Keputusan Jerman Tarik Pasukan dari Turki
https://parstoday.ir/id/news/world-i39120-keputusan_jerman_tarik_pasukan_dari_turki
Pembicaraan Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel dengan para pejabat Turki soal rencana kunjungan delegasi parlemen Jerman ke pangkalan udara Incirlik, Turki gagal mencapai hasil.
(last modified 2026-04-28T13:34:36+00:00 )
Jun 08, 2017 12:40 Asia/Jakarta

Pembicaraan Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel dengan para pejabat Turki soal rencana kunjungan delegasi parlemen Jerman ke pangkalan udara Incirlik, Turki gagal mencapai hasil.

Merespon perkembangan itu, kabinet Jerman pada hari Rabu (7/6/2017) merestui pemindahan sekitar 250 tentara Jerman dari Turki ke salah satu negara di Timur Tengah. Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, pasukan Jerman akan dipindahkan ke pangkalan udara Azraq, Yordania.

Sigmar Gabriel sebelum ini mengatakan bahwa sikap keras Turki membuat Jerman tidak punya pilihan lain kecuali menarik pasukannya dari pangkalan Incirlik.

Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen, mengakui posisi strategis pangkalan Incirlik untuk mendukung misi pasukan Jerman di bawah koalisi internasional anti-Daesh, tapi ia mengatakan Berlin tidak bisa menerima jika para wakilnya tidak dapat bertemu dengan tentara Jerman di pangkalan tersebut.

Sekitar 250 tentara Jerman bersama jet-jet tempur Tornado dan sebuah pesawat tanker ditempatkan di Incirlik untuk kegiatan operasi intelijen di Suriah.

Keputusan pemerintah Jerman untuk keluar dari pangkalan Incirlik dapat dianggap sebagai sebuah reaksi tegas Berlin terhadap sikap keras Ankara. Dengan langkah ini, posisi Yordania juga akan naik di tengah koalisi internasional anti-Daesh.

Penolakan Ankara terhadap kunjungan delegasi parlemen Jerman ke Incirlik sebenarnya merupakan aksi balas dendam atas sikap Berlin dalam menyikapi pergolakan politik di Turki. Para pejabat Ankara bahkan tidak peduli dengan ancaman Uni Eropa dan Jerman untuk mengurangi level hubungan mereka dengan Turki.

Di pihak lain, Jerman juga ingin menunjukkan sikapnya bahwa ia tidak akan tunduk pada tuntutan Turki. Sikap Turki yang tidak ramah telah mengundang kemarahan para pejabat tinggi Jerman dan kian memperuncing ketegangan kedua negara. Uni Eropa juga mulai bersikap dingin terhadap Turki dan muncul penentangan terhadap keanggotaan negara itu di blok Eropa.

Hubungan antara Berlin dan Ankara memanas terkait sejumlah isu termasuk larangan kampanye referendum konstitusi Turki di Jerman. Konflik Berlin-Ankara diperparah oleh ketegangan hubungan Uni Eropa dengan Turki selama satu tahun terakhir.

Sebenarnya, ada dua isu yang memperburuk hubungan Uni Eropa dan Turki, dan kemudian memicu ketegangan lebih lanjut antara Berlin dan Ankara. Pertama, Ankara mengkritik keras sikap dingin Eropa termasuk Jerman dalam merespon kudeta gagal di Turki pada 15 Juli 2016. Dan kedua, referendum konstitusi Turki pada April 2017 mengundang cibiran dari blok Eropa dan para pejabat tinggi mereka terutama Kanselir Jerman.

Jerman memandang referendum itu sebagai sebuah kemunduran besar di Turki. Berlin bahkan menghalangi kunjungan para pejabat tinggi Turki ke Jerman untuk kampanye menggalang dukungan bagi referendum.

Partai Sosial Demokrat dan Partai Uni Demokrat Kristen di Jerman mengancam akan mengeluarkan Turki dari Dewan Eropa jika negara itu kembali memberlakukan eksekusi mati. Oleh karena itu, hubungan Jerman dan Turki sekarang berada pada situasi yang sangat buruk. (RM)