Keluarnya AS dari JCPOA dan Reaksi Eropa
-
Donald Trump
Akhirnya setelah sekian lama ramai spekulasi soal keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump apakah akan tetap bertahan atau keluar dari kesepakatan nuklir Iran, JCPOA, Selasa (8/5/2018) di Gedung Putih, Trump mengumumkan bahwa Amerika keluar dari JCPOA dan seluruh sanksi akan kembali dijatuhkan atas Iran.
Keputusan Trump itu memicu reaksi negatif dari masyarakat internasional termasuk sekutu Washington sendiri di Eropa. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengeluarkan protes keras atas keputusan Trump tersebut dan secara tegas menuntut berlanjutnya implementasi kesepakatan nuklir Iran. Mogherini juga meminta Iran untuk tetap menjaga komitmennya atas JCPOA.
Ia menegaskan, kesepakatan nuklir Iran adalah buah dari 12 tahun upaya diplomasi, dan ini adalah milik seluruh masyarakat internasional. Terbukti bahwa kesepakatan yang bertujuan untuk memastikan bahwa program nuklir Iran, damai, berhasil diwujudkan.
Pemimpin tiga negara Eropa penandatangan kesepakatan nuklir Iran yaitu Inggris, Perancis dan Jerman mengumumkan pernyataan bersama yang menegaskan tekadnya untuk membangun kepercayaan dalam pelaksanaan kesepakatan nuklir Iran.
Sepertinya, Eropa sekarang tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan. Dalam beberapa bulan terakhir, Eropa melakukan upaya luas untuk menjaga JCPOA, dan dalam kerangka ini banyak melakukan lawatan serta negosiasi dengan pejabat tinggi Amerika.
Namun demikian, upaya tersebut ternyata tidak membuahkan hasil, karena Trump memilih untuk tetap sejalan dengan rezim Zionis Israel terkait kesepakatan nuklir Iran, JCPOA dan menyatakan keluar dari kesepakatan tersebut sembari menyebutnya sebagai kesepakatan yang gagal.
Mantan menteri luar negeri Inggris, Jack Straw mengaku percaya bahwa keputusan Presiden Amerika keluar dari kesepakatan nuklir Iran, sebagai langkah yang bebahaya dan tidak bisa dibenarkan.
Sekarang bukan hanya Eropa, negara-negara penandatangan kesepakatan nuklir Iran lainnya dalam Kelompok 5+1 secara umum, sekali untuk selamanya, harus menentukan sikap tegas terkait Amerika dan langkah-langkah sepihak serta arogannya.
Secara mendasar, JCPOA sebagai sebuah kesepakatan yang disusun untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran, sudah menunjukkan kinerjanya dan sebagaimana beberapa kali diakui Badan Energi Atom Internasional, IAEA dan seluruh anggota Kelompok 5+1 kecuali Amerika, Iran telah menjalankan semua tanggung jawab dan komitmennya dalam kerangka kesepakatan ini.
Sekalipun sebagian pejabat Amerika sendiri mengakui hal tersebut, namun ambisi Trump bukan hanya bertentangan dengan isi kesepakatan nuklir Iran, bahkan secara asasi presiden Amerika itu menginginkan pembatasan atas program rudal Iran dan perubahan kebijakan regional Tehran yang sepenuhnya selaras dengan keinginan Israel dan sekutu-sekutu Arabnya seperti Arab Saudi.
Mantan deputi menteri luar negeri Amerika untuk urusan keamanan internasional, Frank Wisner menilai keputusan Trump keluar dari JCPOA sebagai kesalahan strategis serius. Ia mengatakan, langkah ini sangat disesalkan, namun saya berharap Eropa, Cina dan Rusia tetap bertahan dalam kesepakatan nuklir Iran dan melindungi prestasi-prestasi yang sudah berhasil diraih dari kesepakatan itu.
Iran sampai saat ini masih menanti langkah yang akan dilakukan negara-negara anggota Kelompok 5+1 lainnya. Realitasnya, Uni Eropa terlibat friksi yang cukup tajam dengan Amerika dan saat ini, JCPOA menjadi titik balik yang bisa mendorong organisasi itu memisahkan diri dari Amerika sesuai kepentingannya, keamanan dan stabilitas internasional.
Kesepakatan nuklir Iran juga bisa menjadi momentum berharga bagi Uni Eropa untuk menjauh dari kebijakan-kebijakan haus perang Amerika dan Israel. Dalam kerangka langkah ini, Uni Eropa harus melanjutkan implementasi JCPOA, mempertahankan dan memperluas hubungan dengan Iran serta menghadapi kebijakan sanksi terhadap Tehran. (HS)