Ketika Perancis Mengakui Kemenangan Pemerintah Damaskus dalam Krisis Suriah
https://parstoday.ir/id/news/world-i61529-ketika_perancis_mengakui_kemenangan_pemerintah_damaskus_dalam_krisis_suriah
Perancis dan Inggris, sebagai dua anggota Uni Eropa sejak 2011, telah memfokuskan upaya untuk membantu secara penuh kepada semua jenis kelompok teroris dan ini sejalan dengan tujuan umum koalisi Barat-Arab untuk menggulingkan pemerintah Suriah. Dengan begitu, mereka beranggapan kelompok-kelompok teroris ini yang akan merealisasikan keinginan mereka melengserkan pemerintah Suriah dan Bashar Assad, Presiden Suriah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Sep 03, 2018 11:43 Asia/Jakarta
  • Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Perancis
    Jean-Yves Le Drian, Menteri Luar Negeri Perancis

Perancis dan Inggris, sebagai dua anggota Uni Eropa sejak 2011, telah memfokuskan upaya untuk membantu secara penuh kepada semua jenis kelompok teroris dan ini sejalan dengan tujuan umum koalisi Barat-Arab untuk menggulingkan pemerintah Suriah. Dengan begitu, mereka beranggapan kelompok-kelompok teroris ini yang akan merealisasikan keinginan mereka melengserkan pemerintah Suriah dan Bashar Assad, Presiden Suriah.

Kenyataannya, tujuan umum mereka dari tindakan ini adalah untuk menyerang inti perlawanan di kawasan, yaitu Suriah. Karena dengan tumbangnya pemerintah Suriah, jaringan Muqawama di kawasan akan terputus. Sekalipun demikian, perang di Suriah yang digelar telah meluluhlantakkan negara ini tetap tidak berhasil. Kini, perimbangan kekuatan di Suriah telah sepenuhnya berubah dan menguntungkan pemerintah Suriah. Militer Suriah dan sekutunya sedang mempersiapkan untuk membebaskan provinsi Idlib sebagai tempat bersembunyi terakhir kelompok teroris.

Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian

Negara-negara Barat pendukung teroris sangat sadar bahwa nasib kelompok teroris di Suriah sudah berakhir. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian hari Ahad (02/8) mengakui kemenangan pemerintah Suriah dalam perang melawan terorisme, tapi sekali lagi ia mengatakan bahwa bila Suriah menggunakan senjata kimia, negara-negara Barat akan melakukan serangan militer terhadap negara ini.

"Bahkan jika pemerintah Suriah dapat mengambil kembali Idlib dari para perusuh bersenjata, krisis Suriah tidak akan berakhir dan harus mengakhiri konflik ini lewat dialog," ungkap Le Drian.

Pernyataan Le Drian tentang kemenangan Bashar Assad dan pemerintah Suriah dalam perang di Suriah menunjukkan bahwa Barat telah berputus asa akan keberhasilan kelompok-kelompok teroris yang mereka dukung di Suriah. Namun, bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat bersama dengan mitra-mitra Eropanya sedang mencari jalan untuk melanjutkan intervensinya di Suriah. Kini mereka tengah mencari celah dan melakukan ancaman berulang kepada militer Suriah soal kemungkinan penggunaan senjata kimia dalam perang mendatang untuk membebaskan kota Idlib.

Sekalipun demikian, pemerintah Suriah dan Rusia sebagai sekutu dekatnya, telah berulang kali menyatakan bahwa skenario dukungan Barat yang didukung para teroris adalah menciptakan kondisi seakan-akan militer Suriah menggunakan senjata kimia dan dengan demikian ada alasan yang diperlukan untuk melakukan serangan militer terhadap Suriah.

"Banyak analis politik percaya kepentingan Amerika Serikat ada pada mempertahankan kekacauan di Timur Tengah, sehingga dapat mengail di air keruh," ungkap Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia.

Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia

Dalam hal ini, Kementerian Pertahanan Rusia pekan lalu mengumumkan bahwa mereka memiliki informasi kelompok teroris yang berafiliasi dengan al-Qaeda berencana menggunakan senjata kimia untuk menyeret Barat ke dalam konflik militer dengan Suriah. Pada saat yang sama, kapal-kapal perang Amerika Serikat yang diperlengkapi dengan rudal-rudal Cruise telah dikerahkan di timur Laut Mediterania. Moskow percaya bahwa Barat bermaksud untuk menargetkan daerah-daerah di Suriah dengan dalih menggunakan senjata kimia.

Untuk alasan ini, Rusia telah memulai latihan angkatan laut terbesarnya sejak Perang Dingin pada Sabtu (01/9) di Mediterania timur dan di sekitar perairan Suriah sebagai bentuk terhadap peringatan Barat. Dengan demikian, jelas bahwa Rusia bermaksud untuk berdiri bersama pemerintah Suriah untuk menghadapi plot Barat. Sejatinya, meskipun diakui oleh Menteri Luar Negeri Perancis bahwa rezim Suriah telah memenangkan perang saudara di negara ini, Barat berusaha untuk tetap menjadi aktor berpengaruh di Suriah dengan melakukan konspirasi.