Kekhawatiran PBB atas Resesi Ekonomi di Negara Sedang Berkembang
https://parstoday.ir/id/news/world-i31258-kekhawatiran_pbb_atas_resesi_ekonomi_di_negara_sedang_berkembang
Menyusul eskalasi resesi dan pengangguran akibat kendala ekonomi di mayoritas negara dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di laporannya menyebutkan, perekonomian global gagal memulihkan laju ekonominya seperti masa lalu akibat investasi terbatas, pertukaran perdagangan yang tidak terlalu kuat dan lemahnya laju efesiensi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jan 18, 2017 17:01 Asia/Jakarta
  • Kekhawatiran PBB atas Resesi Ekonomi di Negara Sedang Berkembang

Menyusul eskalasi resesi dan pengangguran akibat kendala ekonomi di mayoritas negara dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di laporannya menyebutkan, perekonomian global gagal memulihkan laju ekonominya seperti masa lalu akibat investasi terbatas, pertukaran perdagangan yang tidak terlalu kuat dan lemahnya laju efesiensi.

Masih menurut laporan PBB dengan tema “Kondisi dan Perspektif Ekonomi Global di tahun 2017”, perekonomian global di tahun 2016 mengalami laju yang cukup lemah sebesar 2,2 persen. Angka ini termasuk paling bawah semenjak resesi ekonomi besar di tahun 2009.

 

Laporan ini memprediksikan bahwa laju produk domestik bruto neagra-negara tertinggal (miskin) di tahun baru masih di bawah tujuh persen menurut tujuan pembangunan berkesinambungan. Laporan ini juga menyebutkan, mengingat jalur yang ditempuh laju ekonomi global saat ini, dan dengan asumsi ketidamerataan pendapatan masih terus berlanjut, hamir 35 persen populasi negara-negara tertinggal hingga tahun 2030 masih tetap dalam kondisi sangat miskin.

 

Laporan ini dirilis di saat krisis ekonomi, kemiskinan dan pengangguran masih sangat transparan di berbagai negara dunia, khususnya di negara-negara Afrika serta sejumlah negara Asia.

 

Meski mayoritas negara di dua benua ini termasuk kekuatan ekonomi baru dan memiliki masa depan cerah, namun anjloknya harga minyak, menurunya investasi asing, perubahan iklim, isu stabilitas dan instabilitas bukan saja mencegah terealisinya laju ekonomi yang diprediksikan, bahkan kini berbagai negara ini tengah dilanda kekhawatiran mengenai ketahanan pangan dan tragedi kelaparan.

 

Perubahan iklim sangat berpengaruh pada negara-negara Eropa yang perekonomiannya bertumpu pada sektor pertanian. Perubahan iklim ini pasalnya menimbulkan banjir dan kekeringan. Dengan rusaknya produksi pertanian, yang muncul adalah kemiskinan, kelangkaan pangan dan pengangguran.

 

Sementara anjloknya harga minyak juga menurunkan secara drastis pendapatan negara produsen minyak di benua Afrika termasuk Nigeria. Mayoritas negara ini kini menghadapi kondisi sulit ekonomi. Inflasi, pengangguran dan kemiskinan di mayoritas negara Afrika semakin meningkat.

 

Instabilitas politik, perang dan bentrokan serta tidak adanya daya tarik bagi investasi asing, pembangunan infrsturktur dan dari sisi lain, meningkatnya anggaran militer dan pembelian senjata kian menambah kesulitan dan beban bagi negara-negara tersebut.

 

Berdasarkan laporan ini, kondisi ekonomi di berbagai negara lain di dunia juga tidak bagus, namun ancaman besar masih membayangi negara-negara sedang berkembang.

 

Negara-negara sedang berkembang berdasarkan fasilitas dan infrastruktur yang dimiliknya mulai mengorganisir krisis ekonomi dan tetap mempertahankan kondisi saat ini. Namun warga negara sedang berkembang akan menjadi korban. Padahal dengan melemahnya ekonomi dan semakin buruknya kondisi pekerjaan serta penghasilan, dimensi sosial dan politik juga terpengaruh dan akan menambah tingkat protes rakyat. Sementara di sisi lain, daya tarik bagi kelompok teroris dan aktivitas mereka di negara-negara ini juga bertambah.

 

Bertambahnya mafia penyelundupan di negara-negara ini, arus imigrasi gelap menuju negara lain bahkan dengan taruhan nyawa di Mideterania termasuk dampak dari buruknya kondisi ekonomi.

 

Di laporan PBB disebutkan untuk mengalami laju ekonomi global membutuhkan pengokohan dan bantuan seluruh negara. Oleh karena itu, sepertinya bantuan dan interaksi timbal balik antar negara kuat dan lemah dengan mempertahankan prinsip keadilan dan kesetaraan mampu membantu untuk melewati kondisi sulit ini di mana perealisasian tujuan milenium seperti pemberantasan kemiskinan, pengokohan ketahanan pangan dan pemulihan kondisi kehidupan juga semakin mungkin dilaksanakan.

 

Selain itu, jangan dilupakan bahwa pemberantasan kemiskinan, peningkatan kondisi kesehatan, pengembangan pendidikan dan pengokohan ketahanan pangan di dunia menjadi prioritas tujuan baru pembangunan berkesinambungan demi menciptakan masyarakat yang tenang dan kehidupan lebih baik. (MF)