Hobi AS Melangggar Komitmen dan Perjanjian
https://parstoday.ir/id/news/world-i61348-hobi_as_melangggar_komitmen_dan_perjanjian
James Mattis, Menteri Pertahanan Amerika Serikat dalam sebuah pertemuan di Pentagon menyatakan, "Kami akan bekerjasama dengan seluruh sekutu untuk melucuti senjata nuklir di Semenanjung Korea."
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Aug 29, 2018 11:04 Asia/Jakarta
  • Trump dan Kim
    Trump dan Kim

James Mattis, Menteri Pertahanan Amerika Serikat dalam sebuah pertemuan di Pentagon menyatakan, "Kami akan bekerjasama dengan seluruh sekutu untuk melucuti senjata nuklir di Semenanjung Korea."

Menhan AS menambahkan, Washington hanya menangguhkan manuver militer besar dengan Seoul akan tetapi manuver militer dalam skala lebih kecil tetap berlanjut. Setelah berkomitmen untuk menghentikan manuver militer di Semenanjung Korea, Amerika Serikat kembali menyebutkan pengecualian dalam komitmennya dengan mengklaim bahwa hanya manuver militer skala massif yang ditangguhkan. Dengan langkah tersebut, Amerika Serikat kembali menunjukkan kepada dunia kegemarannya melanggar komitmen dan perjanjian di kancah global.

 

Media massa Korea Utara mereaksi manuver militer AS dengan Jepang dan menyatakan, "Kami tidak akan tinggal diam dalam menyikapi sikap standar ganda Amerika Serikat." Manuver tersebut sangat provokatif dan berbahaya dan akan menyimpangkan dialog antara AS dan Korea Utara dari jalurnya.

 

Diperkirakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump berunding dengan Korea Utara hanya untuk meraih prestige media karena pada praktisnya tidak ada langkah apapun yang diambil. Para diplomat hingga kini belum  dapat memajukan proses dialog perlucutan senjata nuklir.

 

Pyongyang mereaksi pengingkaran janji Amerika Serikat, pekan lalu melayangkan surat kepada Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo dan memperingatkan soal bahaya gagalnya dialog perlucutan senjata nuklir. Pasca agitasi Amerika Serikat yang berpendapat bahwa perundingan perlucutan senjata nuklir Semenanjung Korea dengan cepat akan membuahkan hasil, fakta di lapangan segera menunjukkan kontradiksi ketika juru bicara Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa dialog dengan Korea Utara akan berlangsung rumit dan melalui proses sangat panjang.

 

Para analis berpendapat bahwa kondisi telah kembali hingga ke masa sebelum dialog antara Trump dan Kim Jong-un. Karena Washington terbukti tidak memiliki niat baik di balik dialognya dan pembatalan kunjungan Menlu AS ke Pyongyang dengan alasan tidak diambilnya langkah-langkah awal oleh Korea Utara, membuktikan pendapat tersebut.

 

Faktanya, Pyongyang telah melaksanakan apapun yang seharusnya dilaksanakannya, namun Amerika Serikat dengan pernyataan dan tuduhan berulangnya, hanya sedang mencari alasan.

 

Christine Hong, seorang dosen di Amerika Serikat menyatakan, "Pembatalan putaran mendatang dialog AS dengan Korea Utara menunjukkan bahwa AS sama sekali tidak berunding dengan niat baik, sementara dalam masalah pemberian konsesi, Korea Utara telah melaksanakan apa saja yang harus dilaksanakannya."

 

Sikap standar ganda Amerika Serikat dalam perundingan telah menyeret kembali situasi hingga ke era sebelum dialog Trump-Kim dan kecil kemungkinannya Korea Utara bersama AS dapat mewujudkan perdamaian berkesinambungan menyusul luasnya friksi aslkdfj di antara keduanya dan berbagai masalah yang ada.

 

Sama seperti keluarnya Washington dari kesepakatan nuklir dengan Iran Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA), sikap terbaru AS di hadapan Korea Utara juga kembali membuktikan kepada dunia bahwa AS memang bukan negara yang dapat dipercaya dalam perundingan apapun.(MZ)