Kehadiran Jangka Panjang Militer AS di Asia Barat
-
Pasukan Amerika di Suriah.
Presiden Donald Trump sudah sering berbicara tentang penarikan pasukan Amerika Serikat dari wilayah Asia Barat, terutama Suriah dan Afghanistan. Namun, perkembangan saat ini mencatat bahwa AS justru ingin menambah jumlah pasukannya dan menumpuk peralatan militer di kawasan.
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Jenderal Mark Milley mengatakan kehadiran militer AS di Asia Barat (Timur Tengah) sejalan dengan kepentingan nasional kami.
"Kehadiran ini akan tetap berlanjut untuk waktu yang tidak jelas," ujar Jenderal Milley dalam wawancara dengan televisi ABC pada Ahad lalu (10/11/2019).
"Pasukan Amerika kemungkinan akan tetap hadir di Afghanistan, Irak, dan Suriah untuk beberapa tahun ke depan," tambahnya.
Menurut Jenderal Milley, sekitar 600 tentara Amerika tetap berada di Suriah. Dia mengklaim bahwa kehadiran militer AS di Asia Barat bertujuan untuk mencegah berubahnya negara-negara regional menjadi sarang bagi teroris.
Namun, para pejabat dan masyarakat di negara-negara Asia Barat justru memandang AS sebagai aktor utama di balik kehadiran dan penyebaran teroris di kawasan.
AS dan sekutunya menyerang Afghanistan pada tahun 2001 dengan dalih memerangi terorisme dan memastikan keamanan, tapi ketidakamanan, terorisme, dan produksi narkotika di Afghanistan malah naik signifikan. AS juga menciptakan ruang untuk kegiatan kelompok teroris Daesh di negara itu.
Krisis di Suriah dipicu oleh serangan kelompok-kelompok teroris yang didukung AS dan sekutunya, dengan misi menggulingkan pemerintahan sah Suriah, menghancurkan poros perlawanan, dan mengubah perimbangan regional yang menguntungkan rezim Zionis Israel.
Washington sampai sekarang juga masih mempertahankan kehadiran ilegalnya di Suriah dengan alasan melindungi ladang minyak negara tersebut.
Pemerintah AS juga meningkatkan kehadiran militernya di Teluk Persia setelah menerapkan sanksi terhadap sektor minyak Iran. Kehadiran ini dilakukan dengan alasan melawan ancaman Tehran dan memperkuat sekutunya termasuk Arab Saudi. Pada dasarnya, kebijakan AS telah memperburuk instabilitas dan ketidakamanan di kawasan.
Sikap kontradiksi Trump soal penarikan pasukan AS dari Suriah dan Afghanistan menunjukkan bahwa ia tidak memiliki kebijakan luar negeri yang jelas dan terlihat ada perselisihan tajam di Washington antara Gedung Putih dan para politisi di Kongres.
Trump berada di bawah tekanan para legislator dan senator AS serta sekutunya di Eropa sehingga mengubah kebijakannya mengenai Suriah. Padahal, ia telah mengumumkan penarikan pasukan AS dari Suriah pada 19 Desember 2018. Hal yang sama juga terjadi dalam masalah Afghanistan.
Saat ini sekitar 14.000 pasukan AS berada di Afghanistan dan kehadiran mereka akan berlanjut untuk waktu yang tidak jelas. Ketidakjelasan ini mengindikasikan bahwa Trump dan Gedung Putih telah dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan yang berkuasa di AS. (RM)