Skenario Aneh Trump untuk Suriah
-
Presiden Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, bertemu di Washington, Maret 2018.
Penasihat media untuk Presiden Suriah, Bouthaina Shaaban mengatakan, sungguh sangat aneh ketika sebuah rezim penjajah mengundang pihak lain untuk menduduki sebuah negara.
Hal ini merupakan reaksi terhadap statemen Presiden AS Donald Trump, yang meminta pasukan koalisi Arab untuk menggantikan tentara Amerika di Suriah.
"Kasus ini benar-benar belum pernah terjadi di tingkat internasional," tegas Shaaban.
Media The Wall Street Journal baru-baru ini mewartakan bahwa Trump ingin membentuk pasukan koalisi Arab untuk menggentikan sebagian besar pasukan Amerika di Suriah. Washington meminta para pemimpin Arab termasuk Saudi dan Uni Emirat Arab untuk mengirimkan pasukannya ke Suriah di bawah koalisi tersebut.
Gagasan Trump ini memicu beragam tanggapan dari negara-negara Arab di Timur Tengah.
Penasihat Keamanan Nasional Irak, Falah al-Fayad mengatakan sikap resmi Baghdad adalah menentang pengiriman tentara Arab ke Suriah. Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir justru mengumumkan kesiapan Riyadh untuk menerjunkan pasukan ke Suriah dengan alasan memerangi terorisme.

Hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan Trump tidak bersedia membela sekutunya tanpa memperoleh imbalan. Sekarang, Washington ingin mengurangi pasukannya di Suriah dan menempatkan tentara Arab sebagai pengganti.
Trump bertindak sebagai seorang mafia dan setiap hari mengumumkan skenario baru untuk menjarah kekayaan negara-negara Arab penghasil minyak. Ketika menyerang Suriah bersama Inggris dan Perancis pekan lalu, Trump mengatakan bahwa negara-negara sekutu di kawasan harus membayar biaya untuk menciptakan apa yang disebutnya stabilitas di Suriah.
Banyak analis percaya rencana baru AS untuk Suriah tidak matang dan ini adalah indikasi dari kebingungan pemerintah Washington terkait Suriah, dan masalah ini akan memperburuk situasi di negara tersebut.
Jelas, pengiriman pasukan koalisi ke Suriah merupakan serangan terhadap kedaulatan sebuah negara merdeka, terlebih tindakan ini diambil tanpa mandat Dewan Keamanan PBB.
Selama ini, Arab Saudi bersama negara-negara Barat dan rezim Zionis Israel berada di balik konspirasi terhadap pemerintah Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad. Sekarang Saudi ingin terlibat langsung secara militer di Suriah.
Suriah menghadapi krisis terburuk sejak tahun 2011 akibat konspirasi dan intervensi Barat serta beberapa negara Arab. Negara itu dipaksa untuk berperang menumpas para teroris impor yang disokong oleh Barat dan Arab.
Namun, rakyat dan pemerintah Suriah dengan modal persatuan dan dukungan pasukan perlawanan di kawasan, mampu menggagalkan konspirasi musuh yang ingin menduduki dan menguasai negara tersebut.
Ketika para pemimpin Arab menyaksikan kegagalan konspirasinya di Suriah, mereka sekarang berusaha melakukan intervensi militer secara langsung demi mencegah kekalahan total para anasirnya di sana. (RM)