Duel Trump Vs Memo Rahasia FBI
Setelah perdebatan panjang di Amerika Serikat, akhirnya Presiden Donald Trump menyetujui perilisan memo rahasia Biro Investigasi Federal (FBI) ke publik.
Memo rahasia ini mengungkap peran Kejaksaan Agung, Departemen Kehakiman AS dan FBI terkait pengintaian elektronik terhadap Carter Page, seorang anggota tim kampanye Trump, dan sebuah konspirasi yang berusaha mengaitkan hubungan tim kampanye Trump dengan Rusia selama pilpres 2016.
Dokumen tersebut juga memasukkan orang-orang yang sedang menangani kasus intervensi Rusia dalam pilpres AS dengan tuduhan melanggar hukum dan melakukan konspirasi terhadap Donald Trump, yang sekarang menjadi Presiden AS.
Para pejabat senior FBI sebelumnya telah memperingatkan tentang permohonan Komite Intelijen DPR AS untuk mempublikasikan memo rahasia ini.
Senator Republik John McCain menentang permintaan Devin Nunes, rekan separtainya sekaligus ketua Komite Intelijen DPR, dan mengatakan bahwa serangan terhadap FBI dan Departemen Kehakiman tidak melayani kepentingan AS, partai maupun presiden, tapi hanya melayani kepentingan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Namun, kubu pendukung Trump di Kongres mencoba memaafkan perilisan memo rahasia ini untuk membuktikan penyalahgunaan wewenang dan sikap tidak netral oleh beberapa pejabat Departemen Kehakiman dan FBI, seperti Wakil Jaksa Agung Rod Rosenstein dan Deputi Direktur FBI Andrew McCabe. Dengan begitu, mereka bisa mendorong pemecatan Penyidik Khusus Robert Mueller, yang memimpin investigasi kasus campur tangan Rusia dalam pilpres AS.

Surat kabar The New York Times sebelumnya mengungkapkan bahwa Trump telah mencoba untuk menyingkirkan Mueller pada Juni 2017. Tersebarnya berita ini telah memicu kritik terhadap Trump.
Trump bakal menghadapi impeachment jika menyingkirkan atau mencoba mencopot Penyidik Khusus yang sedang menangani kasus yang sangat sensitif dan kontroversial dalam pilpres AS.
Gedung Putih tentu saja membantah keras laporan The New York Times. Namun, persetujuan Trump untuk merilis memo rahasia FBI menunjukkan bahwa perang informasi dan konflik hukum sedang terjadi pada level politik tertinggi di Amerika. Takdir perang ini tampaknya ditentukan oleh duel antara Trump dan para kritikusnya, dan yang menjadi senjatanya saat ini adalah memo rahasia FBI.
Jika Trump dan kubunya di Kongres dapat membuktikan penyalahgunaan wewenang dan sikap memihak oleh Kementerian Kehakiman dan FBI, maka beberapa aktor utama yang menangani berkas "Trump-Russia" akan tersingkir dari arena laga. Presiden Donal Trump akan mempertahankan masa jabatannya untuk tiga tahun ke depan.
Tapi jika dalam duel ini, kubu lawan mampu membuktikan bahwa Trump menghalangi upaya penyelidikan dan pengungkapan fakta, maka akan terbuka jalan bagi proses impeachment presiden di Kongres. (RM)