Pesan untuk Trump dari Korea Utara
-
Pemimpin Korut, Kim Jong-un (kiri) dan Presiden AS Donald Trump (kanan).
Korea Utara pada Rabu lalu (17/4/2019) melakukan uji coba sebuah rudal taktis baru, yang diawasi langsung oleh pemimpin negara itu, Kim Jong-un.
Menurut laporan kantor berita pemerintah Korea Utara (KCNA), ini adalah uji coba pertama setelah Kim melakukan dua kali pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump pada Juni 2018 di Singapura dan Februari 2019 di Hanoi, Vietnam.
Dalam beberapa pekan terakhir, Korut menyatakan akan melanjutkan uji coba rudal jika AS tidak menangguhkan sanksinya, melanjutkan penjualan senjata ke Korea Selatan, dan melakukan latihan militer dengan sekutunya di Semenanjung Korea.
Kim Jong-un juga telah mengeluarkan ultimatum bahwa AS memiliki waktu sampai Desember 2019 untuk menyelamatkan KTT bilateral dari kegagalan total. Namun, Gedung Putih memberikan reaksi negatif terhadap pernyataan Kim.
Uji coba ini menunjukkan bahwa Pyongyang tidak ingin memberikan kesempatan lebih lama lagi kepada Washington terkait pemenuhan komitmennya, yang dijanjikan Trump selama perundingan pertama di Singapura.

Berdasarkan kesepakatan Singapura, AS akan menangguhkan sanksi terhadap Korut selama Pyongyang menghentikan uji coba rudal dan nuklir sampai kedua pihak mencapai kesepakatan final mengenai pelucutan senjata di Semenanjung Korea.
Korut kemudian menghentikan uji coba rudal dan nuklirnya, tetapi pemerintah AS tidak memenuhi komitmennya dan justru memperpanjang sanksi terhadap negara tersebut.
Selain itu, AS juga mengambil beberapa langkah lain di kawasan termasuk melakukan manuver militer gabungan dengan sekutunya. Di sini, Pyongyang berkesimpulan bahwa AS sedang menggunakan pendekatan "semua atau tidak sama sekali" di hadapan Korut.
Dengan kata lain, Korut tidak akan memperoleh konsesi apapun sebagai imbalan menghentikan uji coba rudalnya dan kemudian menghancurkan instalasi-instalasi nuklirnya.
Seorang pengamat politik Amerika, Jenny Town mengatakan, "Ketika kedua pihak tidak mencapai kesepakatan sementara, maka mereka telah kehilangan energi yang dikumpulkan selama pertemuan tahun lalu dan semua sedang berbalik. Pendekatan 'semua atau tidak sama sekali' terbukti selalu gagal karena di sini kedua pemain tidak saling percaya."
Pada dasarnya, Korut memandang positif prinsip perundingan dengan AS untuk mengakhiri krisis di Semenajung Korea, tetapi tuntutan berlebihan Washington membuat Pyongyang segera kembali ke kondisi sebelum perundingan.
Pengalaman baru Korut memperlihatkan bahwa AS menjalankan hegemoninya dalam berinteraksi dengan negara lain. Pihak lain harus selalu menjadi pecundang dalam perundingan dengan Washington.
Namun, keputusan Pyongyang melakukan uji coba rudal telah mengirim pesan kepada Washington bahwa negara-negara lain tidak lagi bersedia menjadi pecundang dalam perundingan dengan AS. (RM)