Mengapa BRICS Jadi Mimpi Buruk Trump?
https://parstoday.ir/id/news/world-i184498-mengapa_brics_jadi_mimpi_buruk_trump
Sebuah media Zionis menilai Presiden AS, Donlad Trump menempatkan kelompok BRICS sebagai ancaman yang berbahaya.
(last modified 2026-01-23T04:30:58+00:00 )
Jan 23, 2026 10:20 Asia/Jakarta
  • Mengapa BRICS Jadi Mimpi Buruk Trump?

Sebuah media Zionis menilai Presiden AS, Donlad Trump menempatkan kelompok BRICS sebagai ancaman yang berbahaya.

Republik Islam Iran, Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia kini membentuk 10 anggota kelompok BRICS.

Saluran TV Zionis 14 mengakui dalam sebuah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump melihat kelompok BRICS sebagai ancaman yang mengancam. Noam Rahlis, penulis laporan tersebut meyakini kelompok ekonomi BRICS dianggap sebagai ancaman ekonomi bagi Amerika Serikat, karena BRICS memiliki tujuan yang jelas, yaitu mengurangi ketergantungan pada dolar dan menciptakan alternatif keuangan untuk itu.

Menurut Rahlis, dari perspektif Amerika Serikat, kelompok BRICS merupakan skenario berbahaya karena menawarkan alternatif bagi kekuatan militer Barat.

Dalam konteks ini, banyak keraguan bahwa peningkatan ketegangan Washington dengan Iran semata-mata disebabkan oleh kekhawatiran Israel, tetapi lebih karena tindakan ini berasal dari upaya untuk menghancurkan poros yang menargetkan dolar dan kekuatan AS, dan dalam hal ini, Iran telah menjadi salah satu pemain regional dan berpengaruh terpenting dalam kelompok ekonomi ini.

Penulis laporan tersebut menambahkan, “Trump adalah seorang pengusaha dan melihat dunia sebagai panggung ekonomi, di mana Israel bisa jadi jauh kurang penting daripada yang kita kira dalam konteks persamaan ini.”

Di bagian lain laporan media berbahasa Ibrani ini dinyatakan bahwa analisis umum mengenai kebijakan luar negeri AS adalah bahwa pandangan keamanan negara ini didasarkan pada ancaman, aliansi, pencegahan, dan perang, tetapi jika kita melihat hal-hal secara realistis, dari perspektif presiden AS, situasinya sangat berbeda dan berputar di sekitar uang, dominasi ekonomi, dan merebut aturan main.

Rahlis menekankan, "Presiden AS bukanlah seorang ideolog, tetapi seorang pengusaha. Ia tidak memandang dunia sebagai panggung moral, tetapi lebih mempertimbangkan segala sesuatu dalam hal persamaan untung rugi. Ia tidak memandang negara mana pun sebagai sekutu atau musuh, tetapi lebih menempatkan mereka dalam tiga kategori: mitra, boneka (tentara bayaran), dan pesaing." (PH)