Sanksi Baru AS dan Kekhawatiran Washington tentang Peningkatan Kemampuan Rudal Iran
-
Sanksi
Selama masa kepresidenan Donald Trump, Amerika Serikat telah memberikan tekanan maksimum pada Iran. Dalam hal ini, AS telah menerapkan berbagai sanksi setelah menarik diri dari perjanjian nuklir Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA) sebagai patokannya dalam mengambil langkah-langkah anti-Iran.
Dalam sanksi terbaru Washington terhadap Iran, Kementerian Departemen Keuangan AS pada hari Rabu, 28 Agustus, memasukkan lima orang dan lima perusahaan dalam daftar sanksi dengan alasan memiliki hubungan dengan program rudal Iran. Kementerian Keuangan AS dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa mereka telah memboikot dua jaringan yang terkait dengan program rudal Iran.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kemenkeu AS diisebutkan, "Hari ini, Kantor Pengendalian Aset Asing Departemen Keuangan AS menargetkan dua jaringan yang ada hubungannya dengan Iran karena melakukan aktivitas rahasia pengadaan yang menguntungkan sejumlah organisasi militer Iran sesuai dengan Keputusan Presiden No.13382."
Kementerian Keuangan AS telah mengklaim bahwa salah satu dari dua jaringan telah menggunakan perusahaan fiktif yang berbasis di Hong Kong untuk menghindari sanksi dan memfasilitasi transaksi terkait dengan program rudal Iran. Menurut Kemenkeu AS, jaringan kedua telah membeli produk-produk paduan aluminium atas nama perusahaan-perusahaan yang dikendalikan atau dimiliki oleh Kementerian Pertahanan Iran.
Sigal Mandelker, Deputi Kemenkeu AS urusan Terorisme dan Informasi Finansial mengatakan, "Pemerintah AS akan mencegah upaya Iran untuk menggunakan "rencana canggih" demi menghindari sanksi."
Langkah AS baru-baru ini untuk memboikot perusahaan dan individu yang diklaim telah berkontribusi pada program rudal Iran telah sejalan dengan tujuan keseluruhan Washington untuk menciptakan banyak hambatan bagi pengembangan kemampuan rudal Iran.
Pada dasarnya, salah satu tuntutan utama pemerintahan Trump yang berada di bawah 12 syarat yang ditetapkan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada Mei 2018 adalah untuk menghentikan program rudal Iran dan para pejabat senior AS seperti Trump dan Pompeo telah berulang kali mengambil sikap dan atau dalam pertemuannya dengan para pejabat dari negara-negara lain, khususnya anggota 4 +1 Eropa, telah menekankan perlunya menghentikan pengembangan rudal Iran.
Padahal, Republik Islam Iran telah menekankan haknya untuk memperluas program misilnya untuk mempertahankan diri dan bersikeras bahwa doktrin pertahanannya didasarkan pada pencegahan dan pertahanan. Intinya, Iran mengandalkan para ahli dan kapasitas dalam negerinya untuk memperluas dan meningkatkan kemampuan rudalnya dan sanksi AS yang diakui dapat menggagalkan kemajuan rudal Iran dan atau mencegah Iran mengakses bahan dan komponen yang diperlukan di bidang ini, ternyata tidak pernah mampu menciptakan gangguan dalam pengembangan rudal Iran.
Pakar Asia Barat Vladimir Sajin yakin Tehran telah menjawab sanksi Washington dengan meningkatkan program misilnya. Menurutnya, "Iran telah membuat kemajuan signifikan dalam produksi rudal dengan memproduksi dua puluh jenis rudal." Sagin mengatakan bahwa upaya AS untuk menghentikan program rudal Iran melalui sanksi yang berat hanya akan sia-sia.
Amerika Serikat telah mencoba menghubungkan program nuklir Iran dengan program misilnya. Oleh karena itu, pemerintahan Trump juga mengkondisikan negosiasi ulang untuk kembali ke JCPOA pada penerapan ketentuan penghentian program rudal Iran bersama dengan masalah nuklir, khususnya penghentian pengayaan. Trump mengklaim bahwa JCPOA telah gagal mengendalikan kegiatan nuklir Iran dan memenuhi kepentingan dan tuntutan AS, terutama dalam menghadapi pembatasan serius pada program rudal Iran dan kebijakan regional.
Amerika Serikat, bersama dengan beberapa sekutunya, yang selalu berusaha memonopoli teknologi maju, mengklaim bahwa uji coba rudal Iran melanggar Resolusi Dewan Keamanan 2231. Padahal, gudang persenjataan Iran adalah defensif sejalan dengan doktrin pencegahan Iran. Tes rudal Iran juga sedang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rudal balistik.