Misi AS Perkuat Kehadiran Militer di Afghanistan
https://parstoday.ir/id/news/world-i43500-misi_as_perkuat_kehadiran_militer_di_afghanistan
Komandan Militer Amerika dan NATO di Afghanistan, Jenderal John Nicholson menekankan kehadiran lebih lanjut pasukan asing di negara tersebut. Menurutnya, strategi baru militer AS tidak menyinggung jadwal penarikan pasukan asing dari Afghanistan.
(last modified 2026-05-10T18:00:53+00:00 )
Aug 28, 2017 09:49 Asia/Jakarta

Komandan Militer Amerika dan NATO di Afghanistan, Jenderal John Nicholson menekankan kehadiran lebih lanjut pasukan asing di negara tersebut. Menurutnya, strategi baru militer AS tidak menyinggung jadwal penarikan pasukan asing dari Afghanistan.

Sementara itu, Joe Wilson, salah seorang anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat mengatakan bahwa 20 helikopter tempur dan 190 personel telah dikirim ke Afghanistan.

Pentagon mulai memperkuat pasukan dan logistik militer di Afghanistan setelah Presiden Donald Trump mengumumkan strategi baru AS di negara itu. Dalam hal ini ada beberapa poin yang patut dicermati.

Pertama, prioritas Amerika di Afghanistan bukan untuk memerangi terorisme, tapi berusaha untuk memperkuat pangkalan militernya di negara tersebut dan mengubahnya menjadi pangkalan militer terbesar di dunia. Sebab, Afghanistan memiliki letak geopolitik dan geostrategis yang istimewa termasuk bertetangga dengan Rusia, Cina, India, dan Pakistan.

Kedua, fokus AS di Afghanistan tidak hanya isu keamanan tapi juga kepentingan bisnis dan perdagangan. Pemerintahan Trump memandang isu keamanan dari kaca mata bisnis dan masalah ini penting bagi AS dengan memperhatikan cadangan besar bahan-bahan tambang di Afghanistan.

Ketiga, AS belum menentukan ambang batas pengiriman pasukan baru ke Afghanistan dan ini bermakna bahwa Washington tidak menghormati kemerdekaan dan kedaulatan nasional Afghanistan, dan menganggap negara itu seperti salah satu negara bagian AS.

Dan keempat, AS sedang mengubah Afghanistan menjadi pusat konsentrasi teroris regional dan internasional sehingga bahaya terorisme tidak menyasar wilayah Amerika. Oleh karena itu, strategi baru Trump di Afghanistan tidak secara transparan mendefinisikan misi pasukan Amerika dan NATO.

Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengatakan, "AS lebih tertarik melanjutkan perang dan menyebarluaskan ketidakamanan ketimbang menciptakan perdamaian di Afghanistan. Rakyat Afghanistan menginginkan perdamaian dan keamanan permanen di negeri mereka dan kawasan. Masyarakat kami tidak menghendaki meluasnya kekacauan, pembantaian, dan kehancuran."

Selain mengubah strategi AS di Afghanistan, Trump juga mengejar tujuan yang lebih penting yaitu menekan pemerintah Pakistan untuk membuat keputusan yang sulit; memilih bersama Amerika atau bergabung dengan rival negara itu seperti Cina dan Rusia.

Seorang pengamat militer di Afghanistan, Jawid Kohistani menuturkan, "Tekanan AS atas Pakistan dalam jangka pendek akan mengintensifkan perang."

Ini adalah situasi yang ditunggu-tunggu oleh pemerintah India, di mana selalu berusaha menuding Pakistan mendukung terorisme dan mendorong Washington untuk meningkatkan tekanan terhadap Islamabad.

Menurut Ahmad Saedi, seorang pengamat politik Iran, tekanan Amerika terhadap Pakistan akan melahirkan sebuah blok baru di kawasan yang menentang Washington.

AS bertekad untuk mempertahankan pasukannya di Afghanistan, padahal para pakar militer dan keamanan di Washington memperingatkan tentang pengalaman pahit kehadiran pasukan Inggris dan Uni Soviet di negara tersebut. (RM)