Strategi Baru Militer AS di Afghanistan
https://parstoday.ir/id/news/world-i43182-strategi_baru_militer_as_di_afghanistan
Setelah perdebatan panjang di tim Keamanan Nasional Amerika Serikat, Presiden Donald Trump akhirnya pada Senin (21/8/2017) mengumumkan strategi baru militer AS di Afghanistan dan pengiriman pasukan yang lebih banyak ke negara itu.
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Aug 22, 2017 10:01 Asia/Jakarta

Setelah perdebatan panjang di tim Keamanan Nasional Amerika Serikat, Presiden Donald Trump akhirnya pada Senin (21/8/2017) mengumumkan strategi baru militer AS di Afghanistan dan pengiriman pasukan yang lebih banyak ke negara itu.

Dengan strategi baru ini, para komandan pasukan Amerika di Afghanistan diperkirakan akan memimpin lebih banyak pasukan, dan Trump akan mengeluarkan perintah pengiriman 4000 personel baru. Mereka akan bergabung dengan 8400 serdadu Amerika dan 5000 pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afghanistan.

AS berharap bisa membujuk para anggota lain NATO untuk melaksanakan strategi barunya di Afghanistan. Menteri Pertahanan AS James Mattis pada akhir Juni 2017 mengatakan opsi militer merupakan bagian dari strategi baru yang disodorkan ke Trump dan strategi ini juga bergantung pada bentuk kerjasama anggota NATO.

Trump telah memerintahkan Mattis untuk menyusun dan melaksanakan strategi baru AS di Afghanistan serta menentukan jumlah personel yang dibutuhkan. Ia mengakui bahwa banyak dari aspek strategi baru tersebut membutuhkan kontribusi para anggota NATO.

Keamanan di Afghanistan masih belum pulih setelah 16 tahun kehadiran pasukan Amerika dan NATO. Kelompok Taliban malah kembali unjuk kekuatan di berbagai daerah Afghanistan dan juga kemunculan kelompok teroris Daesh di negara itu.

Para analis juga memperingatkan bahwa situasi di Afghanistan akan terus memburuk seiring bertambah luasnya wilayah operasi Taliban dan Daesh.

Pemerintahan Trump tampaknya tidak ada jalan lain untuk mengatasi situasi di Afghanistan kecuali menerapkan strategi baru. Namun, Washington tidak ingin sendirian dalam menjalankan misi tersebut dan mereka tampaknya akan menggunakan berbagai instrumen untuk memaksa anggota lain NATO bergabung dengan mereka.

Menurut pengakuan Mattis, strategi baru Amerika di Afghanistan memiliki dimensi regional dan fokus untuk mencari cara mengakhiri perang. Salah satu landasan dasar strategi tersebut adalah memperkuat kehadiran militer di Afghanistan melalui pengiriman pasukan AS dan NATO.

Serangan AS ke Afghanistan pada tahun 2001 dengan alasan memerangi terorisme, telah membuat banyak warga sipil tewas, meningkatnya kekacauan di Afghanistan, menguatnya kembali Taliban, dan menyebabkan munculnya Daesh. Produksi opium dan aktivitas kelompok-kelompok ekstrim di negara-negara Asia Tengah justru meningkat setelah kehadiran militer AS di Afghanistan.

Salah seorang pakar Afghanistan, Doktor Mohammad Akbar mengatakan, "Dengan dalih serangan 11 September, Amerika menyerang Afghanistan untuk mengejar tujuan tertentu, tapi mereka sampai sekarang belum mencapai tujuannya di kawasan."

Tentu saja, penambahan jumlah pasukan Barat di Afghanistan tidak otomatis akan meningkatkan stabilitas dan keamanan di negara itu. Pengamat politik Amerika, Barnett Rubin percaya bahwa Afghanistan tidak akan mencapai stabilitas dengan kehadiran permanen pasukan AS. Lebih banyak tentara, dengan tidak adanya strategi diplomatik yang efektif, bisa membuat Afghanistan kurang stabil. (RM)