Sikap Agresif AS di Teluk Persia
https://parstoday.ir/id/news/world-i71227-sikap_agresif_as_di_teluk_persia
Pemerintahan Trump menjalankan taktik tekanan maksimum terhadap Iran setelah keluar dari perjanjian nuklir JCPOA. Penerapan taktik yang berbahaya ini mengundang peringatan dari para rival AS seperti Rusia dan bahkan sekutu-sekutu Washington di Eropa.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 21, 2019 11:47 Asia/Jakarta
  • Presiden Donald Trump.
    Presiden Donald Trump.

Pemerintahan Trump menjalankan taktik tekanan maksimum terhadap Iran setelah keluar dari perjanjian nuklir JCPOA. Penerapan taktik yang berbahaya ini mengundang peringatan dari para rival AS seperti Rusia dan bahkan sekutu-sekutu Washington di Eropa.

Pentagon baru-baru ini mengumumkan bahwa AS akan mengirim pasukan tambahan 1.000 personel ke Asia Barat bersama dengan satu batalyon yang dilengkapi dengan rudal Patriot, pesawat tanpa awak, dan pesawat pengintai berawak.

Dalam hal ini, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov mengatakan AS secara sengaja meningkatkan ketegangan di wilayah Teluk Persia.

"Rusia menyayangkan langkah AS meningkatkan ketegangan dan konfrontasi dengan Iran serta memperkuat kehadiran militernya di Asia Barat," ujarnya.

Ryabkov menerangkan bahwa tidak ada tanda-tanda AS akan menghentikan tindakannya itu. AS sedang memperkuat kehadiran militernya dan menekan Iran, sebuah negara yang telah menunjukkan komitmennya terhadap perjanjian nuklir dan secara teknis juga masih berkomitmen pada JCPOA.

Penekanan Moskow ada pada dua isu penting yaitu: kepatuhan Iran pada JCPOA meskipun Eropa tidak memenuhi janjinya, dan kedua peran AS sebagai pemicu ketegangan di wilayah Asia Barat, khususnya Teluk Persia. Para pejabat Moskow sudah sering mengkritik dampak buruk dari kehadiran militer AS di kawasan.

Gedung Putih mengklaim kebijakannya terhadap Tehran fokus pada tekanan politik dan ekonomi, tetapi dalam praktiknya mereka memilih menambah pasukan di Teluk Persia secara signifikan.

Ilustrasi pasukan AS.

Perwakilan Khusus AS untuk Urusan Iran, Brian Hook, Rabu lalu mengatakan, "Kami tidak mengejar aksi militer terhadap Iran, tetapi kami membela kepentingan kami. Prinsip kebijakan kami terhadap Iran adalah politik dan ekonomi."

Sebelum ini, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada 16 Juni menuduh Iran terlibat dalam serangan kapal tanker minyak di Laut Oman dan menyerukan tekanan ekonomi lebih lanjut terhadap Tehran.

Pompeo mengklaim bahwa Washington tidak ingin perang dengan Iran, namun akan terus menerapkan tekanan politik dan ekonomi pada negara itu.

Pemerintah AS berusaha menekan rakyat Iran lewat perang ekonomi dan bertekad melanjutkan kebijakan yang bermusuhan ini.

Ryabkov memperingatkan bahwa destabilisasi wilayah Teluk Persia sangat berbahaya dan sebelum semuanya terlambat, AS harus menghentikan aksinya itu. Dia berharap pengerahan pasukan AS dan peralatan tambahan ke Teluk Persia tidak akan mengarah pada percikan api, yang akan menyebabkan konflik di kawasan.

Para sekutu AS di Eropa juga memandang kebijakan Trump terhadap Iran telah memperburuk ketegangan di kawasan. Menteri luar negeri Prancis dan Jerman memperingatkan potensi konflik di Teluk Persia dan meminta semua pihak menahan diri.

Menlu Prancis, Jean-Yves Le Drian pada 19 Juni lalu mengatakan tekanan maksimum AS terhadap Iran berkontribusi dalam memperburuk ketegangan.

Saat ini negara-negara Eropa sangat khawatir dengan petualangan AS di wilayah tersebut. Terlepas dari tindakan provokatif AS, Iran berulang kali berbicara tentang urgensitas menciptakan stabilitas dan keamanan di Teluk Persia dan menentang pendekatan Trump.

Dengan mengambil sikap yang bertanggung jawab, Republik Islam berusaha menciptakan stabilitas dan ketenangan di Teluk Persia. (RM)