Kebangkitan Rasisme di Amerika
Ribuan warga Amerika meneriakkan slogan-slogan anti-rasisme dalam sebuah demonstrasi yang dilakukan di kota Boston pada hari Sabtu (20/8/2017). Aksi ini digelar untuk memprotes seruan para pendukung supremasi kulit putih yang merencanakan pawai dengan tema "Free Speech Rally."
Menurut laporan media-media lokal, sekitar 15-30 ribu warga ambil bagian dalam aksi tersebut. Aparat keamanan memukul sebagian demonstran dengan tongkat dan peralatan anti huru-hara. Reporter kantor berita AFP mengatakan, para demonstran menuding aparat keamanan mendukung fasisme.
Bentrokan berdarah di kota Charlottesville, Virginia menyusul pawai kelompok supremasi kulit putih, ikut berpengaruh pada konstelasi politik dan sosial di Amerika Serikat.
Sikap yang tidak tepat Presiden Donald Trump dalam mereaksi kekerasan di Charlottesville telah berubah menjadi sebuah guncangan politik dan pada akhirnya membuat Steve Bannon, salah satu pendukung utama gerakan nasionalisme ekstrim dan supremasi kulit putih tersingkir dari jabatannya.
Para pengamat politik menilai kekerasan Charlottesville sebagai awal kebangkitan rasialisme kanan dan titik balik perang bermotif rasial di Amerika.
Rasialisme di Amerika sudah mengakar dan memiliki sejarah panjang dan bahkan menjadi pemicu pecahnya perang sipil di negara tersebut yang dikenal dengan perang utara dan selatan.
Jadi rasialisme di Amerika bukan sebuah persoalan baru, tapi kekerasan Charlottesville dan rentetan peristiwa setelahnya telah memperlihatkan gesekan atas dasar identitas dan ras di AS menyusul kekuasaan Trump.
Partisipasi luas gerakan-gerakan fasis atau neo-Nazi, dan kelompok-kelompok rasis ekstrim seperti Ku Klux Klan pada acara pawai supremasi kulit putih, menunjukkan bahwa mereka telah memperoleh kekuatan kembali di era Trump.
Berdasarkan laporan majalah New Yorker, saat ini lebih dari sembilan ratus kelompok pembenci aktif (dan berkembang) di AS. Para pengamat politik percaya bahwa jika persoalan rasisme tidak terpecahkan di Amerika, maka kehidupan minoritas etnis terutama Hispanik dan kulit hitam akan berada dalam bahaya.
Atas dasar ini pula, para pakar HAM PBB dalam sebuah pernyataan mengecam tindakan kelompok-kelompok rasis dan nasionalis ekstrim di kota Charlottesville. Sekjen PBB Antonio Guterres mengkritik kekerasan di Amerika dan mengatakan, rasisme dan xenophobia (anti orang asing) telah meracuni masyarakat.
Mengingat Trump memiliki basis massa di tengah kelompok nasionalis ekstrim dan rasialis kanan, maka selama ia masih berkuasa di Gedung Putih, pemerintah AS sepertinya tidak akan menangani secara serius fenomena diskriminasi rasial di negara tersebut.
David Ernest Duke, seorang nasionalis kulit putih dalam pesannya kepada Trump mengatakan, "Saya menyarankan Anda untuk melihat cermin dan ingat bahwa orang-orang kulit putih Amerika telah menempatkan Anda di kursi kepresidenan, bukan kaum kiri yang radikal."
Jadi, aksi pawai, bentrokan, dan kerusuhan rasial diperkirakan akan meningkat di berbagai wilayah Amerika pada bulan dan tahun-tahun mendatang. (RM)