Uni Eropa dan Implementasi JCPOA
-
Eropa dan JCPOA
Menteri Luar Negeri Belgia, Didier Reynders menyebut kesepakatan nuklir dengan Republik Islam Iran sebua kesepakatan internasional di mana Eropa harus membuktikan kemampuannya dalam mengimplementasikannya.
Didier Reynders seraya menyatakan bahwa kesepakatan nuklir Iran dan Kelompok 5+1 sangat transparan dan sebuah komitmen dari Uni Eropa serta seluruh masyarakat global menekankan, "Uni Eropa bukan saja akan berkerja sama dengan Iran di sektor umum seperti Bank Sentral Iran dan Bank Investasi Eropa, bahkan berusaha mendorong perusahaan besar untuk aktif di Iran."
Meski Presiden AS Donald Trump pada 8 Mei 2018 mengumumkan keluarnya Washington secara sepihak dari Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), namun pemerintah Eropa dan Uni Eropa (EU) menyatakan bahwa mereka akan tetap komitmen dengan kesepakatan nuklir tersebut.
Oleh karena itu, berbagai pertemuan baik antara pihak Eropa sendiri serta perundingan antara petinggi Iran dan Eropa terkait mekanisme melanjutkan JCPOA terus digelar. Sementara itu, pemerintah Iran sendiri dengan mengikuti arahan Pemimpin Besar atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei terkait pentingya jaminan dari Eropa menyatakan akan tetap berada di JCPOA jika pihak Eropa memberikan jaminan praktis atas kepentingan Tehran.
Eropa kini berencana mempertahankan JCPOA, karena kesepakatan ini dari berbagai sisi sangat penting bagi mereka. Salah satu motif penting Eropa adalah mempertahankan independensinya terhadap Amerika. Mempertahankan JCPOA memberikan peluang khusus kepada petinggi Eropa untuk menghadapi Trump yang berani keluar secara sepihak dari JCPOA dengan mengabaikan kepentingan Eropa dan hanya memikirkan kepentingan Washington.
Petinggi Eropa memahami bahwa jika tidak ada respon yang tepat dan jika mengikuti tuntutan sanksi Washington, bukan saja Erppa kehilangan independensinya, bahkan akan kehilangan sebagai kepentingan perdagangan dan ekonominya. Selain itu pembatalan JCPOA akan menimbulkan dampak keamanan luas di tingkat regional dan internasional serta dalam hal ini Eropa berpotensi memberikan biaya yang lebih besar daripada pihak lain.
Di sisi lain, kesepakatan nuklir dengan Iran sebuah prestasi besar yang diraih Uni Eropa di tingkat internasional. Menurut Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, tidak adan negara yang dapat membatalkan JCPOA secara sepihak, karena ini bukan kesepakatan bilateral, tapi sebuah warisan dunia.
Oleh karena itu, mempertahankan JCPOA sangat penting bagi Eropa. Miguel Arias Canete, Komisaris Energi Uni Eropa terkait hal ini mengatakan, "Uni Eropa akan melawan represi dan tuntutan Amerika kepada mereka terkait JCPOA."
Meski Eropa ingin mempertahankan JCPOA hanya demi kepentingannya sendiri, namun begitu masih ada keraguan apakah Uni Eropa memiliki kemampuan, fasilitas dan instrumen yang cukup dan signifikan untuk melawan aksi permusuhan Amerika Serikat, khususnya melawan sanksi anti Iran.
Seluruh kondisi ini membuat petinggi Eropa berusaha melanjutkan lobinya untuk menjamin tuntutan Iran dan mempertahankan JCPOA. Adapun seruan menlu Belgia juga dapat dicermati dalam koridor ini. (MF)