Dampak Perang Urat Syaraf Eropa dan Rusia
Pemerintah Belanda, Senin (5/3) mengumumkan pengangkatan Stef Blok sebagai Menteri Luar Negeri baru negara itu menggantikan Halbe Zijlstra yang mengundurkan diri setelah mengaku berbohong melakukan pertemuan bisnis dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Sebelumnya, Halbe Zijlstra mengaku hadir dalam sebuah pertemuan bersama Putin. Ia juga melakukan kesalahan dalam mengutip pernyataan Putin, menurutnya, Presiden Rusia berambisi menarik negara-negara seperti Ukraiana dan negara-negara Baltik ke dalam Rusia yang Lebih Besar atau The Greater Russia.
Pengunduran diri Halbe Zijlstra dari jabatan menlu Belanda, dengan memperhatikan klaim bohongya tentang Putin, menunjukkan kebijakan umum Barat terkait Rusia. Pasca meletusnya krisis Ukraina tahun 2014 dan konfrontasi terbuka Barat-Rusia, Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Eropanya gencar mengkampanyekan perlawanan terhadap Moskow.
Kampanye tersebut menyasar banyak dimensi, mulai dari politik, ekonomi hingga keamanan. Pada saat yang sama, Barat juga melancarkan propaganda dan perang urat syaraf terhadap Rusia. Perang psikologis ini dibungkus dalam bentuk tuduhan-tuduhan Amerika terhadap Moskow dan para pejabatnya, terutama Putin.
Pasca tuduhan Amerika terhadap Rusia mencampuri pemilu presiden 2016 negara itu, sejumlah negara Eropa terus mengulang tuduhan tersebut dan memperingatkan kemungkinan intervensi Rusia dalam pemilu di negara mereka. Dengan cara itu, mereka ingin menunjukkan bahwa Moskow sedang berusaha menciptakan instabilitas di negara-negara Eropa atau mendukung partai politik dan gerakan kanan ekstrem.
Padahal jika kita melihat rekam jejak Eropa dan Amerika terkait Rusia, maka kita akan menyadari bahwa mereka terbukti terang-terangan mencampuri pemilu Rusia baik pemilu parlemen maupun pemilu presiden dan memprovokasi warga Rusia untuk melakukan protes terhadap pemerintah dan melakukan kerusuhan.
Menurut Alexei Mukhin, Dirjen Pusat Informasi Politik Rusia, kubu penentang Putin, baik di dalam maupun di luar negeri, memusatkan aktivitas mereka pada ancaman dan tantangan bagi Rusia. Di sisi lain, upaya pemerintah dan media Barat untuk menampilkan citra negatif, militan dan ekspansionis dari Presiden Rusia, terus dilakukan.
Tuduhan mantan menlu Belanda kepada Putin bahwa ia adalah seorang yang berambisi memperluas ekspansi Rusia dan bermaksud menggabungkan Ukraina dan negara-negara Baltik ke dalam The Greater Russia, juga dapat dievaluasi dalam kerangka ini.
Meski mengakui kebohongannya, namun tuduhan Halbe Zijlstra itu telah menjadi skandal yang memaksanya mengundurkan diri. Sebagaimana biasanya, tuduhan ekspansionis Rusia dimunculkan untuk menjustifikasi sikap dan langkah Barat khususnya Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO terkait Rusia.
Salah seorang dosen Universitas Moskow meyakini bahwa ide-ide provokatif muncul di tubuh NATO dan ini membuktikan bahwa lembaga itu tidak pernah berniat untuk berdamai dengan Rusia. Barat, seperti sebelumnya, selalu melakukan ancaman militer, tekanan sanksi, perang urat syaraf dan propaganda lewat media terhadap penentang dan rival-rivalnya. (HS)