Manuver Militer SCO 2016
-
tank-tank Cina
Manufer militer negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) bersandi Peace Mission 2016, dimulai pada Kamis 15 September 2016 di Kyrgyzstan. Hadir dalam manuver ini, pasukan militer Cina, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Tajikistan dan Rusia.
Tujuan manuver militer ini adalah menciptakan koordinasi antara angkatan bersenjata negara-negara anggota SCO dan pelaksanaan operasi kolektif anti-terorisme, peningkatan kesiapan dalam kepemimpinan operasi, peningkatan kemampuan militer dan finansial antarnegara anggota dalam pemberantasan terorisme dan ekstrimisme, serta peningkatan pengalaman latihan bersama di wilayah pegunungan.
Koordinasi penting dan kesepakatan awal untuk pelaksanaan manuver itu dilakukan pada konferensi SCO tahun lalu di tingkat delegasi angkatan bersenjata Cina, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Tajikistan. Manuver ini digelar dua tahun sekali di negara-negara anggota SCO.
Titik balik dari manuver ini kembali pada manuver anti-terorisme negara-negara anggota SCO yang digelar pada akhir musim panas tahun 2014. Sebuah fase mendekati masa penarikan mundur pasukan NATO dari Afghanistan, dan negara-negara anggota SCO menggelar manuver terbesarnya.
Pada manuver yang digelar di wilayah Cina dan sebagian wilayah Mongolia, dikerahkan sebanyak 7.000 pasukan militer dari Cina, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Tajikistan. Ketika itu anggapan banyak negara anggota adalah bahwa keluarnya pasukan asing dari Afghanistan hingga akhir 2014 akan berdampak pada peningkatan aktivitas kelompok-kelompok teroris. Oleh karena itu, mereka mengambil langkah-langkah preventif untuk menyikapinya di sektor politik-militer.
Pada manuver 014, negara-negara anggota SCO mengerahkan berbagai unit darat dan udaranya serta mengujicoba berbagai sistem pertahanan udara dan perang elektronik. SCO berupaya mengokohkan pasukannya di wialyah pegunungan Kyrgyzstan dan adapun pelaksanaan manuver tersebut mengindikasikan keakuratan analisa lembaga ini dalam menyikapi transformasi kawasan.
Kenyataannya adalah bahwa sejak dibentuk, SCO berusaha menggiring kerjasama antaranggota di sektor militer dan keamanan menuju panggung politik dan ekonomi, bahkan kerjasama budaya dan hukum. Akan tetapi transformasi regional dalam beberapa tahun terakhir mengubah prioritas negara-negara anggota.
Pentingnya manuver ini adalah ketika para pejabat negara-negara SCO menekankan pengokohan posisi lembaga ini dalam transformasi regional dan global. Apalagi menurut mereka, menyusul semakin rumitnya kondisi dunia dan munculnya berbagai ancaman untuk stabilitas dan keamanan negara-negara, SCO perlu meningkatkan kerjasama kolektif di bidang militer dan keamanan.
Faktor di balik penekanan negara-negara anggota SCO untuk mengubah lembaga ini menjadi sebuah kekuatan untuk menandingi NATO, kembali pada eskalasi gejolak antara Rusia dan NATO, Amerika, serta Uni Eropa, terkait krisis di Ukraina.
Namun para pengamat politik menilai sikap SCO di hadapan politik Amerika Serikat di Asia lebih bersifat pasif. Oleh karena itu, manuver yang sedang berlangsung juga harus dilihat dari sudut pandang yang sama, mengingat provokasi dan politik AS di kawasan serta meluasnya aktivitas terorisme. (MZ)