Kesepakatan Pertahanan Rusia-Kuba
https://parstoday.ir/id/news/world-i27817-kesepakatan_pertahanan_rusia_kuba
Rusia dan Kuba menandatangani kesepakatan kerjasama teknologi di sektor pertahanan sampai tahun 2020 pada Kamis (8/12/2016) malam. Dokumen itu diteken dalam pertemuan komisi antar-pemerintah di Havana oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin dan Wakil Dewan Menteri Kuba Ricardo Cabrisas Ruiz.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Des 09, 2016 16:57 Asia/Jakarta
  • Kesepakatan Pertahanan Rusia-Kuba

Rusia dan Kuba menandatangani kesepakatan kerjasama teknologi di sektor pertahanan sampai tahun 2020 pada Kamis (8/12/2016) malam. Dokumen itu diteken dalam pertemuan komisi antar-pemerintah di Havana oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin dan Wakil Dewan Menteri Kuba Ricardo Cabrisas Ruiz.

Penandatanganan kesepakatan itu sejalan dengan tujuan makro Rusia untuk memperluas pengaruhnya di tingkat internasional dan memainkan peran sebagai sebuah kekuatan dunia.

Rusia tampaknya akan segera menghidupkan kembali bekas pangkalan militernya di Kuba yaitu pangkalan Lourdes. Para pemimpin Kremlin berkesimpulan bahwa Rusia untuk menjaga keamanan nasional dan memainkan peran efektif dalam transformasi internasional, harus tampil sebagai sebuah kekuatan dunia dan tidak lagi membatasi dirinya sebagai pemain regional.

Sejalan dengan itu, Rusia sekarang ingin menambah jumlah pangkalan militernya di Suriah dan juga berupaya menghidupkan kembali basis militernya di daerah-daerah strategis dunia. Hal ini tentu saja berbeda dengan kebijakan pemerintah Boris Yeltsin pada dekade 1990, yang memutuskan penutupan pangkalan militer Rusia di luar negeri akibat krisis finansial dan perubahan pendekatan strategis Kremlin.

Dengan melihat doktrin keamanan nasional Federasi Rusia dan juga doktrin maritim mereka, Rusia – sebagai kekuatan dunia yang berpengaruh dalam perimbangan global – harus memiliki pangkalan militer di daerah-daerah strategis dunia khususnya di Asia-Pasifik, Amerika Latin, dan Timur Tengah.

Dalam hal ini, Rusia telah membuat sebuah terobosan dengan menempatkan tentaranya secara permanen di Pangkalan Udara Hmeimim, di Provinsi Latakia, Suriah. Pada Oktober lalu, Presiden Vladimir Putin meratifikasi kesepakatan dengan pemerintah Suriah, yang memungkinkan Rusia untuk menggunakan Pangkalan Hmeimim tanpa batas.

Deputi Menteri Pertahanan Rusia Nikolay Pankov, mengatakan bahwa Moskow sedang mempelajari proposal tentang kehadiran militer di Vietnam dan Kuba, di mana Rusia sebelumnya memiliki pangkalan di sana.

Menurut Pankov, Kementerian Pertahanan Rusia saat ini sedang meninjau ulang keputusan-keputusan di masa lalu tentang penutupan pangkalan militernya di beberapa negara.

Sejumlah indikasi menunjukkan bahwa setelah Damaskus, sekarang giliran Havana untuk membantu Moskow agar memungkinkan pembukaan kembali pangkalan Lourdes di Kuba dalam kerangka kesepakatan militer. Di masa Perang Dingin, pangkalan Lourdes digunakan sebagai markas intelijen oleh Rusia mengingat letaknya yang dekat dengan wilayah Amerika.

Saat ini Kuba menjalin hubungan yang dekat dengan Rusia dan kedua pihak bekerjasama di berbagai bidang. Presiden Putin baru-baru ini juga menekankan perluasan hubungan strategis Moskow-Havana. Ia mengakui peran penting mendiang Fidel Castro dalam membangun hubungan persahabatan dan keterlibatan strategis antara Rusia dan Kuba. (RM)