Peringatan Rusia soal Pembatalan JCPOA dan Dampaknya
https://parstoday.ir/id/news/world-i56220-peringatan_rusia_soal_pembatalan_jcpoa_dan_dampaknya
Pemerintah Rusia di statemennya seraya menekankan bahwa Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sebuah mekanisme seimbang untuk menjamin kepentingan seluruh pihak memperingatkan, pembatalan kesepakatan ini akan sangat merugikan.
(last modified 2026-05-07T09:57:09+00:00 )
May 05, 2018 12:37 Asia/Jakarta
  • JCPOA
    JCPOA

Pemerintah Rusia di statemennya seraya menekankan bahwa Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sebuah mekanisme seimbang untuk menjamin kepentingan seluruh pihak memperingatkan, pembatalan kesepakatan ini akan sangat merugikan.

Menurut statemen ini, perusakan keseimbangan kepentingan di JCPOA akan menimbulkan dampak serius bagi keamanan internasional dan Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT). Selain itu, pembatalan JCPOA tanpa sebab dan berbeda dengan keinginan masyarakat dunia juga akan berpengaruh pada upaya menyelesaikan krisis nuklir Semenanjung Korea.

 

Penekanan kembali Rusia untuk mempertahankan JCPOA dirilis mengingat eskalasi upaya Amerika untuk keluar dari kesepakatan ini dan alasan yang dibuat-buat di bidang ini. Menurut Moskow JCPOA sebuah kesepakatan internasional yang bukan saja menjamin tujuan yang telah dicanangkan melalui implementasinya, bahkan pembatalan JCPOA oleh Amerika akan memiliki dampak serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.

 

Sejatinya Rusia meyakini ketika sebuah kesepakatan seperti JCPOA diinjak-injak, bahkan oleh Presiden AS Donald Trump, tidak akan jaminan bahwa selanjutnya di berbagai kasus seperti perundingan nuklir dengan Korea Utara, bahkan jika berhasil diraih kesepakatan, pihak seberang khususnya Amerika tidak akan komitmen dengannya.

Kesepakan AS dan Eropa soal JCPOA 

 

Sementara itu, Iran secara penuh telah menjalankan kewajibannya di JCPOA dan menjalankan perjanjian ini dengan baik. Hal ini bahkan telah dibenarkan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan sekutu Eropa Amerika di Kelompok 5+1. Kasus ini juga bisa berujung pada maraknya ketidakpercayaan dan instabilitas di kancah internasional serta dunia akan bergerak ke arah kekacauan lebih besar.

 

Pertimbangan inilah yang mendorong Rusia menekankan pentingnya komitmen terhadap JCPOA dan memperingatkan mereka terkait dampak negatif keluar dari perjanjian ini. Vladimir Yermakov, kepala bidang larangan penyebaran dan kontrol senjata di Deplu Rusia menjelaskan bahwa keluarnya Amerika dari JCPOA akan menimbulkan dampak negatif bagi posisi Washington. Ia menambahkan, ini merupakan pelanggaran JCPOA dan Kami akan melanjutkan implementasi kesepakatan ini.

 

Tiga negara Eropa anggota Kelompok 5+1 yakni Jerman, Perancis dan Inggris kini dengan klaim menambal kekurangan JCPOA berusaha membujuk Trump agar tidak keluar dari kesepakatan nuklir. Tentunya upaya tersebut juga dibarengi dengan konsesi. Konsesi yang diberikan tiga negara ini kepada Amerika adalah kesepakatan mereka terhadap langkah baru anti Iran dengan dalih program rudal dan kebijakan regional Tehran.

 

Di sisi lain, Eropa saat ini juga gencar mensukseskan program sebagai opsi jika Amerika keluar dari JCPOA dan mereka masih bisa mempertahankan hubungan perdagangannya dengan Republik Islam Iran.

 

Oliver Mayer, pengamat Jerman menekankan JCPOA berubah menjadi ujian kesiapan dan keseriusan Eropa untuk membela kepentingannya terhadap langkah sepihak Amerika.

 

Sepertinya argumentasi dan upaya Eropa untuk mempertahankan JCPOA tidak berpengaruh pada Trump. Sejatinya presiden Amerika ini masih tetap mempertahankan sikapnya yang anti JCPOA. Di sikap terbarunya, Trump masih berbicara mengenai kesepakatan nuklir dengan Iran sebuah tragedi  dan mengkritik petinggi Amerika sebelumnya, khususnya John Kerry, mantan menlu terkait perundingan nuklir.

 

Trump 12 Mei mendatang dijadwalkan akan mengumumkan keputusannya mengenai kondisi negara ini di JCPOA, keluar atau masih tetap bergabung dengan kesepakatan ini. Jika Amerika keluar dari JCPOA, hal ini bukan saja akan menurunkan kredibilitas Amerika di kancah internasional, bahkan asas komitmen pemerintah terhadap janjinya dalam koridor kesepakatan internasional juga dipertanyakan. (MF)