Di balik Teror terhadap Muslim Syiah di Filipina
Kepala kepolisian Filipina mengumumkan, target dua ledakan teror di kota Manila, ibukota negara itu yang menewaskan dua orang, diduga adalah Imam Shalat warga Muslim Syiah.
Oscar Albayalde, Kepala Inspektur kepolisian Filipina mengatakan, terbuka kemungkinan target serangan bom di Manila adalah Nasser Abinal, Imam Shalat Muslim Syiah Filipina. Menurut keterangan sumber media, dalam ledakan itu dua orang tewas dan enam lainnya terluka.
Bom pertama diletakkan dalam sebuah paket yang dikirimkan oleh orang suruhan kepada asisten Nasser Abinal, dan menewaskan kedua orang itu.
Kepala kepolisian Filipina mengatakan, ledakan bom itu tidak ada kaitannya dengan terorisme dan tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ledakan tersebut dilakukan oleh kelompok teroris di Filipina atau dari luar neger ini. Namun demikian kelompok teroris Daesh mengaku bertanggung jawab atas serangan bom itu.
Mereaksi pernyataan Daesh itu, Albayalde mengatakan, kelompok teroris Daesh yang juga menyerang Syiah di negara-negara lain, sudah terbiasa mengaku bertanggung jawab atas serangan semacam ini.
Di saat isu meluasnya pengaruh Daesh di Filipina dan di beberapa negara Asia Tenggara lainnya tengah mencuat, dan menjadi perhatian serius pemerintah Manila, bantahan yang diberikan Kepala kepolisian Filipina terkait keterlibatan Daesh dalam dua ledakan bom di ibukota negara itu dan pada saat yang sama pengakuan bertanggung jawab Daesh, perlu diamati dengan seksama.
Terbuka kemungkinan bahwa sikap semacam itu sengaja diambil Kepala kepolisian Filipina dengan maksud mencegah merebaknya ketakutan di tengah masyarakat akibat meluasnya pengaruh kelompok teroris Daesh di negara itu.
Akan tetapi poin yang penting untuk diperhatikan adalah dua ledakan di Manila yang dianggap tidak terkait dengan terorisme meski diakui oleh kelompok teroris Daesh, menargetkan Imam Shalat Muslim Syiah di ibukota Filipina.
Isu anti-Syiah di kawasan Asia Tenggara yang juga merupakan agenda politik Arab Saudi, dimulai dari Malaysia. Serangan terbaru terhadap Imam Shalat Muslim Syiah di Manila menunjukkan adanya jejak kebijakan anti-Syiah yang digerakkan oleh jaringan Wahabi dukungan Riyadh di negara-negara itu.
Para pengamat politik meyakini, dalam kerangka kebijakan terarah yang di baliknya diselipkan ide penyebarluasan pemikiran Wahabi di Asia Tenggara itu, teror terhadap tokoh-tokoh terkemuka Muslim Syiah di wilayah itu yang merupakan dampak penyebarluasan kekerasan dan sektarianisme, juga merupakan agenda Daesh sebagai mesin eksekutor kebijakan tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah laporan mengabarkan aksi Daesh untuk menempatkan pasukan di wilayah Selatan Filipina. Langkah Daesh itu memunculkan dugaan bahwa kelompok teroris ini memang menjadikan para tokoh Syiah Filipina sebagai target utamanya.
Di sisi lain, mengingat pengaruh Daesh yang terus meluas di Filipina, pemerintah negara itu percaya, jika mereka memberikan pengakuan di media, maka mungkin saja Filipina akan dikenal sebagai negara tidak aman di tengah masyarakatnya sendiri dan negara-negara kawasan.
Terutama karena Manila juga berhadapan dengan kelompok-kelompok teroris lain seperti Abu Sayyaf yang sudah terlebih dahulu menyatakan baiat kepada Daesh. Hal tersebut dinilai dapat meningkatkan kekhawatiran masyarakat Filipina terkait kemungkinan semakin bertambah kuatnya kelompok teroris di negara mereka dan aksi-aksinya menciptakan instabilitas. (HS)