Lavrov: Iran Adalah Mitra dan Kami Siap Jadi Mediator
https://parstoday.ir/id/news/world-i185056-lavrov_iran_adalah_mitra_dan_kami_siap_jadi_mediator
Pars Today - Menteri Luar Negeri Rusia sekali lagi menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat, dan menekankan, “Kami saat ini tidak berusaha memaksakan mediasi kami kepada mereka, tetapi dalam kontak kami dengan mereka, kami hanya membahas situasi saat ini.”
(last modified 2026-02-05T08:15:22+00:00 )
Feb 05, 2026 15:13 Asia/Jakarta
  • Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia
    Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia

Pars Today - Menteri Luar Negeri Rusia sekali lagi menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi mediator antara Iran dan Amerika Serikat, dan menekankan, “Kami saat ini tidak berusaha memaksakan mediasi kami kepada mereka, tetapi dalam kontak kami dengan mereka, kami hanya membahas situasi saat ini.”

Menurut laporan IRNA, Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia menambahkan dalam wawancara dengan jaringan Russia Today (RT) pada Kamis (05/02/2026), “Iran adalah mitra kami dan tetangga dekat. Kami khawatir tentang bagaimana situasi berkembang.”

Lavrov menyatakan, Situasi ini tidak hanya mengkhawatirkan bagi Iran sendiri, tetapi juga bagi seluruh Timur Tengah. Situasi ini berada di ambang ledakan, dan banyak bom yang menunggu untuk diledakkan.

Menteri Luar Negeri Rusia mengatakan, “Iran, AS, dan Israel tahu bahwa kami sekali lagi siap menawarkan jasa kami dalam partisipasi pelaksanaan perjanjian, setelah perjanjian itu tercapai.”

Sebelumnya, pada 29 Januari 2024, Lavrov, dalam wawancara dengan media Turki, menyatakan bahwa Moskow memainkan peran kunci dalam mencapai JCPOA pada 2015, dan mengatakan, "Lebih dari 10 tahun yang lalu, pada 2015, Rusia memainkan peran kunci dalam mencapai kesepakatan mengenai program nuklir Iran, termasuk dengan mentransfer uranium yang diperkaya berlebih Iran ke Rusia. Kini kami siap melakukan hal serupa.”

Menanggapi retorika Trump terhadap Iran dan ancamannya, Menteri Luar Negeri Rusia mengatakan, “Saya harap kehati-hatian dan akal sehat akan menang.”

Lavrov juga menyoroti latar belakang pernyataan Trump tentang Iran, “Minyak Iran berasal dari negara yang termasuk di antara produsen utama, dan saya hampir yakin bahwa Amerika Serikat lebih memilih untuk dapat mengendalikan aliran minyak ini.”

Dia menambahkan, “Berbeda dengan Venezuela yang terletak di laut lepas, Iran memiliki Selat Hormuz dan kemampuan geostrategis uniknya terkait keamanan rute minyak, yang menjadi incaran Washington, mengingat kepentingan resmi dan terbuka yang dinyatakan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.”

Pada Selasa, Iran mengumumkan bahwa mereka ingin lokasi pembicaraan dipindahkan dari Istanbul ke Oman agar fokusnya hanya pada isu nuklir.

Menteri Luar Negeri Sayid Abbas Araghchi menulis di akun X-nya, “Pembicaraan nuklir dengan AS akan diadakan di Muscat pada Jumat sekitar pukul 10 pagi.”

Dalam hal ini, Associated Press, mengutip sumbernya, mengatakan Gedung Putih setuju untuk memindahkan pembicaraan dari Turki ke Oman setelah para pemimpin Arab mendesak AS untuk mendengarkan Tehran.

Sebelumnya, situs Axios, mengutip dua pejabat Amerika, mengatakan bahwa rencana pembicaraan nuklir AS-Iran pada Jumat kembali dibahas setelah beberapa pemimpin Timur Tengah mendesak administrasi Trump pada Rabu sore untuk tidak meninggalkan pembicaraan.

Media AS itu menambahkan bahwa pembicaraan akan diadakan di Oman, seperti yang diminta Iran, meskipun AS awalnya menolak perubahan dari rencana awal untuk bertemu di Istanbul.

Media, mengutip dua pejabat Amerika Serikat tingkat tinggi, melaporkan bahwa setidaknya sembilan negara di kawasan tersebut telah menyampaikan pesan kepada Gedung Putih pada tingkat tertinggi, termasuk permintaan langsung kepada AS agar tidak membatalkan pertemuan dengan Iran di Oman.(sl)