Kunjungan Menlu Cina ke Thailand
Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi selama lawatannya ke Thailand menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan ketenangan di Laut Cina Selatan dan pengokoha kerja Sama regional.
Wang Yi usai bertemu dengan Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha di Bangkok menekankan Beijing ingin menjaga stabilitas di Laut Cina Selatan. Menurut pandangan elit politik, lawatan Wang Yi ke Thailand sangat penting untuk menjinakkan represi Amerika Serikat dan memperluas kerjasama dengan negara-negara ASEAN di sektor militer dan ekonomi.
Cina memiliki friksi dengan sejumlah negara kawasan laut Cina Selatan seperti Filipina dan Vietnam. Thailand meski memilih netral, dan cenderung mengurus isu internal, namun menurut pandangan Cina, Bangkok juga berpotensi menggulirkan klaim kepemilikan pulau di Laut Cina Selatan. Hal ini tentunya akan menyulitkan pemerintah Beijing, khususnya Amerika melakukan gerakan besar untuk menggalang koalisi anti Cina di kawasan. Oleh karena itu, Beijing ingin meningkatkan level hubungannya strategisnya dengan Bangkok sehingga mampu menjinakkan kebijakan represif Washington.
Pakar Cina yang pandangannya dinukil Xinhua mengatakan, "Jika negara-negara ASEAN memiliki laju yang berkesinambungan, namun begitu ancaman yang ada masih belum terselesaikan. Jika mereka dan Cina memiliki kerja sama dekat, maka akan muncul jaminan untuk peluang lebih besar bagi laju ekonomi tersebut."
Oleh karena itu, salah satu tujuan strategis Cina selain memperluas kerjasama bilateral, juga meningkatkan investasinya di Thailand dan menciptakan pasar bersama yang akan menguntungkan pasar lemah Bangkok. Thailand juga menghadapi kendala ekonomi termasuk kemiskinan yang meningkat dan pengangguran. Dengan demikian Bangkok cenderung menarik investasi dari Cina ketimbang menciptakan tensi dan konfrontasi sia-sia dengan Beijing seperti isu kepemilikan pulau di Laut Cina Selatan.
Selain perdagangan, Thailand juga membutuhkan peningkatan kerja sama militer dengan Cina untuk menerapkan stabilitas di wilayah selatan serta melawan terorisme.
Pemerintah Beijing selama tahun-tahun terakhir memanfaatkan paket bantuan militer sebagai alat meningkatkan kerja sama bilateral, seperti memberikan senjata canggih kepada Sri Lanka dan Bangladesh untuk melawan kelompok sparatis dan teroris.
Menurut tulisan laman Bangkokbiznews, Thailand di tahun ini membeli peralatan militer dari Cina termasuk tank dan helikopter senilai lebih dari 500 juta dolar. Ini dinilai Cina sebagai jaminan kesuksesan dan keunggulan diplomansi serta interaksi terhadap upaya pemecahbelaan Amerika di kawasan.
Pakar dari Pusat Riset Internasional Cina mengatakan, "Beijing mengejar strategi kerja sama win-win dengan negara kawasan ASEAN. Perluasan kerja sama dengan negara kawasan ini sama halnya dengan menciptakan peluang lebih besar yang akan berdampak pada penerapan stabilitas dan perdamaian di kawasan."
Untuk saat ini, lawatan menlu Cina ke Thailand yang juga akan disusul ke Filipina, mengindikasikan berlanjutnya kebijakan interaksi dan dialog Beijing dengan berbagai negara yang ingin dimanfaatkan oleh Amerika untuk mengisolasi Cina. (MF)