Sanksi; Kebiasan Buruk AS terhadap Musuh
https://parstoday.ir/id/news/world-i60575-sanksi_kebiasan_buruk_as_terhadap_musuh
Amerika Serikat di abad ke 20 memanfaatkan perang ekonomi dalam bentuk berbagai sanksi finansial, perdagangan dan ekonomi terhadap musuh atau rivalnya. Sanksi ini diterapkan dengan dalih penentangan terhadap kebijakan dan langkah Amerika atau dengan klaim AS merasa terancam oleh negara yang dijatuhi sanksi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 04, 2018 15:35 Asia/Jakarta
  • Amerika dan Rusia
    Amerika dan Rusia

Amerika Serikat di abad ke 20 memanfaatkan perang ekonomi dalam bentuk berbagai sanksi finansial, perdagangan dan ekonomi terhadap musuh atau rivalnya. Sanksi ini diterapkan dengan dalih penentangan terhadap kebijakan dan langkah Amerika atau dengan klaim AS merasa terancam oleh negara yang dijatuhi sanksi.

Washington di abad ke 21 juga masih tetap menggunakan pendekatan sanksi, bukan saja terhadap musuh, bahkan terhadap mitranya sendiri, negara ini juga mengancam akan menjatuhkan sanksi.

 

Oleh karena itu, pemerintah dan Kongres Amerika memperingatkan Eropa bahwa jika mengambil jalan untuk menjinakkan sanksi nuklir terhadap Iran, maka mereka akan mendapat sanksi dari Washington.

 

Kasus baru sanksi Amerika adalah pemerintah Trump menerapkan sanksi terbaru kepada Rusia dan Korea Utara. Departemen Keuangan AS memboikot Bank Agrosoyuz Rusia di Moskow. Berdasarkan klaim Departemen Keuangan, sanksi baru kepada bank Rusia ini karena memberi kemudahan kepada individu yang terlibat dengan program nuklir Korea Utara untuk melakukan transaksi.

Rusia-Amerika

 

Departemen ini di langkah terbarunya terhadap Korut juga menancumkan sebuah bank dan perusahaan negara ini serta sebuah perusahaan Cina ke dalam list sanksi.

 

Langkah Amerika ini menuai reaksi negatif dari Rusiah. Sergei Ryabkov dalam sebuah statemennya mengingatkan bahwa sanksi terhadap Bank Agrosoyuz Rusia oleh Amerika merupakan sanksi ke 54 Washington kepada Moskow yang diterapkan sejak tahun 2011.

 

Menurut Ryabkov bahkan elit politik Amerika yang mengidap Rusiaphobia menekankan bahwa represi tidak akan berpengaruh pada Rusia, namun mereka masih tetap melanjutkan tekanan gilanya untuk melanjutkan pendekatan ini. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan mereka menghadapi Rusia.

 

Selain itu, senator berpengaruh Amerika menyerahkan rencana sanksi baru terhadap Rusia di mana usulan tersebut mengadopsi pembatasan di bidang hutang pemerintah Rusia dan investasi di sektor energi dan perusahaan pemerintah. Amerika sejak tahun 2014 dan setelah krisis Ukraina telah menerapkan sejumlah paket sanksi ekonomi dan finansial terhadap Rusia serta memaksa negara lain untuk bergabung dengan sanksi ini.

 

Sanksi terbaru Amerika terhadap Korea Utara diterapkan ketika Presiden AS Donald Trump telah bertemu dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura pada Juni 2018 serta mengungkapkan pandangan positifnya akan pemulihan hubungan kedua negara. Di sisi lain, ia juga menekankan dilanjutkannya represi sanksi terhadap Korut.

 

Ri Yong-ho, Menteri Luar Negeri Korut mengatakan, Pyongyang sepenuhnya komitmen dengan kesepakatan yang diraih dengan Amerika di sidang Juni di Singapura, namun sangat khawatir dengan pendekatan Amerika.

 

Sepertinya bagi petinggi Washington, baik itu Kongres maupun Gedung Putih, sanksi adalah instrumen paling utama untuk meraih ambisi yang mereka canangkan di sektor politik, ekonomi dan bahkan militer.

 

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif seraya menjelaskan bahwa Amerika kecanduan sanksi mengatakan, sejarah hubungan luar negeri Amerika menunjukkan bahwa negara ini sudah biasa menjatuhkan sanksi kepada mayoritas negara dunia. (MF)