Dua Peraih Nobel dan Ratusan Akademisi: Hentikan Serangan ke Pusat Sains Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i189926-dua_peraih_nobel_dan_ratusan_akademisi_hentikan_serangan_ke_pusat_sains_iran
Pars Today - Hampir 1.500 ilmuwan dari berbagai negara menandatangani surat terbuka yang mengecam keras serangan AS dan rezim Zionis terhadap infrastruktur ilmiah Iran.
(last modified 2026-05-14T06:21:22+00:00 )
May 14, 2026 13:17 Asia/Jakarta
  • Ilmuwan dunia
    Ilmuwan dunia

Pars Today - Hampir 1.500 ilmuwan dari berbagai negara menandatangani surat terbuka yang mengecam keras serangan AS dan rezim Zionis terhadap infrastruktur ilmiah Iran.

Surat yang diprakarsai oleh ilmuwan Iran di Norwegia ini ditujukan kepada Sekjen PBB, Dirjen UNESCO, dan Komisioner Tinggi HAM PBB. Para penandatangan menyatakan keprihatinan mendalam atas setidaknya 21 serangan yang merusak laboratorium, universitas, rumah sakit, dan institusi ilmiah lainnya sejak perang dimulai 28 Februari lalu.

Lembaga yang terdampak antara lain Universitas Teknologi Isfahan, Universitas Teknologi Iran, Universitas Teknologi Amirkabir, serta Pusat Riset Farmasi Tofiq Daru, produsen anestesi dan obat kanker serta MS.

Dalam surat itu, mereka menulis, "Institusi ilmiah dan pendidikan adalah ruang sipil yang penting bagi kesehatan publik, pengetahuan, dan kelangsungan hidup manusia. Penghancuran mereka membahayakan peneliti, mahasiswa, tenaga medis, dan masyarakat luas, sambil menyebabkan kerusakan abadi pada sains dan masyarakat".

Para ilmuwan menyerukan kepada semua pihak yang bertikai untuk menghentikan segera serangan terhadap situs ilmiah dan pendidikan sipil. Mereka juga mendesak PBB, UNESCO, dan organisasi internasional lainnya untuk mendokumentasikan kerusakan, melindungi ilmuwan dan mahasiswa yang terdampak, serta mendukung investigasi independen atas pelanggaran hukum humaniter internasional.

Sains adalah bahasa universal yang melampaui batas negara. Namun, di Iran, laboratorium dan perpustakaan menjadi sasaran bom, dan mahasiswa serta profesor kehilangan nyawa. Dua peraih Nobel dan ribuan akademisi telah bersuara. Pertanyaannya sekarang: apakah dunia akan mendengarkan atau kembali memalingkan muka?(Sail)