PBB Kecam Pengeboman Tripoli
-
Krisis di Libya
Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa Sabtu (27/4) mengutuk keras pengeboman wilayah pemukiman warga sipil di Tripoli dan menyebutnya tidak dapat diterima.
Seperti dilaporkan al-Alam, Stephane Dujarric seraya menekankan bahwa pengeboman wilayah pemukiman warga sipil di Tripoli oleh kubu manapun tidak dapat diterima mengingatkan, PBB sangat khawatir dengan serangan udara dan pengeboman membabi buta wilayah pemukiman sipil di Libya.
Dujarric juga meminta pihak-pihak yang terlibat konfrontasi di Libya secepatnya menyiapkan akses tanpa syarat tim penyelamat ke wilayah konflik.
Selama beberapa hari terakhir bentrokan antara Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Khalifa Haftar dengan pasukan pemerintah rekonsiliasi nasional di selatan dan timur Tripoli mencapai puncaknya.
Tentara Nasional Libya (LNA)yang selama bertahun tahun menguasai timur Libya dengan dukungan Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) selama beberapa bulan terakhir bergerak ke arah utara negara ini. Haftar 4 April lalu menginstruksikan pasukannya menyerang Tripoli.
Koran The Wall Street Journal baru-baru ini melaporkan, Haftar usai kunjungannya ke Riyadh memutuskan untuk menyerang Tripoli. Sejak mulainya serangan hingga kini tercatat 270 orang tewas di Tripoli dan 1300 lainnya terluka.
Libya sejak Revolusi 2011 yang berujung pada tumbangnya Diktator Muammar Gaddafi mengalami instabilitas politik dan kekerasan akibat intervensi AS dan sejumlah negara Eropa serta kawasan.
Sejak empat tahun lalu, Libya memiliki dua parlemen akibat friksi mendalam di negara ini, satu parlemen di Tobruk (wilayah timur) dan satu di Tripoli, serta memiliki dua angkatan bersenjata.
Parlemen Tobruk mendapat dukungan Tentara Nasional Libya (LNA) yang dipimpin Khalifa Haftar dan pemerintah rekonsiliasi nasional Libya dipimpin Perdana Menteri Fayez al-Sarraj mendapat dukungan masyarakat internasional berada di Tripoli. (MF)