Menlu Baru AS dan Friksi Gedung Putih-Trump
https://parstoday.ir/id/news/world-i28141-menlu_baru_as_dan_friksi_gedung_putih_trump
Tim transisi pemerintahan baru Amerika Serikat menyatakan, presiden terpilih Donald Trump menunjuk Rex Tillerson, CEO perusahaan ExxonMobil sebagai menteri luar negeri di kabinetnya mendatang. Mereaksi pilihan Trump tersebut, Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menilai Tillerson sebagai sosok profesional untuk menempati posisi kemenlu Amerika.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Des 13, 2016 13:54 Asia/Jakarta
  • Menlu Baru AS dan Friksi Gedung Putih-Trump

Tim transisi pemerintahan baru Amerika Serikat menyatakan, presiden terpilih Donald Trump menunjuk Rex Tillerson, CEO perusahaan ExxonMobil sebagai menteri luar negeri di kabinetnya mendatang. Mereaksi pilihan Trump tersebut, Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menilai Tillerson sebagai sosok profesional untuk menempati posisi kemenlu Amerika.

Menurutnya, Tillerson selama menjabat sebagai direktur salah satu perusahaan minyak raksasa dunia memiliki hubungan dengan Rusia dan dengan baik ia menjalankan tanggung jawabnya secara profesional.

 

Sepertinya dengan penunjukan Tillerson sebagai menteri luar negeri baru Amerika, isu saat ini di hubungan Amerika dan Rusia semakin bertambah. Pejabat Amerika khawatir hubungan dekat Tillerson dengan Rusia. Di sisi lain, kubu pro Tillerson menekankan pengalaman dan inovasinya di bidang dialog internasional serta mereka menilai salah satu keunggulan kandidat menlu ini adalah perundingan kesepakatan internasional.

 

Sebaliknya kubu anti Tillerson mengaku khawatir jika menlu baru ini lebih condong terhadap kepentingan dagang dan kubunya ketimbang kepentingan nasional mengingat hubungan dekatnya dengan Rusia dalam kapasitasnya sebagai CEO Exxonmobil dan kedekatan pribadinya dengan Presiden Vladimir Putin.

 

Sementara itu, sampai kini salah satu isu yang masih panas dan mencuat terkait pemilu presiden Amerika adalah klaim intervensi Rusia di pemilu ini untuk mempengaruhi hasilnya dengan menciptkan atmosfer negatif terhadap Hillary Clinton serta iklim yang menguntungkan Trump.

 

Dalam hal ini, Gedung Putih hari Senin mengkritik penolakan Trump atas dokumen yang menunjukkan intervensi Rusia di pilpres Amerika. Menurut Josh Earnest, juru bicara Gedung Putih, Trump secara pribadi mengundang Rusia untuk melancarkans erangan siber dan hack terhadap rivalnya. Meski demikian dalam kasus ini tidak ada kesepakatan antara Gedung Putih dan Kongres.

 

John McCain, pemimpin kubu Republik menyatakan, tidak ada dokumen yang menunjukkan serangan siber Rusia ke instansi politik Amerika ditujukan untuk mempengaruhi hasil pemilu presiden Amerika di tahun 2016. Selain itu, pejabat Biro Investigasi Federal (FBI) dan  Dinas Intelijen AS (CIA) di sidang mereka dengan anggota Kongres terkait klaim intervensi Rusia di pilpres negara ini yang menguntungkan Trump memiliki sikap beragam.

 

Menurut anggota Kongres yang hadiri di persidangan ini, FBI menuntut hakikat dan bukti nyata untuk membuktikan dakwaan intervensi Rusia di pemilu presiden Amerika terbaru, di mana bukti ini dapat dijadikan pijakan di pengadilan. Adapun CIA cenderung menyimpulkan dari perilaku. Hasilnya dalah, berdasarkan pandangan FBI, hingga kini belum ada bukti nyata dan kuat yang dapat membuktikan campur tangan Rusia di pilpres Amerika.

 

Menurut pandangan CIA, kinerja Rusia terhadap kandidat presiden dan dukungan nyata terhadap Trump serta terungkapknya peran hacker Rusia di serangan siber ke pusat Partai Demokrat atau pencurian email Hillary Clinton serta penyebarannya oleh Wikileaks menunjukkan upaya nyata Moskow untuk mempengaruhi pilpres Amerika Serikat.

 

Secara keseluruhan harus dikatakan bahwa meski hubungan Amerika dan Rusia kini mengalami masa penuh ketegangan, namun penunjukan sosok seperti Tillerson oleh Trump sebagai kandidat menteri luar negeri baru sama halnya dengan lampu hijau kepada Kremlin terkait minat presiden baru Amerika untuk merevisi kembali hubungan kedua negara dan bahkan menggalang kerjasama di sektor yang diminati kedua pihak. (MF)