Kunjungan Menlu Pakistan ke Cina
https://parstoday.ir/id/news/world-i43977-kunjungan_menlu_pakistan_ke_cina
Menteri Luar Negeri Pakistan, Khawaja Muhammad Asif di lawatannya ke Beijing bertemu dengan sejawatnya dari Cina, Wang Yi membicarakan transformasi terbaru kawasan dan internasional.
(last modified 2026-04-23T16:50:12+00:00 )
Sep 09, 2017 10:25 Asia/Jakarta
  • Menlu Cina Wang Yi
    Menlu Cina Wang Yi

Menteri Luar Negeri Pakistan, Khawaja Muhammad Asif di lawatannya ke Beijing bertemu dengan sejawatnya dari Cina, Wang Yi membicarakan transformasi terbaru kawasan dan internasional.

Agenda lain pembicaraan Khawaja Asif dengan Wang Yi adalah perluasan hubungan bilateral, perang kontra terorisme, isu global dan khususnya krisis Afghanistan.

Usai pertemuan ini, menlu Cina di jumpa pers mengatakan, jaminan keamanan dan penerapan perdamaian di Afghanistan menguntungkan Cina dan Pakistan.

Wang Yi juga menegaskan, Cina siap menjalin kerja sama untuk kemajuan Pakistan.

Kunjungan Khawaja Asif ke Cina dan pertemuannya dengan sejumlah petinggi negara ini digelar dalam koridor perluasan hubungan bilateral. Di antaranya adalah kerja sama di proyek ekonomi Cina-Pakistan yang diprediksi senilai 45 miliar dolar.

Meski isu proyek makro kerja sama di berbagai bidang ekonomi, militer dan nuklir merupakan agenda utama perundingan petinggi Cina dan Pakistan, namun isu transformasi Afghanistan merupakan salah satu masalah yang sangat sensitif baik bagi Islamabad maupun Beijing berdasarkan catatan masing-masing.

Mengingat pemerintah Islamabad selama beberapa pekan terakhir terus mendapat represi internasional dan regional, khususnya setelah pengumuman strategi Presiden AS Donald Trump terkait perang di Afghanistan, serta statemen kelompok BRICS yang khawatir atas fenomena terorisme di Pakistan, mungkin salah satu tujuan kunjungan Khawaja Asif ke Cina adalah berunding dengan petinggi Beijing terkait isu-isu tersebut.

Presiden Amerika saat mengumumkan strategi baru Washington terkait perang di Afghanistan secara transparan menuding Pakistan sebagai tempat persembunyian yang aman bagi kelompok teroris. Menurutnya hal ini meningkatkan instabilitas di wilayah Pakistan. Sikap Trump tersebut tentu saja menuai reaksi keras di Pakistan.

Hanya beberapa hari setelah tudingan Trump terhadap Pakistan, statemen kelompok BRICS yang terdiri dari Cina, India, Brazil, Rusia dan Afrika Selatan menjadi pukulan telak lain bagi Pakistan. Hal ini karena, Pakistan tidak berharap Cina akan membiarkan BRICS merilis statemen anti Islamabad. Kelompok BRICS di statemennya menyatakan kekhawatiran mereka atas fenomena terorisme di Pakistan.

Statemen BRICS ini bahkan dijadikan pijakan oleh Jubir Kemenlu Afghanistan Shakib Mustaghni saat menjawab staemen menlu Pakistan. Menurut Kabul statemen BRICS yang menyatakan kekhawatiran mereka atas keberadaan teroris di Pakistan sebagai pembenaran sikap Afghistan terkait posisi Islamabad sebagai pangkalan aman bagi teroris.

Di kondisi seperti ini bisa jadi kunjungan menlu Pakistan ke Cina, mengingat bahwa pemerintah negera tersebut saat ini adalah pemerintah sementara hingga dipilihnya perdana menteri baru Pakistan, merupakan bentuk pengaduan Islamabad atas sikap Beijing dengan represi kawasan dan internasional terhadap Pakistan terkait isu terorisme.

Cina sebelumnya menyatakan, dunia selain harus berterima kasih kepada Pakistan di perang kontra terorisme juga harus menerima bahwa negara ini berada di front terdepan dalam memerangi radikalisme.

Pakistan memiliki kekhawatiran bahwa perubahan sikap Cina terkait Islamabad soal terorisme membuat Amerika menyalahgunakan kesempatan ini untuk menekan lebih besar Pakistan. (MF)