Penutupan KTT G20 di Hamburg
Konferensi Tingkat Tinggi Tahunan G20 diselenggarakan di kota Hamburg, Jerman diselenggarakan di tengah kemarahan puluhan ribu orang penentang kebijakan negara-negara besar terkait sejumlah isu mulai dari Kesepakatan Iklim Paris hingga kebijakan perdagangan dan ekonomi.
Apa yang terjadi di sela-sela KTT G20 ini lebih menonjol ketimbang konferensi itu sendiri. Perilaku tidak biasa Trump dan keluarganya ditambah kebijakannya dalam banyak hal seperti keluar dari Perjanjian Iklim Paris dan kebijakan Proteksionisme produk-produk Amerika menyebabkan Presiden Amerika berada di tengah pusaran kririkan baik di KTT G20 atau di jalan-jalan Hamburg. Angela Merkel, Kanselir Jerman dan tuan rumah konferensi dua hari G20 menyebut perundingan yang dilakukan "sangat sulit".
Di sisi lain, kota Hamburg yang biasanya tenang selama dua hari ini menyaksikan aksi kekerasan di jalanan oleh puluhan ribu orang dari pelbagai pemikiran dan organisasi. Protes yang dilakukan sedemikian hebatnya, sehingga Melania, istri Presiden Amerika terpaksa hanya bisa tinggal di hotel. Agenda pidato Wolfgang Schaeuble, Menteri Ekonomi Jerman pun terpaksa dibatalkan dengan alasan yang sama. Penyelenggara protes meyakini kelompok G20 mendukung sistem yang membuat ketidakadilan sosial mencapai puncaknya.
Dengan dimulainya krisis ekonomi yang melilit banyak negara Eropa dan Amerika dari tahun 2008, kebanyakan generasi muda Barat tidak punya keberuntungan seperti orang tuanya untuk membentuk kehidupan yang baik. Akhirnya mereka bergabung dengan gerakan anti Kapitalisme. Krisis di Amerika, Yunani, Portugal dan negara-negara lain di selatan Eropa menyebabkan anak-anak muda melihat Kapitalisme sebagai struktur yang bangkrut dan kini mereka mencari sistem alternatif penggantinya.
Di sini, para pendukung dan pembela lingkungan hidup ikut bergabung dengan gerakan anti Kapitalisme. Mereka meyakini bahwa globalisasi ekonomi dan perluasan perusahaan-perusahaan multinasional di dunia bukan hanya tidak membantu perjuangan melawan perubahan iklim, tapi justru menjadi faktor polusi udara dan pemanasan global. Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa mayoritas pendukung dan pembela linkungan hidup berada bersama gerakan kiri dan anti Kapitalisme.
Satu dari isu-isu utama dalam perundingan kepala-kepala negara G20 dan menjadi statemen KTT Hamburg adalah Perjanjian Ikllim Paris. Pernyataan Donald Trump bahwa Amerika keluar dari Perjanjian Iklim Paris membuat pelaksanaan perjanjian mengalami masalah serius. Perjanjian Iklim Paris ditandatangani di Paris pada 2015 setelah bertahun-tahun upaya dan beberapa kali perundingan gagal menyelesaikan perbedaan pendapat Cina dan Amerika sebagai dua negara penyumbang polusi dan penyebaran emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Dalam statemen terakhir KTT G20 Hamburg disebutkan bahwa Kesepakatan Iklim Paris tidak dapat dibatalkan dan menyatakan negara-negara anggota G20 akan tetap komitmen dengan kesepakatan ini.
Dalam KTT G20 juga dibahas sejumlah isu penting lainnya dan disinggung dalam statemen terakhir konferensi terkait perang melawan terorisme. Kepala-kepala negara kelompok G20 menyatakan akan mendukung perang melawan kelompok teroris dan menutup sumber-sumber pendanaan mereka. Masalah ini juga telah disebutkan dalam konferensi lainnya seperti KTT G7.
Masalah utama kesepakatan G20 untuk memerangi terorisme dan kegagalan kesepakatan ini dalam mengurangi level ancaman dan aksi-aksi kelompok teroris kembali pada tidak adanya definisi yang jelas soal terorisme dan perang melawan kelompok terorisme. Negara-negara Barat menerapkan standar ganda soal terorisme. Hizbullah dan Hamas yang melawan rezim penjajah al-Quds dimasukkan ke dalam daftar kelompok terorisme, sementara mereka mendukung sebagian kelompok teroris hanya dikarenakan mereka menentang pemerintah Suriah.
Kelanjutan perang dan pertumpahan darah di Suriah terjadi dikarenakan kebijakan standar ganda yang diterapkan negara-negara Barat dalam menghadapi kelompok-kelompok terorisme. Sejatinya, KTT G20 di Hamburg tidak punya hasil untuk perdamaian dan keamanan internasional. Sementara apa yang menjadi statemen KTT G20 dan dibacakan di akhir konferensi hanya sekadar tulisan di atas kertas dan tidak akan pernah diterapkan.