Media AS Akui Kegagalan Patriot dan THAAD di Saudi
https://parstoday.ir/id/news/world-i198572-media_as_akui_kegagalan_patriot_dan_thaad_di_saudi
Pars Today - Media Amerika Serikat mengakui kegagalan katastrofik lain dari sistem pertahanan buatan negara itu, termasuk "Patriot" dan "THAAD", di Arab Saudi.
(last modified 2026-10-14T04:28:47+00:00 )
Okt 14, 2026 10:59 Asia/Jakarta
  • Patriot
    Patriot

Pars Today - Media Amerika Serikat mengakui kegagalan katastrofik lain dari sistem pertahanan buatan negara itu, termasuk "Patriot" dan "THAAD", di Arab Saudi.

Menurut laporan IRNA mengutip situs berita Arab Journal, Rabu, 14 Oktober 2026, media Amerika Serikat pada hari Selasa (13/10) dalam laporan-laporan menyingkap kegagalan katastrofik lain dari sistem pertahanan udara Arab Saudi setelah kegagalan sistem Patriot PAC-3 dan THAAD dalam mencegat dan mencegah rudal balistik Yaman mengenai sasaran yang dituju di wilayah Arab Saudi.

Dalam laporan-laporan ini disebutkan bahwa kegagalan berulang ini akan menimpakan kesalahan kepada Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, yang merupakan negara-negara produsen dan pemasok sistem pertahanan ini.

Menurut laporan Associated Press, sebelumnya surat kabar Wall Street Journal mengutip pejabat Arab Saudi menulis bahwa cadangan rudal pencegat yang dibutuhkan negara itu untuk menghadapi serangan lebih lanjut semakin menipis dan negara ini memulai penyelidikan untuk menentukan penyebab kegagalan pertahanan udaranya.

Pengakuan media Amerika Serikat atas ketidakmampuan sistem pertahanan udara buatan Barat yang ditempatkan di Arab Saudi dilakukan setelah Angkatan Bersenjata Yaman dalam beberapa hari terakhir sebagai respons atas serangan udara Arab Saudi terhadap Yaman, dengan rudal dan drone menargetkan sasaran militer dan ekonomi di kedalaman wilayah Arab Saudi, dan sasaran-sasaran ini terkena rudal serta drone angkatan bersenjata Yaman secara tepat.

Dalam kaitan ini, media Arab Saudi pada Selasa malam melaporkan terdengarnya suara ledakan keras di utara Riyadh serta di Dhahran dekat gedung perusahaan Aramco.

Beberapa sumber Arab juga melaporkan terdengarnya suara beberapa ledakan dari Bandara King Khalid dan kilang minyak Riyadh.

Sumber-sumber resmi Arab Saudi hingga kini belum menerbitkan berita tentang jumlah korban atau besarnya kerusakan yang mungkin timbul akibat serangan-serangan ini.

Arab Saudi pada tahun 2015 dan setelah serangan militer ke Yaman melakukan blokade darat, udara, dan laut terhadap negara miskin itu, dan Amerika Serikat pada Oktober 2016 bergabung dengan blokade ini lalu mengklaim telah mundur dari keputusan tersebut.

Sanaa pada 5 Juli 2026, memutuskan untuk mematahkan blokade ini dan setelah itu Arab Saudi melakukan bombardir terhadap Bandara Sanaa yang menghadapi balasan tegas angkatan bersenjata, dan selanjutnya dengan melakukan operasi-operasi, sambil memukul mundur milisi Yaman yang didukung Arab Saudi, mereka berhasil memperoleh kemenangan besar termasuk menguasai kota pelabuhan dan bersejarah Al-Mokha serta wilayah penting, strategis, dan pesisir Kahboub di selatan negara itu.

Hal ini sangat meningkatkan kendali tentara Yaman atas selat strategis "Bab al-Mandab" sebagai salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.

Pasukan tentara Yaman juga merebut kembali sejumlah pulau strategis dari milisi yang didukung Arab Saudi, yang melengkapi penguasaan atas jalur air ini.

"Media Amerika Serikat mengakui kegagalan katastrofik lain dari sistem pertahanan buatan AS, termasuk Patriot dan THAAD, di Arab Saudi setelah kegagalan mencegat rudal balistik Yaman. Laporan menyebut kegagalan berulang ini menimpakan kesalahan kepada AS, Inggris, dan Prancis sebagai produsen dan pemasok. Wall Street Journal mengutip pejabat Saudi yang menyatakan cadangan rudal pencegat menipis dan penyelidikan telah dimulai. Pengakuan ini muncul setelah angkatan bersenjata Yaman menargetkan sasaran militer dan ekonomi di kedalaman Arab Saudi dengan rudal dan drone secara tepat."(Sail)