Amerika Tinjauan dari Dalam 21 September 2019
-
Donald Trump
Acara Amerika tinjauan dari dalam kita pekan ini akan menyoroti sejumlah transformasi di Amerika selama sepekan terakhir, di antaranya: AS tak Butuh Minyak Timteng, tapi akan Bantu Sekutunya dan Trump kembali Hina Arab Saudi.
Isu lainnya adalah Washington Post: Panas, Pentagon Hindari Konflik dengan Iran, Trump Tolak Rencana Militer AS Serang Iran, Sanders kepada Pompeo, Misi Anda Diplomasi, bukan Provokator Perang dan Pompeo tak Sengaja Akui Krisis Iran Akibat Ulah Trump.
Trump: AS tak Butuh Minyak Timteng, tapi akan Bantu Sekutunya
Mereaksi penyerangan kilang minyak Aramco di Arab Saudi, Presiden Amerika Serikat di laman Twitternya menulis, Washington tidak membutuhkan minyak dan gas dari Timur Tengah. Menurut Trump, Amerika sekarang sudah menjadi eksportir energi pertama di dunia.
Fars News (16/9/2019) melaporkan, Presiden Amerika, Donald Trump merespon serangan ke kilang minyak Aramco, Saudi.
Di akun Twitternya, Trump menulis, karena kami memiliki kinerja yang baik di bidang energi dalam beberapa tahun terakhir, kini kami mengekspor energi dan sekarang kami adalah produsen energi pertama di dunia.
Menurutnya Amerika tidak membutuhkan lagi minyak dan gas dari Timur Tengah, realitasnya Amerika memiliki sangat sedikit kapal tanker di Timur Tengah, namun Washington akan melindungi sekutu-sekutunya di kawasan.
Trump kembali Hina Arab Saudi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump Senin (16/09) kembali meminta Arab Saudi membayar biaya lebih besar atas dukungan Washington kepada Riyadh.
Saat bertemu dengan putra mahkota Bahrain di Gedung Putih serta Menlu AS Mike Pompe, Presiden AS Donald Trump tanpa membari bukti menuding Iran bertanggung jawab atas serangan ke instalasi minyak Arab Saudi dan mengatakan, Washington siap membela keamanan Arab Saudi dengan syarat Riyadh membayar uang lebih kepada Amerika.
Terkait potensi konfrontasi dengan Iran akibat serangan ke instalasi minyak Arab Saudi yang diklaim Washington dilakukan oleh Tehran, Trump menekankan, AS tidak berencana terlibat konfrontasi dengan Republik Islam Iran.
Sebelumnya Trump menyebut pemimpin Saudi sapi perah dan dalam sebuah pidato kampanye pemilu ia menekankan bahwa kerajaan Arab Saudi tidak akan bertahan dua pekan tanpa dukungan Amerika Serikat.
Unit drone militer dan komite rakyat Yaman Sabtu (14/09) mengirim 10 drone produk dalam negeri dan menyerang kilang minyak Buqayq dan Khurais milik perusahaan minyak nasional Arab Saudi (Aramco).
Pasca serangan ini Juru bicara militer Yaman,Yahya Saree dalam statemennya menjelaskan, operasi tersebut dilakukan dalam koridor hak legal bangsa Yaman membalas kejahatan koalisi Arab Saudi dan blokade lima tahun terhadap Yaman.
Sementara itu, AS berulang kali melontarkan tudingan tanpa dasar terhadap Iran dan mengklaim Tehran berada di balik layar serangan drone Yaman ke instalasi minyak Arab Saudi.
Arab Saudi dengan dukungan AS dan Uni Emirat Arab serta sejumlah negara lain melancarkan agresi militer ke Yaman sejak Maret 2015 dan memblokade negara ini dari darat, udara dan laut.
Perang yang dikobarkan Arab Saudi beserta sekutunya di Yaman sampai saat ini telah menewaskan lebih dari 16 ribu orang, menciderai puluhan ribu lainnya dan memaksa jutaan warga Yaman mengungsi.
Washington Post: Panas, Pentagon Hindari Konflik dengan Iran
Surat kabar Amerika Serikat, terkait tuduhan menteri luar negeri negara itu terhadap Iran soal serangan ke kilang minyak Arab Saudi hari Sabtu (14/9/2019) mengabarkan bahwa Kementerian Pertahanan Amerika, Pentagon mencemaskan konfrontasi militer dengan Iran.
Fars News (17/9/2019) melaporkan, Washington Post menulis, pasca serangan ke kilang minyak Aramco, Pentagon lebih memilih untuk menahan diri, dan memperingatkan soal kemungkinan pecahnya konfrontasi Amerika dengan Iran.
Pejabat militer Amerika di Pentagon tampak berhati-hati dalam mengambil sikap terkait krisis terbaru kawasan, dan berusaha menurunkan ketegangan. Ketegangan yang menurut mereka mungkin saja menyeret Amerika ke dalam sebuah pertempuran berdarah melawan Iran.
Di sisi lain Pentagon saat ini sedang mengurangi kehadirannya dalam perang-perang di Timur Tengah, dan mengubah visinya untuk bersaing dengan Cina.
Seorang pejabat Pentagon yang tidak bersedia diungkap identitasnya kepada Washington Post menuturkan, tidak ada satupun tentara atau fasilitas Amerika yang terkena serangan terbaru ke Saudi, artinya balasan militer Amerika, tidak tepat dilakukan.
Ia menambahkan, jika pemerintah Gedung Putih menilai langkah militer ini urgen, maka mereka harus menemukan pijakan konstitusi dan hukumnya.
Pejabat militer Amerika itu juga memperingatkan, jika ketegangan dengan Iran keluar dari kontrol, maka minimal 70.000 tentara Amerika di bawah komando CENTCOM di kawasan mulai dari Mesir hingga Pakistan, berada dalam bahaya.
Trump Tolak Rencana Militer AS Serang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sidang keamanan nasional menolak rencana militer Amerika untuk menyerang Republik Islam Iran.
NBCNews Rabu (18/09) melaporkan, para komandan militer Amerika di sidang hari Senin menggulirkan opsi menyerang Iran, namun Donald Trump menentang rencana konfrontasi kembali negara ini dalam sebuah perang asing.
Menurut laporan media, Donald Trump tengah mengkaji berbagai opsi balasan terhadpa Iran termasuk serangan cyber atau serangan fisik terhadap instalasi minyak Iran atau pun membekukan aset negara ini.
Menyusul tersiarnya berita ini, laman Politico di laporannya menulis, Trump khawatir atas dampak ekonomi dan politik perang Amerika dengan Iran.
Selama beberapa waktu lalu, petinggi Amerika tanpa memberikan bukti mengklaim bahwa Republik Islam Iran berada di balik serangan drone Yaman ke Arab Saudi.
Sanders kepada Pompeo, Misi Anda Diplomasi, bukan Provokator Perang
Senator Amerika Serikat memperingatkan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bahwa rakyat negara ini tidak boleh terlilit langkah haus perang Gedung Putih di Asia Barat.
Menurut laporan televisi al-Mayadeen, Bernie Sanders, senator independen AS dan salah satu kandidat pemilu internal Partai Demokrat di pilpres 2020 kepada Pompeo mengatakan, serangan terhadap instalasi minyak Arab Saudi bukan serangan ke AS, jika Anda menghendaki perang maka gulirkan masalah ini di DPR.
Masih kepada Pompeo, Sanders menekankan, misi menlu AS adalah memanfaatkan diplomasi untuk menyelesaikan konfrontasi, bukan provokasi perang dan ia tidak akan pernah diberi wewenang untuk melakukan hal ini.
Mike Pompeo Rabu malam di Jeddah Arab Saudi, tanpa memberi bukti kembali mengulang klaim palsu anti Irannya dan mengklaim serangan ke instalasi minyak Arab Saudi bukan dilancarkan dari Yaman tapi dari Iran.
Menlu Amerika sebelumnya seraya mengulang klaim tak berdasar anti Iran mengklaim Tehran berada di balik layar serangan drone Yaman ke instalasi minyak Arab Saudi.
Klaim dan tudingan tak berdasar ini dirilis ketika pasukan relawan rakyat Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan ke instalasi minyak Arab Saudi.
Pompeo tak Sengaja Akui Krisis Iran Akibat Ulah Trump
Sebuah situs berita Perancis mengabarkan, saat membela strategi pemerintah Gedung Putih terkait Iran, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat secara tidak sengaja mengakui bahwa ketegangan terbaru dengan Iran adalah akibat langsung kebijakan Presiden Donald Trump.
Fars News (19/9/2019) melaporkan, situs Business Insider, Rabu (19/9) menulis, sejak keluar dari kesepakatan nuklir Iran, JCPOA, Amerika menerapkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Tehran, dengan harapan lewat jalur sanksi ekonomi keras, ia bisa memaksa Iran menuruti kemauannya.
Menurut Business Insider, tujuan akhir pemerintah Trump dengan menerapkan kebijakan tekanan maksimum adalah memaksa Iran kembali berunding, dan menyepakati kesepakatan baru yang lebih ketat dan sulit.
Akan tetapi, imbuhnya, sampai sekarang strategi keras Trump terhadap Iran, tidak berhasil dan hanya sedikit mempengaruhi perilaku Tehran.
Situs Perancis ini menjelaskan, pengakuan tidak sengaja Pompeo itu keluar saat diwawancarai wartawan yang menyertainya dalam kunjungan ke Saudi.
Pompeo menuturkan, sebag ian pihak mengatakan bahwa strategi Presiden Trump yang kita berikan izin untuknya, tidak efektif. Saya berargumen sebaliknya. Saya berargumen apa yang Anda saksikan, hasil langsungnya adalah hitung mundur kekalahan besar JCPOA.