Persaingan AS dan Inggris di Afghanistan
https://parstoday.ir/id/news/world-i61512-persaingan_as_dan_inggris_di_afghanistan
Kunjungan bersamaan menhan Inggris dan wakil Amerika ke Kabul menunjukkan eskalasi persaingan antara London dan Washington untuk memperkuat kehadiran politik dan keamanan, khususnya di transformasi mendatang Afghanistan.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 02, 2018 15:36 Asia/Jakarta
  • Menhan Inggris Gavin Williamson
    Menhan Inggris Gavin Williamson

Kunjungan bersamaan menhan Inggris dan wakil Amerika ke Kabul menunjukkan eskalasi persaingan antara London dan Washington untuk memperkuat kehadiran politik dan keamanan, khususnya di transformasi mendatang Afghanistan.

Bersamaan dengan kunjungan Menhan Inggris, Gavin Williamson ke Kabul, lawatan Mantan dubes AS di Afghanistan, Zalmay Khalilzad yang dalam waktu dekat akan dikukuhkan sebagai utusan khusus AS untuk Afghanistan menunjukkan bahwa pemerintah Inggris dan Amerika meningkatkan persaingan mereka untuk memperluas pengaruhnya di struktur politik dan keamanan Afghanistan. Persaingan ini cukup penting mengingat pemilu mendatang di negara ini.

 

Pertemuan menhan Inggris dengan Hamdullah Mohib, penasihat baru keamanan nasional Afghanistan yang sebelumnya menjadi dubes negara ini di Amerika mengindikasikan kekhawatiran London atas penguatan wajah dan catur Amerika di struktur keamanan dan politik Afghanistan.

 

Sementara itu, Mohammad Hanif Atmar, mantan penasihat keamanan nasional Afghanistan mengundurkan diri karena memiliki friksi dengan Presiden Mohamad Ashraf Ghani dan kian dekat dengan London serta memiliki hubungan baik dengan kedubes negara ini di Kabul.

MIliter Inggris

 

Sejak tahun 2001, ketika agresi Amerika ke Afghanistan, Inggris menempatkan militernya di negara ini dan mengingat kolonialisme Inggris di Afghanistan dan pemahamannya atas kondisi etnis negaraini, London langsung menjalin kontrak dengan Taliban di Musa Qala. Selain menciptakan lingkaran keamanan bagi pasukannya di Afghanistan, juga menguasai kekayaan alam negara ini. Padahal Inggris tidak pernah menjalankan komitmennya termasuk memerangi narkotika yang dimandarkan kepadanya berdasarkan Konferensi Bonn Jerman.

 

Waheed Muzhda, pakar politik di Afghanistan mengatakan, "Perang melawan opium dan narkotika di Afghanistan memburuhkan tekad serius, bukannya program sandiwara. Para penyelundup narkotika atau petani opium bukan masalah sebenarnya, tapi masalah utama adalah negara-negara Barat."

 

Kebijakan Presiden AS Donald Trump untuk menjadikan perang sebagai perdagangan mendorong eskalasi persaingan AS dan Inggris di Afghanistan. Pertemuan Zalmay Khalilzad dan Gulbuddin Hekmatyar, pemimpin Partai Islam (the Hezb-e Islami) menunjukkan bahwa AS ingin memperkuat kubu Pasto untuk melawan etnis non Pasto dan Inggris.

 

Pengunduran diri Atmar dan posisinya yang digantikan oleh mantan dubes Afghanistan di AS dengan baik menunjukkan bahwa Wasington tidak berencana memberikan bagian di Afghanistan kepada negara lain.

 

Sayid Rahmatullah Nezhat Yar, pengamat politik Afghanistan menandaskan, "Friksi AS dan Inggris terkait Afghanistan semakin intens. AS berusaha menempatkan orang-orangnya di pos-pos penting pemerintah di Kabul, karena Inggris mengejar kepentingannya dan ini bagi Washington tidak menguntungkan, bahkan merugikan serta pada akhirnya AS berencana menghapus pejabat yang mendapat dukungan Inggris."

 

Bagaimana pun juga proses transformasi di Afghanistan seiring dengan kian dekatnya pemilu majelis nasional dan dewan negara bagian menunjukkan kian aktifnya AS dan Inggris untuk memperkuat elit politik dan buah caturnya di Afghanistan.

 

Sepertinya perubahan penasihat keamanan nasional pemerintah Afghanistan telah membuat Inggris khawatir akan kehilangan orang-orangnya dan perubahan kondisi saat ini menguntungkan AS akan mengancam kepentingan Inggris di Afghanistan.

 

Mian Abrar, pengamat politik Pakistan mengatakan, "Sinyal yang dikirim dari Washington menunjukkan bahwa Donald Trump mengambil pendekatan fokus terhadap Amerika Serikat. Oleh karena itu, Inggris menghendaki posisinya di Asia semakin kuat dengan kehadiran lebih besar di Afghanistan, di mana di wilayah ini partisipasi strategis bagi mulai terbentuk." (MF)