Ketidakpuasan Rakyat AS atas Trump Meningkat; Janji-Janji Tak Ditepati
https://parstoday.ir/id/news/world-i184220-ketidakpuasan_rakyat_as_atas_trump_meningkat_janji_janji_tak_ditepati
Pars Today – Hasil jajak pendapat terbaru CNN menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika menilai tahun pertama pemerintahan Trump, tidak berhasil.
(last modified 2026-01-17T10:40:27+00:00 )
Jan 17, 2026 17:38 Asia/Jakarta
  • Presiden Amerika Serikat Donald Trump
    Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Pars Today – Hasil jajak pendapat terbaru CNN menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika menilai tahun pertama pemerintahan Trump, tidak berhasil.

Menurut laporan Pars Today, berdasarkan hasil survei terbaru jaringan berita CNN, sebagian besar warga Amerika meyakini bahwa Donald Trump pada tahun pertama masa jabatan keduanya sebagai presiden tidak menunjukkan kinerja yang sukses dan gagal menetapkan prioritas yang tepat.
 
Survei ini juga menunjukkan bahwa dari sudut pandang masyarakat Amerika, pemerintah saat ini tidak melakukan langkah berarti untuk mengendalikan meningkatnya biaya hidup dan memperbaiki kondisi kehidupan rakyat Amerika. Hal ini terjadi meskipun Trump secara konsisten menampilkan dirinya sebagai presiden yang sukses di bidang domestik dan internasional.
 
Alasan ketidakpuasan terhadap kinerja Trump dapat ditelaah dalam dua ranah, yaitu domestik dan luar negeri. Di bidang domestik, peningkatan signifikan biaya hidup di Amerika Serikat serta ketidakmampuan pemerintahan Trump dalam mengendalikan inflasi menjadi faktor utama ketidakpuasan warga. Harga perumahan, energi, layanan kesehatan, dan bahan pangan pada tahun pertama pemerintahan Trump mengalami kenaikan yang cukup tajam, sehingga memberikan tekanan langsung kepada kelompok masyarakat menengah dan bawah. Banyak warga Amerika meyakini bahwa kebijakan pajak pemerintah terutama dirancang untuk menguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan kelompok berpenghasilan tinggi, serta gagal memperbaiki kondisi ekonomi mayoritas masyarakat. Selain itu, ketidakstabilan dalam kebijakan ekonomi, perubahan mendadak dalam regulasi, dan sikap yang tidak dapat diprediksi terhadap lembaga-lembaga ekonomi telah menciptakan ketidakpastian dalam dunia usaha dan menghambat terciptanya lapangan kerja yang berkelanjutan.
 
Dalam konteks ini, data yang dipublikasikan menunjukkan bahwa tingkat pengangguran pada bulan November mencapai 4,6 persen, angka tertinggi dalam empat tahun terakhir, sementara janji untuk menghidupkan kembali sektor industri dan meningkatkan jumlah pekerjaan di sektor manufaktur pada praktiknya tidak terealisasi. Tingkat inflasi juga mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya pada akhir tahun 2025, sehingga mendorong kenaikan harga berbagai barang dan jasa. Laporan terbaru Hampton Global Business Review menunjukkan bahwa inflasi tinggi telah menurunkan daya beli rumah tangga dan mengubah banyak kebutuhan pokok menjadi barang yang bersifat mewah. Selain itu, kenaikan harga pangan, perumahan, layanan kesehatan, dan energi telah memberikan tekanan tambahan pada kelompok menengah dan bawah, serta memperparah ketidakpuasan publik.
 
Di samping persoalan-persoalan tersebut, kebijakan luar negeri pemerintahan Trump juga berperan penting dalam meningkatnya ketidakpuasan. Pengenaan tarif tinggi terhadap impor dan keterlibatan dalam perang dagang dengan negara-negara seperti China dan anggota Uni Eropa menyebabkan kenaikan harga barang konsumsi di dalam negeri Amerika Serikat dan semakin meningkatkan biaya hidup.
 
Selain itu, penarikan diri dari sejumlah perjanjian internasional serta munculnya ketegangan dengan sekutu-sekutu tradisional Amerika turut menciptakan ketidakstabilan relatif dalam perekonomian global; ketidakstabilan yang juga berdampak pada pasar domestik Amerika. Akibatnya, para investor menjadi lebih berhati-hati terhadap masa depan ekonomi Amerika Serikat, dan kehati-hatian ini memperlambat pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kebijakan imigrasi yang ketat telah membatasi sebagian tenaga kerja murah dan penting di sektor-sektor seperti pertanian, konstruksi, dan jasa, sehingga meningkatkan biaya produksi dan pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang.
 
Pendekatan pemerintah Amerika Serikat terhadap krisis-krisis global juga menambah ketidakpuasan terhadap kinerja Trump. Keputusan-keputusan yang diambil tanpa koordinasi dengan lembaga-lembaga internasional atau tanpa evaluasi yang cermat terhadap dampak ekonomi telah menyebabkan Amerika Serikat dalam beberapa kasus menanggung biaya yang lebih besar untuk mengelola krisis. Dalam pandangan warga negara ini, kondisi tersebut mencerminkan kelemahan dalam manajemen ekonomi dan ketidakmampuan dalam memprediksi konsekuensi kebijakan luar negeri.
 
Banyak warga Amerika juga berpendapat bahwa Trump, alih-alih memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan utama rakyat, justru mencurahkan energinya pada isu-isu yang lebih bersifat politis, personal, atau simbolis. Ia dalam praktiknya lebih menjadi pemimpin bagi basis politik yang terbatas, daripada presiden bagi seluruh rakyat Amerika. Sebagian besar modal politiknya dihabiskan untuk konflik partisan, serangan terhadap media, penekanan pada kemenangan elektoral, dan penyelesaian konflik dengan para penentang, sehingga gagal menghadirkan citra pemerintahan yang inklusif dan nasional. Pendekatan ini membuat sebagian besar warga Amerika merasa bahwa pemerintahan Trump bukanlah wakil sejati mereka dan lebih terlibat dalam pertikaian politik daripada menangani persoalan publik.
 
Kekhawatiran akan penyalahgunaan kekuasaan atau penggunaan berlebihan atas kewenangan presiden juga meningkat di kalangan warga Amerika. Banyak yang meyakini bahwa Trump, melalui personalisasi kekuasaan dan pelemahan lembaga-lembaga pengawasan, telah mengganggu keseimbangan tradisional dalam sistem pemerintahan. Gaya kepemimpinan yang bertumpu pada keputusan mendadak, serangan terhadap lembaga peradilan dan intelijen, serta pengabaian terhadap norma-norma politik telah memperkuat persepsi bahwa politik pada era Trump telah berubah menjadi arena kehendak individual. Bersamaan dengan itu, kesenjangan sosial dan budaya juga semakin dalam pada masa kepemimpinannya. Sejak awal, ia mengandalkan wacana yang berlandaskan pada batas-batas identitas, ras, dan imigrasi; penerapan wacana ini—terutama dalam perlakuan keras terhadap para imigran dan demonstran—telah meningkatkan ketidakpercayaan dan rasa takut di kalangan berbagai kelompok masyarakat, termasuk minoritas dan generasi muda.
 
Secara keseluruhan, ketidakpuasan terhadap kinerja tahun pertama pemerintahan Trump menunjukkan bahwa krisis-krisis yang ada dalam masyarakat Amerika tidak hanya belum terselesaikan, tetapi justru menemukan dimensi baru di bawah kepemimpinannya. Sebagian besar janji kampanye Trump telah ditinggalkan atau pada praktiknya tidak membuahkan hasil. Dengan kata lain, presiden Amerika Serikat tersebut bukan saja gagal meraih kepuasan rakyatnya pada tahun pertama masa kepresidenannya, tetapi juga dengan memperdalam jurang politik dan sosial, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih serius mengenai kemampuan pemerintahannya dalam mengelola tantangan-tantangan yang ada di masa depan. (HS)