Reaksi Rusia terhadap Ancaman Nuklir AS
https://parstoday.ir/id/news/world-i21889-reaksi_rusia_terhadap_ancaman_nuklir_as
Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan bernada keras pada Kamis, 29 September 2016 memperingatkan ancaman nuklir Amerika Serikat. Kemlu Rusia menyebut pernyataan Ashton Carter, Menteri Pertahanan AS pada Senin sebagai sebuah ancaman untuk melakukan serangan nuklir ke Rusia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 30, 2016 12:58 Asia/Jakarta
  • Reaksi Rusia terhadap Ancaman Nuklir AS

Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan bernada keras pada Kamis, 29 September 2016 memperingatkan ancaman nuklir Amerika Serikat. Kemlu Rusia menyebut pernyataan Ashton Carter, Menteri Pertahanan AS pada Senin sebagai sebuah ancaman untuk melakukan serangan nuklir ke Rusia.

Sebelumnya, Menhan AS menuding Rusia melakukan "perilaku ancaman nuklir." Carter mengatakan, setelah berakhirnya periode Perang Dingin hingga sekarang masih diperlukan senjata nuklir untuk mengatasi Rusia.

 

Carter pada Selasa juga mengumumkan bahwa AS tidak memiliki agenda untuk meninggalkan doktrin dan strategi "tanpa penggunaan pertama dari senjata nuklir." Artinya, doktrin yang membuka kemungkinan untuk meluncurkan "serangan pertama" sebelum serangan musuh akan tetap menjadi dasar dari kebijakan AS, bahkan negara ini akan memperkenalkan generasi baru dari senjata nuklirnya.

 

"Itu adalah doktrin kita sekarang dan kita tidak memiliki niat untuk mengubah doktrin tersebut," kata Carter dalam sesi tanya-jawab di Pangkalan Angkatan Udara Kirtland di New Mexico. Kemlu Rusia menganggap pernyataan Menhan AS ini sebagai deklarasi untuk mengurangi ambang batas pengunaan senjata nuklir.

 

Tampaknya, meskipun AS –sebagai salah satu kekuatan nuklir utama– mengklaim berupaya untuk mengurangi persenjataan nuklir di dunia, namun faktanya, negara ini melaksanakan program perluasan untuk modernisasi dan pengembangan lebih lanjut dari arsenal-arsenal nuklirnya.

 

Bob Work, Wakil Menhan AS pada Juni 2015 menegaskan bahwa sebuah kekuatan penangkal nuklir yang kuat masih diperlukan dan penting untuk keamaan nasional AS, dan ini adalah prioritas terpenting dari Kemenhan negara ini.

 

Menurut Rusia, meskipun ada langkah internasional untuk mengurangi persenjataan nuklir –terutama Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang telah disetujui untuk mengurangi dan pada akhirnya memusnahkan senjata nuklir– namun AS masih bertekad untuk mempertahankan arsenal-arsenal nuklirnya.

 

Langkah tersebut dilakukan AS dengan dalih adanya proses modernisasi nuklir di negara-negara saingan atau yang dimusuhinya seperti Rusia dan Cina, di mana keduanya, terutama Rusia mengalokasikan anggaran besar untuk memperbaiki kekuatan nuklir strategisnya.

 

Terkait hal itu, Rusia berencana hingga tahun 2020 akan memodernisasi lebih dari 70 persen persenjataan nuklir strategisnya.Namun AS dibandingkan dengan Rusia, telah mempertimbangkan program yang sangat luas untuk modernisasi nuklirnya.

 

Kantor Audit AS dalam laporan pada Agustus 2015 menyebutkan, program 25 tahun pemerintah AS untuk meng-upgrade persenjatan nuklir negara ini akan memakan biaya lebih dari 293 miliar dolar.

 

Meskipun ada upaya internasional untuk mengurangi persenjataan nuklir, namun kekuatan-kekuatan besar nuklir masih mengejar untuk modernisasi senjata-senjata nuklir mereka.

 

Lima negara yang diakui sebagai negara-negara nuklir seperti AS, Rusia, Cina, Perancis dan Inggris sedang menyebarkan dan memproduksi senjata dan sistem penghantar nuklir baru atau mereka sedang memutuskan untuk melakukannya.

 

Dengan demikian, tidak ada satu pun dari negara-negara tersebut yang secara serius berpikir untuk mengurangi persenjataan nuklirnya atau mengatur waktu tertentu untuk memusnahkan senjata pemusnah massal itu.

 

Pernyataan jelas Menhan AS tentang kelanjutan pengambilan strategi "serangan pertama nuklir" menunjukkan masih adanya momok serangan nuklir di dunia dan ancaman nyata terhadap negara-negara dunia khususnya kekuatan-kekuatan nuklir seperti Rusia dan Cina.

 

Menhan AS menjelaskan, kebijakan lama AS adalah memperluas "payung nuklirnya" ke negara-negara sahabat dan sekutu agar bisa membantu untuk mencegah konflik dan perang. Menurut pandangan Carter, AS dan sekutunya di NATO ingin menegaskan bahwa mereka mempertahankan hak serangan pre-emptive nuklir sebagai sebuah opsi taktis dan penting.

 

Yang pasti, AS secara terang-terangan mengancam negara-negara lain bahwa Pentagon mampu melakukan serangan pre-emptive dengan dalih mempertahankan keamanan nasional atau sekutunya.

 

Sementara itu, Rusia mengumumkan bahwa doktrin militer Rusia sekarang adalah penggunaan senjata nuklir untuk mencegah serangan-serangan yang dimaksudkan untuk menarget eksistensi negara ini. Cina juga mengumumkan bahwa negara ini tidak akan melakukan serangan pre-emptive nuklir, dan hanya ketika diserang, maka Beijing akan menggunakan senjata-senjata ini. (RA)