan global.
Dampak ketiga adalah pengaruhnya terhadap jalannya perang Ukraina. Kegagalan menyediakan sumber pendanaan melalui aset Rusia meningkatkan tekanan pada negara-negara Barat untuk menggunakan sumber daya domestik mereka sendiri guna membantu Ukraina. Hal ini dapat memperuncing perbedaan dan ketegangan internal di Eropa dan Amerika Serikat, karena opini publik di negara-negara tersebut semakin peka terhadap besarnya biaya dukungan bagi Ukraina.
Secara keseluruhan, kegagalan rencana pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan untuk membantu Ukraina menunjukkan adanya keterbatasan hukum dan politik Barat dalam menangani krisis internasional. Kegagalan ini tidak hanya memengaruhi jalannya perang Ukraina, tetapi juga akan membawa konsekuensi jangka panjang bagi sistem keuangan global dan hubungan internasional. (MF)