Upaya Trump Membuka Negosiasi dengan Iran
https://parstoday.ir/id/news/world-i73715-upaya_trump_membuka_negosiasi_dengan_iran
Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton selalu mengadopsi pendekatan konfrontatif terhadap Iran dan merupakan salah satu aktor utama perancang kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Sep 13, 2019 15:08 Asia/Jakarta
  • Presiden Donald Trump.
    Presiden Donald Trump.

Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton selalu mengadopsi pendekatan konfrontatif terhadap Iran dan merupakan salah satu aktor utama perancang kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran.

Ia kemudian dipecat dari posisinya karena kerap berbeda pandangan dengan Presiden Donald Trump. Dalam sebuah pernyataan terbaru, Trump mengatakan John Bolton berbuat banyak kesalahan dan tidak cocok dengan orang-orang penting di pemerintah AS. Menurut Trump, ia banyak membuat kesalahan termasuk dalam kasus Libya.

Presiden AS juga mengaku tidak sependapat dengan Bolton dalam masalah Venezuela. Menurutnya, Bolton telah mengambil jalur yang salah mengenai Venezuela.

Bolton dikenal sebagai salah satu penghasut perang dan mengejar pendekatan konfrontatif dalam kebijakan luar negeri AS, terutama dalam masalah Iran. Dia meyakini bahwa salah satu misi Amerika adalah menguasai dunia dan ia harus berusaha untuk mewujudkan itu.

Media-media Amerika mengungkap beberapa alasan pemecatan mendadak Bolton antara lain: perbedaan visi Trump dengan Bolton dalam masalah Afghanistan, Korea Utara, Suriah, Venezuela, dan Iran serta ambisinya untuk perang, sementara Trump lebih mengedepankan diplomasi.

Meski demikian, banyak analis menilai pemecatan Bolton bukan karena semangat diplomasi yang dibawa Trump, tetapi kebijakan konfrontatif dan unilateralisme AS di kancah internasional terbukti telah gagal.

Bolton – baik semasa menjadi duta besar AS untuk PBB pada era George W. Bush maupun selama berkarir di American Enterprise Institute – selalu mengambil sikap yang sangat keras terhadap Iran. Ia mendukung penuh kelompok teroris munafikin (MKO) dan serangan militer untuk menumbangkan sistem Republik Islam Iran.

Donald Trump (kiri) dan John Bolton (kanan).

Dia mengejar pendekatan yang sama selama menjabat sebagai penasihat keamanan nasional Gedung Putih. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif memasukkan Bolton sebagai anggota Tim B karena komentar dan sikap kerasnya terhadap Tehran.

Tim-B yang dimaskud Zarif adalah John Bolton, Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed Al Nahyan. Namun setelah Bolton dipecat, anggota kunci tim tersebut telah berkurang dan tentu saja kekuatan mereka untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran akan melemah.

Dalam sebuah perubahan sikap secara terbuka, Trump bersikap relatif lunak terhadap Iran dan berbicara tentang kemungkinan pengurangan sebagian sanksi dengan tujuan membuka pintu negosiasi dengan Tehran.

“Kami ingin menegosiasikan sebuah kesepakatan dengan Iran jika mereka mau. Jika mereka tidak mau, itu juga tidak masalah. Tetapi saya yakin Iran ingin mencapai kesepakatan,” katanya.

Saat ditanya soal pengurangan sanksi terhadap Iran sebagai mukaddimah untuk bertemu dengan Presiden Hassan Rouhani, Trump mengatakan, “Kita akan lihat apa yang bakal terjadi.” Dia juga menekankan AS tidak mencari perubahan sistem di Iran.

Sikap Trump ini berbeda dengan pendekatan-pendekatan sebelumnya. Ia tampaknya tidak punya pilihan lain dan ingin menorehkan sebuah prestasi di kancah internasional untuk menyongsong pemilu presiden AS pada November 2020. Setelah gagal dalam berurusan dengan Korea Utara dan Venezuela, sekarang ia menaruh perhatian pada Iran.

Namun, Republik Islam menegaskan selama sanksi-sanksi tidak dicabut, maka tidak ada peluang untuk perundingan dengan AS. Di samping itu, Iran sama sekali tidak menegosiasikan hak-hak dan kemampuannya di bidang nuklir, rudal, kebijakan luar negeri, dan tuntutan lain Trump. (RM)