Amerika Latin
Serangan Militer AS ke Venezuela Sebabkan Ketidakstabilan di Pasar Global
-
Donald Trump dan Nicolas Maduro
Pars Today - Serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penangkapan presiden negara ini pada awal tahun 2026 telah mengirimkan gelombang kejutan dan ketidakstabilan ke ekonomi Amerika Latin dan pasar global. Sebuah peristiwa yang, berfokus pada minyak dan sumber daya strategis, sekali lagi menjadikan emas sebagai tempat berlindung utama bagi investor.
Sementara pasar global bersiap untuk pekan perdagangan pertama tahun 2026, berita tentang serangan militer AS terhadap Venezuela dan perkembangan politik yang mengikutinya tiba-tiba mengubah persamaan ekonomi. Venezuela, sebagai pemegang cadangan minyak terbesar di dunia, sekali lagi menjadi pusat konflik geopolitik.
Sebuah konflik yang konsekuensinya telah melampaui Amerika Latin dan memengaruhi pasar energi, logam mulia, dan bahkan kebijakan moneter.
Pasar Global Terguncang, Emas Memimpin Ketidakpastian
Para ahli ekonomi percaya bahwa pasar global akan menghadapi "kesenjangan harga ke atas". Emas, yang mengalami pertumbuhan luar biasa sekitar 70% pada tahun 2025, kini berada di jalur untuk mencetak rekor harga baru dengan intensifikasi ketegangan geopolitik.
Analis mengatakan bahwa serangan terhadap Venezuela bukan sekadar operasi militer, melainkan penciptaan pusat ketidakpastian baru dalam ekonomi global. Kata-kata Donald Trump tentang mengendalikan cadangan minyak negara ini dipandang sebagai tanda perubahan dalam tatanan pasokan energi. Perubahan yang telah mendorong modal menuju aset aman, terutama emas dan perak.
Venezuela Pemain Strategis di Pasar Emas
Urgensi Venezuela tidak terbatas pada cadangan minyaknya yang berjumlah 303 miliar barel. Dengan sekitar 161 ton cadangan emas, negara ini dianggap sebagai pemain utama dalam sumber daya strategis di Amerika Selatan. Ketidakstabilan politik di negara seperti itu secara langsung meningkatkan "premi risiko" di pasar global dan memberikan tekanan ke atas pada harga logam mulia.
Minyak, Alat untuk Tekanan atau Mesin Krisis?
Fokus utama Washington pada minyak Venezuela sekali lagi menyoroti peran energi dalam kebijakan luar negeri AS. Dengan harga minyak mentah Brent di bawah $61, para analis memperingatkan bahwa gangguan apa pun terhadap produksi atau ekspor minyak Venezuela dapat menyebabkan harga melonjak dan memperburuk inflasi global.
Kenaikan biaya energi secara langsung meningkatkan biaya produksi di negara-negara industri dan negara berkembang, dan siklus ini sekali lagi akan memicu pertumbuhan harga emas sebagai penyangga inflasi.
Amerika Latin di Pusat Ketegangan Ekonomi
Perkembangan terkini juga telah menimbulkan kekhawatiran di antara negara regional. Enam negara, Brasil, Chili, Kolombia, Meksiko, Uruguay, dan Spanyol, mengeluarkan pernyataan bersama, menyatakan penentangan mereka terhadap tindakan militer sepihak di Venezuela dan menekankan perlunya solusi politik untuk krisis tersebut. Sikap ini mencerminkan kekhawatiran mendalam tentang penyebaran ketidakstabilan politik ke ekonomi regional.
Para ahli ekonomi politik percaya bahwa perkembangan di Venezuela, bersamaan dengan tekanan simultan pada negara-negara penghasil minyak independen lainnya, menunjukkan bahwa minyak dan dolar tetap menjadi poros utama kebijakan luar negeri AS. Upaya negara-negara untuk mendiversifikasi jalur penjualan minyak dan mengurangi ketergantungan pada dolar telah menjadi hambatan serius bagi strategi ini.
Minggu yang Menentukan bagi Ekonomi Dunia
Dalam jangka pendek, pasar global akan menghadapi fluktuasi yang parah, peningkatan risiko geopolitik, dan penguatan aset aman. Hingga situasi ekspor minyak Venezuela dan masa depan politik negara ini diklarifikasi, emas akan tetap menjadi pilihan utama bagi investor sebagai "uang bebas risiko".
Perkembangan di Venezuela sekali lagi menunjukkan bahwa Amerika Latin bukan hanya wilayah politik, tetapi juga salah satu hambatan utama bagi ekonomi dan energi dunia pada awal tahun 2026.(sl)