Klaim Aneh AS soal Kesepakatan Nuklir Iran
-
Dirjen IAEA Yukia Amano dan Menlu AS Mike Pompeo dalam pertemuan di Washington.
Perjanjian nuklir Iran (JCPOA) adalah sebuah kesepakatan yang sangat penting untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional. Namun, Amerika Serikat secara sepihak meninggalkan JCPOA pada 8 Mei 2018. Keputusan ini tidak diterima oleh negara-negara lain anggota kesepakatan nuklir yaitu Rusia, Cina, Inggris, Perancis, dan Jerman, serta Uni Eropa.
Pemerintahan Trump berulang kali mengklaim bahwa Republik Islam Iran tidak mematuhi kesepakatan nuklir dan bahkan menuding Tehran berusaha memperoleh senjata pemusnah massal. Akan tetapi, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) – yang bertugas mengawasi pelaksanaan JCPOA – membantah klaim AS terkait program nuklir Iran dan memverifikasi kepatuhan penuh Tehran terhadap kesepakatan nuklir.
IAEA dalam 14 laporannya mengakui kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir JCPOA.
Anehnya, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam pertemuan dengan Dirjen IAEA Yukiya Amano di Washington, Rabu (3/4/2019) melontarkan klaim-klaim yang tidak sejalan dengan sikap resmi AS mengenai kesepakatan nuklir Iran.
Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Palladino dalam sebuah statemen mengatakan, "Menlu Pompeo dalam pertemuan tersebut menegaskan kembali dukungan AS terhadap pekerjaan IAEA dalam memperkuat non-proliferasi nuklir dan mempromosikan penggunaan energi nuklir damai, termasuk peran verifikasi kritis IAEA di Iran."
Jadi, jika pemerintah AS benar-benar percaya pada peran IAEA dalam memeriksa instalasi nuklir Iran dan memastikan kesesuaian kegiatan nuklirnya dengan JCPOA, mengapa harus melontarkan klaim palsu yang bertentangan dengan laporan badan nuklir PBB tersebut.
Amano dalam laporan terbarunya kepada Dewan Keamanan PBB, kembali memverifikasi kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir JCPOA. Dia mengatakan, sama sekali tidak ditemukan penyimpangan dalam kegiatan nuklir Republik Islam sejak tahun 2009 dan setelahnya.
"Sejak Januari 2016, IAEA melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan komitmen Iran berdasarkan JCPOA dan dalam sejumlah laporan kepada Dewan Gubernur IAEA, saya menekankan bahwa Iran sedang melaksanakan komitmennya," ujar Amano.
Dia mengakui bahwa tim inspeksi IAEA telah mengakses seluruh situs dan tempat-tempat yang diperlukan di Iran, serta meminta Tehran untuk tetap melaksanakan komitmennya secara penuh.
AS tampaknya tidak mengindahkan laporan-laporan IAEA mengenai aktivitas nuklir Iran dan hanya fokus pada klaim-klaim palsu rezim Zionis Israel terkait Tehran.
Washington sengaja mengangkat klaim palsu sehingga memiliki alasan untuk meningkatkan tekanan terhadap Tehran.
Ketua Kelompok Aksi Iran di Departemen Luar Negeri AS, Brian Hook mengatakan, Washington memilih keluar dari JCPOA sehingga bisa meningkatkan tekanannya terhadap Tehran dan melanjutkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran. (RM)