Ancaman Kosong Trump dan Erosi Kekuatan AS: Saat Dunia Berhenti Takut
-
Presiden AS Donald Trump
Pars Today - Donald Trump, Presiden Amerika Serikat kembali mengancam akan membombardir sebuah negara, kali ini Oman, negara yang berperan dalam dialog terkait Iran serta dalam perkembangan terkait lalu lintas di Selat Hormuz.
Melansir Pars Today, Rabu, 19 Agustus 2026, Trump mengatakan bahwa jika Oman menghalangi tindakan AS, ia akan membombardirnya dengan keras. Ancaman ini tidak dapat dianggap sekadar pernyataan biasa dalam kebijakan luar negeri AS. Ini adalah bagian dari pola di mana jumlah ancaman meningkat, tetapi jarak antara ancaman dan pelaksanaannya juga semakin besar.
Karena itu, tidaklah aneh jika Oman tidak menganggap serius ancaman Trump. Rekam jejak pemerintahan Trump terhadap berbagai negara menunjukkan bahwa ada jarak yang signifikan antara ancaman dan tindakan, jarak yang kini telah menjadi masalah strategis bagi Washington.
Trump berupaya menjadikan "ketidakpastian" sebagai alat untuk meningkatkan kekuatan AS. Namun, ketidakpastian, jika tanpa strategi yang jelas, secara bertahap berubah menjadi "ketidakandalan". Sekutu tidak tahu apa keputusan Washington berikutnya, dan para pesaing secara bertahap dapat membedakan ancaman mana yang dapat dieksekusi dan mana yang hanya dimaksudkan untuk menekan secara politik.
CNN melihat ruang lingkup krisis ini melampaui Iran. Di satu sisi, Oman menghadapi ancaman militer AS, dan di sisi lain, Korea Selatan juga berada di bawah tekanan Washington. Trump mengkritik Seoul karena menolak terlibat dalam perang terhadap Iran, dan pada saat yang sama mengambil sikap tentang latihan militer AS-Korsel yang mendekati beberapa tuntutan Korea Utara.
Kontradiksi ini dapat mengirimkan pesan berbahaya bagi sekutu AS. Washington mengharapkan dukungan dari mereka, tetapi mengirimkan pesan yang bertentangan tentang komitmen keamanannya sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, Trump melihat aliansi lebih seperti kontrak keuangan daripada sebelumnya. Sekutu harus membayar dan bergabung dalam misi yang diinginkan Washington. Pandangan ini mengubah aliansi dari aset strategis jangka panjang menjadi transaksi jangka pendek.
Richard Haass, mantan ketua Dewan Hubungan Luar Negeri AS, juga telah memperingatkan tentang tren yang sama. Ia menggambarkan klaim Trump tentang kepemilikan AS atas Selat Hormuz sebagai "bodoh" dan "merusak". Selama bertahun-tahun, AS telah menekankan sifat internasional dari jalur air ini, dan klaim semacam itu dapat bertentangan dengan tradisi kebijakan luar negeri Washington yang sudah lama berjalan.
Haass juga menganggap pemindahan sebagian kekuatan militer AS dari Asia Timur ke Asia Barat sebagai hal yang berbahaya. Dari sudut pandangnya, tindakan semacam itu meningkatkan kekhawatiran Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina, dan pada saat yang sama memberikan lebih banyak kesempatan bagi Tiongkok dan Korea Utara untuk memperluas pengaruh mereka.
Kekhawatiran ini bukan sekadar teoretis. Korea Utara terus mengembangkan program nuklir dan rudalnya, dan hubungan Pyongyang dengan Moskow serta Beijing semakin dalam. Rusia juga belum menerima rencana Trump untuk mengakhiri perang Ukraina, dan Tiongkok tidak mundur dalam persaingan ekonomi dan strategis dengan AS.
Akibatnya, masalah kebijakan luar negeri Trump bukan hanya banyaknya ancaman, masalah utamanya adalah kurangnya strategi yang koheren di balik ancaman-ancaman tersebut. Trump ingin mendapatkan konsesi dengan memberikan tekanan, tetapi tekanan yang berlebihan pada sekutu dapat menjauhkan mereka dari AS. Ancaman yang sering dilontarkan kepada para pesaing, ketika diulang-ulang tetapi tidak ditindaklanjuti, secara bertahap kehilangan efek deterensinya.
Saat ini, AS tidak serta-merta menghadapi kekurangan alat kekuasaan, krisis utamanya adalah erosi kredibilitas dalam penggunaan kekuasaan. Sekutu yang tidak mempercayai komitmen AS akan mencari alternatif, dan pesaing yang merasakan keraguan Washington akan menjadi lebih berani.
Dari Oman hingga Korea Selatan, gambaran yang sama sedang terbentuk: Trump ingin dunia takut pada kekuatan AS, tetapi kebijakan yang menggantikan strategi dengan ancaman dapat membuahkan hasil yang berlawanan.
Jika dunia sampai pada kesimpulan bahwa Washington lebih banyak mengancam daripada bertindak, biaya situasi ini bagi AS bisa lebih besar daripada kekalahan dalam operasi militer. Dalam politik global, erosi kekuatan yang sebenarnya dimulai ketika orang lain tidak lagi menganggap serius ancaman sebuah kekuatan besar.
"Tulisan ini mengkritik kebijakan luar negeri Trump yang ditandai oleh ancaman militer yang sering dilontarkan, terbaru terhadap Oman, tetapi tanpa strategi koheren atau tindakan nyata. Hal ini menciptakan erosi kredibilitas AS: sekutu tidak yakin dengan komitmen Washington, sementara lawan belajar membedakan ancaman mana yang dapat diabaikan."(Sail)