Kontak Pertama Putin-Trump Pasca Serangan Rudal
https://parstoday.ir/id/news/world-i37028-kontak_pertama_putin_trump_pasca_serangan_rudal
Presiden Rusia dan Amerika Serikat pada hari Selasa (2/5/2017), membahas gencatan senjata Suriah dalam pembicaraan pertama sejak serangan udara AS ke negara Arab itu.
(last modified 2026-04-05T23:44:38+00:00 )
May 03, 2017 09:55 Asia/Jakarta

Presiden Rusia dan Amerika Serikat pada hari Selasa (2/5/2017), membahas gencatan senjata Suriah dalam pembicaraan pertama sejak serangan udara AS ke negara Arab itu.

Setelah pembicaraan telepon antara Presiden Vladimir Putin dan Donald Trump, Istana Kremlin dalam sebuah pernyataan mengumumkan, kedua pemimpin sepakat untuk bertemu pada bulan Juli dan bekerja sama untuk memperkuat gencatan senjata yang rapuh di Suriah.

Kremlin menambahkan bahwa Putin dan Trump juga menekankan koordinasi mereka untuk memerangi terorisme internasional.

Kedua pemimpin tersebut berbicara melalui telepon untuk pertama kalinya sejak hubungan Moskow-Washington memanas pasca serangan rudal AS ke pangkalan udara Shayrat, Suriah. Serangan tanpa otorisasi PBB ini menewaskan hampir 10 orang di Suriah.

Pasca agresi sepihak itu, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan kedua negara AS dan Rusia berada dalam jarak satu inci untuk konfrontasi militer.

Pemerintah AS kemudian mengutus Menlu Rex Tillerson ke Moskow untuk mengurangi potensi bentrokan militer dengan Rusia dan penerapan tekanan politik. Tillerson sebelum tiba di Moskow menegaskan Rusia harus memilih salah satu antara Barat dan Suriah.

Namun, Rusia menolak permintaan tersebut dan tetap mempertahankan dukungannya kepada pemerintah sah Suriah. Untuk menegaskan hal itu, perwakilan Rusia di PBB memveto draft resolusi di Dewan Keamanan yang digagas oleh AS, Inggris, dan Perancis untuk mengecam pemerintah Suriah.

Moskow ingin mengirim sebuah pesan yang jelas kepada Washington bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan politik dan propaganda Barat yang disutradarai AS. Pemerintah Rusia tidak akan mengubah pendiriannya terkait perkembangan di Asia Barat khususnya Suriah.

Selain itu, serangan rudal AS ke Suriah tidak menciptakan perubahan apapun dalam perimbangan politik-militer Rusia. Padahal, para pejabat Barat percaya bahwa serangan rudal AS akan mengubah perimbangan kekuatan yang merugikan pemerintah Suriah dan sekutunya termasuk Rusia, dan pada akhirnya Moskow akan meninggalkan Presiden Bashar al-Assad.

Jet-jet tempur Suriah bahkan kembali mengudara dari pangkalan udara Shayrat di Provinsi Homs, satu hari setelah AS menggempur pangkalan itu dengan rudal jelajah Tomahawk. Pasukan militer Suriah terus bergerak maju dan memukul mundur kelompok-kelompok teroris dan pemberontak bersenjata di sejumlah daerah.

Rusia juga memilih memperkuat keterlibatan politik-militernya di Suriah, sementara perpecahan di tengah koalisi Barat-Arab kian melebar. Dalam situasi seperti ini, AS berniat kembali menghormati proses politik untuk menyelesaikan krisis Suriah dan mencoba meredam ketegangan dengan Rusia.

Namun, masih ada keraguan serius tentang itikad baik AS dalam menyikapi krisis Suriah. Selama enam tahun lalu, Gedung Putih berkali-kali menekankan pentingnya menegakkan gencatan senjata di Suriah dan memecahkan krisis lewat jalur politik.

Tapi, AS terus menyediakan dukungan kepada kelompok pemberontak dan teroris yang beroperasi di Suriah. Hal ini tentu bertentangan dengan kebijakan yang diumumkan oleh Gedung Putih. (RM)