Protes PBB terhadap Perilaku Israel
https://parstoday.ir/id/news/world-i24427-protes_pbb_terhadap_perilaku_israel
Wakil Khusus PBB untuk Urusan Hak Asasi Manusia di Palestina mengatakan, Israel menciptakan hambatan terhadap aktivitas kemanusian kelompok-kelompok pembela HAM.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 29, 2016 15:55 Asia/Jakarta
  • Protes PBB terhadap Perilaku Israel

Wakil Khusus PBB untuk Urusan Hak Asasi Manusia di Palestina mengatakan, Israel menciptakan hambatan terhadap aktivitas kemanusian kelompok-kelompok pembela HAM.

Michael Lynk dalam pernyataannya pada Jumat (28/10/2016) menekankan pentingnya untuk menindaklanjuti langkah Tel Aviv yang melanggar HAM. Menurutnya, ia akan mengevaluasi perilaku rezim Zionis terhadap kelompok-kelompok pembela HAM di kawasan dalam laporan berikutnya.

 

Selama beberapa tahun terakhir, berbagai laporan mengenai perilaku tidak manusiawi dan kekerasan Israel terhadap kelompok-kelompok dan aktivis pembela HAM di Palestina pendudukan telah dipublikasikan.

 

Protes PBB terhadap perilaku kekerasan rezim Zionis dilakukan ketika lembaga dunia ini hingga sekarang belum pernah melakukan respon serius terhadap tindakan Israel yang telah melakukan pelanggaran luas terhadap HAM termasuk perilaku penghinaan terhadap perwakilan masyarakat internasional.

 

Perilaku buruk rezim Zionis terhadap kelompok-kelompok pendukung HAM dan komite pencari fakta PBB menunjukkan bahwa tidak ada dasar hukum apapun yang dipercaya oleh rezim anti-kemanusian dan penjajah al-Quds ini.

 

Kalangan hukum menilai langkah Tel Aviv yang  mencegah masuknya para Pelapor Khusus HAM PBB ke Palestina sebagai contoh nyata atas hakikat Israel yang anti-hukum.

 

Rezim Zionis tidak menyakini adanya batasan apapun dalam perilaku buruknya terhadap para aktivis internasional. Tindakan ini bisa dilihat dari berbagai tindakan sebelumnya yang sering dilakukan rezim penjajah tersebut. Contohnya adalah serangan terhadap kapal-kapal yang mengangkut para aktivis perdamaian dan kemanusiaan yang berusaha mematahkan blokade Jalur Gaza.

 

Pada tahun 2010, pasukan Angkata Laut rezim Zionis menyerang konvoi Freedom Flotilla yang terdiri dari enam kapal yang mengangkut 663 aktivis perdamaian dari 37 negara di perairan bebas internasional. Penyerbuan ini menyebabkan sembilan aktivis tewas dan 60 lainnya terluka.

 

Baru-baru ini, militer rezim Zionis Israel juga menghadang Kapal Zaytouna yang bergerak untuk mematahkan blokade Jalur Gaza pada 5 Oktober 2016. Para aktivis perempuan yang ada di dalam kapal tersebut juga digiring ke pelabuhan Ashdod.

 

13 aktivis perempuan, termasuk Mairead Maguire, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dari Irlandia Utara ditangkap setelah kapal mereka dihentikan pasukan Israel sekitar 35 mil laut di lepas pantai Gaza. Setelah ditangkap, mereka pun dideportasi. Tindakan buruk Israel terhadap mereka juga menuai protes PBB.

 

Kapal Zaytouna-Oliva yang mengangkut para aktivis perempuan dari berbagai negara berlayar dari Barcelona pada bulan September. Para aktivis tersebut berasal dari Aljazair, Swedia, Amerika, Australia, Malaysia, Norwegia, Rusia, Spanyol, Afrika Selatan, Swedia dan Inggris.

 

Menyusul ketakutan rezim Zionis atas kemungkinan terungkapnya berbagai kejahatannya di Palestina, rezim ini selalu menghalangi aktivitas Utusan Khusus PBB dan lembaga-lembaga lainnya yang berusaha masuk ke Palestina. Israel mencegah komite-komite pencari fakta internasional dan para Pelapor Khusus PBB untuk melaksankan tugasnya di Palestina.

 

Kejahatan Israel sedemikian jelas sehingga ketika setiap lembaga dan komite internasional melakukan penyelidikan, maka mereka  akan dengan mudah untuk memahami parahnya kejahatan tersebut sehingga mereka mengumumkan kebencian terhadap perilaku jahat Israel dalam laporan-laporannnya.

 

Namun keterlambatan masyarakat internasional dalam menangani perilaku buruk Israel terhadap para aktivis HAM merupakan sebuah kelemahan yang membawa konsekuensi tertentu termasuk membuat Israel semakin berani untuk melanjutkan pelecehannya terhadap para aktivis dan pendukung HAM. Selain itu, rezim Zionis yang memperoleh dukungan komprehensif Barat juga akan semakin tidak ragu untuk melanjutkan kejahatan-kejahatannya. (RA)