Ketidakpuasan Jerman Atas Kontrak Senjata AS-Saudi
https://parstoday.ir/id/news/world-i38514-ketidakpuasan_jerman_atas_kontrak_senjata_as_saudi
Sigmar Gabriel, Menteri Luar Negeri Jerman pada Senin (30/5/2017) menilai kontrak senjata dengan Arab Saudi merupakan jalan keliru yang ditempuh Amerika Serikat. Dalam sebuah konferensi pers di Berlin, seraya mengkritik penandatanganan kontrak senjata, Gabriel menegaskan bahwa apa yang kita perlukan saat ini adalah inisiatif perlucutan senjata serta kontrol dan pengawasan persenjataan dunia.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
May 30, 2017 10:13 Asia/Jakarta

Sigmar Gabriel, Menteri Luar Negeri Jerman pada Senin (30/5/2017) menilai kontrak senjata dengan Arab Saudi merupakan jalan keliru yang ditempuh Amerika Serikat. Dalam sebuah konferensi pers di Berlin, seraya mengkritik penandatanganan kontrak senjata, Gabriel menegaskan bahwa apa yang kita perlukan saat ini adalah inisiatif perlucutan senjata serta kontrol dan pengawasan persenjataan dunia.

Gabriel menjelaskan bahwa terdapat cukup senjata di kawasan Asia Barat seraya menambahkan, kunjungan perdana Presiden AS ke Arab Saudi yang berujung pada penandatanganan kontrak senjata besar, menunjukkan bahwa jalur yang ditempuh sangat menyimpang.

Dalam kunjungan perdananya ke Arab Saudi, Presiden AS Donald Trump membungkus kesepakatan senilai 380 miliar dolar dengan Riyadh, di mana 110 di antaranya adalah penjualan senjata kepada rezim A-Saud. Trump menilai kunjungannya ini sebagai sebuah "keberhasilan luar biasa".

Pada hakikatnya Trump sedang menjanjikan warga Amerika Serikat pemulihan kondisi ekonomi, lapangan kerja dan sektor industri negara mereka. Trump berhasil menjadikan rezim Al-Saud bak "sapi perah" untuk meraup ratusan miliar dolar darinya.

Trump dalam cuitannya di Twitter pasca kunjungan tersebut secara terang-terangan mengatakan bahwa ratusan miliar dolar telah berhasil dibawa dari Timur Tengah menuju Amerika Serikat yang berarti, kerja, kerja dan kerja. Dengan demikian esensi profitisme kunjungan Trump sangat jelas sekali.

Akan tetapi, poin yang dilupakan Trump adalah bahwa tertimbunnya senjata di negara-negara regional hanya akan menyulut persaingan senjata dan juga peningkatan potensi munculnya gejolak dan kontak militer. Poin inilah yang ditekankan oleh Menlu Jerman, sebagai seorang politisi sayap kiri dan pejabat senior Partai Sosial Demokrat Jerman.

Kritikan Menlu Jerman terhadap politik AS di Timur Tengah itu sekaligus mengindikasikan eskalasi friksi antara Berlin dan Washington, khususnya pasca dua KTT NATO di Brussel dan G7 di Sicilia, Italia.

Trump mengritik keras Jerman dalam hubungan perdagangan kedua negara, tidak ada komitmen finansial Jerman kepada NATO dan juga perselisihan pendapat Kanselir Jerman, Angela Merkel dengan Trump terkait kesepakatan perubahan iklim Paris.

Jerman saat ini tampil sebagai pengkritik utama politik pemerintah baru Amerika Serikat baik terkait Eropa atau masalah-masalah global lain. Namun di balik politik kritik Jerman, Berlin juga masih menyisakan pertanyaan belum terjawab di bidang yang sama. Mengapa Berlin tetap mempertahankan hubungan dan kerjasama militer dan persenjataannya dengan rezim Riyadh yang memiliki rapor buruk hak asasi manusia di dalam negeri maupun di Yaman?  

Bahkan Jerman dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan di mana pasukan Saudi akan menerima pelatihan dari militer Jerman dalam membangun infrastruktur militer kolektif. Di sisi lain, polisi federal Jerman akan memberikan pelatihan kepada polisi perbatasan dan pasukan keamanan Saudi.

Tidak hanya itu, Jerman juga merupakan penyuplai senjata Arab Saudi dan pada tahun 2016 telah menjual senjata senilai setengah juta euro kepada Riyadh. Tidak ketinggalan Jerman menjual senjata kepada sekutu Saudi dalam perang Yaman, dan pada April 2017, Berlin menandatangani kesepakatan lebih dari 134 juta dolar untuk penjualan senjata kepada Uni Emirat Arab.  

Ini berarti, Jerman tidak berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya, yang memainkan politik standar ganda di hadapan politik brutal Arab Saudi. Masalah ini menunjukkan bahwa bagi Barat, termasuk Jerman, yang terpenting adalah kepentingan finansial dan ekonomi mereka ketika berhadapan dengan negara seperti Arab Saudi.(MZ)