Reorganisasi Logistik BRICS dengan Iran sebagai Pusatnya
-
BRICS
Pars Today - Negara-negara anggota BRICS sedang dalam proses mereorganisasi infrastruktur transportasi dan logistik mereka secara ekstensif dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada rute dan infrastruktur tradisional di bawah pengaruh Barat. Sebuah proses yang, dengan berfokus pada koridor strategis, logistik multimodal, dan digitalisasi sistem, dapat mengubah peta perdagangan global, terutama di Global Selatan.
Pada KTT Kazan 2024, para pemimpin BRICS menekankan perlunya pemanfaatan kapasitas transportasi secara terintegrasi; kapasitas yang terdiri dari beragam rute laut, darat, dan kereta api dan dapat mengarah pada pembentukan jaringan yang berkelanjutan dan independen untuk pergerakan barang dan penumpang. Dalam kerangka ini, pembentukan platform logistik bersama sebagai poros informasi dan koordinasi operasional telah dimasukkan dalam agenda BRICS.
Platform logistik ini diharapkan dapat memungkinkan perancangan rute yang optimal dalam hal waktu, biaya, dan keamanan dengan mengintegrasikan data tentang rute angkutan barang dan penumpang dari negara-negara anggota. Para ahli menekankan bahwa inisiatif ini berfokus pada koneksi cerdas dan virtual dari koridor yang sudah ada, termasuk Koridor Internasional Utara-Selatan (INSTC) dan Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) Tiongkok, daripada mengandalkan pembangunan infrastruktur baru.
Nelly Semenova, seorang peneliti di Institut Studi Oriental Rusia, percaya bahwa inti dari platform digital ini akan berupa serangkaian standar teknis umum, antarmuka digital, dan aturan pertukaran data yang akan memungkinkan interaksi antara sistem reservasi, pelacakan, dan bea cukai di negara-negara anggota. Sementara itu, Erik Escalona Aguilar, profesor madya di Universitas Bernardo O’Higgins di Chili, menekankan perlunya model federal di mana sistem nasional dan swasta dapat berinteraksi satu sama lain tanpa sentralisasi yang berlebihan.
Bersamaan dengan platform digital, pembentukan pusat logistik juga diusulkan sebagai pelengkap strategi ini. Pusat-pusat ini meliputi gudang, pusat pengemasan, zona bea cukai, dan unit produksi yang memungkinkan konsentrasi, pemrosesan, dan distribusi barang yang efisien. Di antara proyek-proyek yang sedang dipertimbangkan adalah pendirian terminal gandum di Mesir, negara tempat Rusia merupakan pemasok gandum terbesar.
Para ahli percaya bahwa tantangan utama yang dihadapi BRICS bukanlah kurangnya infrastruktur fisik, tetapi kurangnya arsitektur kelembagaan bersama. Isu-isu seperti koordinasi tarif, fasilitasi prosedur bea cukai, dan penggunaan mata uang nasional dalam penyelesaian memainkan peran penting dalam keberhasilan inisiatif ini.
Sementara itu, jalur-jalur utama telah mendapatkan tempat khusus. Transportasi maritim, yang mencakup sekitar 90 persen perdagangan global, dianggap sebagai pilihan strategis untuk menghubungkan Eropa dan Asia, yang berpusat pada Jalur Laut Utara Rusia. Debuah jalur yang hampir setengah panjang Terusan Suez dan diperkirakan akan mencapai 220 juta ton kargo pada tahun 2035.
Di sisi darat, Koridor Internasional Utara-Selatan, yang menghubungkan Rusia dengan Iran, India, dan negara-negara Teluk Persia, memainkan peran lebih dari sekadar jalur transit dan dapat menjadi platform untuk konvergensi ekonomi dan pembentukan rantai produksi dan logistik bersama di belahan bumi selatan.
Para analis percaya bahwa terlepas dari perbedaan standar dan penyebaran jaringan transportasi di negara-negara anggota, BRICS akan bertransformasi dari kumpulan proyek individual menjadi jaringan yang koheren dan efektif dalam dekade berikutnya. Sebuah jaringan yang pilar utamanya adalah Koridor Utara-Selatan dan Jalur Laut Utara, dan yang dapat mengubah keseimbangan logistik dunia dengan merugikan struktur yang didominasi oleh Amerika Serikat.(sl)