Respon Negatif NATO terhadap Peringatan Presiden Rusia
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyebut pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang NATO sebagai "tidak dapat diterima" dan tidak membantu upaya untuk mengurangi ketegangan.
Pernyataan NATO tersebut dirilis pada hari Jumat, 2 Maret 2018 sehari setelah presiden Rusia mengumumkan serangkaian senjata nuklir baru dan peringatan Putin tentang perluasan NATO ke timur dan perbatasan Rusia.
Putin dalam sebuah pidato pada hari Kamis mengatakan, serangan terhadap sekutu Rusia akan dianggap sebagai serangan terhadap negara ini dan serangan itu akan direspon secepatnya. Ia menambahkan, Moskow telah menguji serangkaian senjata nuklir strategis baru yang tidak dapat dicegat, dan Barat telah gagal untuk menahan Rusia.
Menanggapi hal itu, juru bicara NATO, Oana Lungescu pada hari Jumat mengatakan, pernyataan Rusia yang mengancam untuk menargetkan sekutu tidak dapat diterima dan kontraproduktif. Ia mengklaim bahwa sistem pertahanan rudal NATO dibangun untuk merespon serangan dari luar Eropa dan Amerika Utara dan tidak ditujukan terhadap Rusia.
NATO juga mengklaim bahwa aliansi ini tidak menginginkan Perang Dingin atau perlombaan senjata baru, dan ingin mendukung kesepakatan pengendalian senjata. Selama ini, Rusia telah berulang kali memperingatkan dampak ekspansi NATO dan kehadiran pasukan aliansi militer ini di dekat perbatasan-perbatasannya, di mana langkah tersebut akan memperoleh reaksi timbal balik.
Sebenarnya, faktor utama pengambilan doktrin perluasan NATO ke Eropa Timur adalah Amerika Serikat yang mengejar tujuan-tujuan utama dan jangka panjangnya; yaitu melemahkan dan pada akhirnya membagi wilayah Rusia. AS juga berusaha untuk menarik negara-negara yang berada di bawah pengaruh Rusia untuk bergabung dengan NATO.
Menurut pakar politik sVladimir Pozner, para pemimpin Rusia melihat perluasan permanen NATO sebagai sebuah ancaman nyata. Para pejabat NATO menjadikan tetangga-tetangga Rusia sebagai pertimbangan. Mereka terus mendorong Ukraina dan Georgia untuk bergabung dengan NATO. Padahal pembentukan dan penyebaran setiap aliansi militer Barat terutama NATO di sepanjang perbatasan Rusia dianggap sebagai ancaman dan langkah yang telah melewati garis merah keamanan nasioanl negara ini.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, NATO sebenarnya telah berubah menjadi alat AS yang berusaha untuk menciptakan krisis di Eropa Timur dengan dalih intervensi Rusia dalam krisis Ukraina. Meningkatnya konfrontasi NATO dengan Rusia di Eropa Timur, yang sejalan dengan kebijakan luar negeri AS untuk mengendalikan Rusia, menunjukkan bahwa NATO telah diperalat oleh Washington untuk mencapai kepentingannya.
Menanggapi hal itu, Rusia menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan "respon yang tepat" terhadap NATO. Pakar Rusia, Sergey Rekda meyakini bahwa isu provokatif di NATO mengindikasikan aliansi militer ini tidak memiliki keinginan untuk menghapus ketegangan dengan Rusia.
Kekhawatiran besar Rusia lainnya adalah penempatan sistem anti-rudal di Eropa Timur, terutama di Rumania dan Polandia. Moskow menilai penyebaran sistem anti-rudal tersebut hanya untuk menghadapi kemampuan nuklir strategis Rusia dan mengurangi keefektifan senjata pencegah nuklir negara itu.
Pidato tahunan Putin pada tanggal 1 Maret 2018 merupakan salah satu pidato terkerasnya dalam beberapa tahun terakhir. Ia menegaskan, Rusia memiliki tekonologi baru yang membuat sistem anti-rudal AS dan NATO tidak efektif.
Yang pasti, konfrontasi antara Rusia dan NATO meningkat dan meluas, dan tentunya, hal ini akan membawa konsekuensi berbahaya bagi Eropa dan dunia. (RA)