Kesalahan Strategis Turki di Idlib
-
Pasukan Turki di Suriah
Intervensi militer Turki di Suriah, terutama dengan masuknya pasukan negara ini di Idlib telah menyebabkan meningkatnya bentrokan di wilayah utara negara Arab ini.
Dinamika lapangan terbaru menunjukkan militer Turki mengalami kekalahan telak di arena tempur Idlib. Dilaporkan, sebanyak 34 tentara Turki tewas dalam serangan udara yang dilancarkan pasukan Suriah yang didukung Rusia. Meskipun demikian, lima anggota pasukan Hizbullah yang mendukung pasukan Suriah gugur dalam serangan yang dilancarkan pasukan Turki di poros Saraqab. Sementara itu, para teroris yang berafiliasi dengan Ankara menderita kekalahan besar di Idlib.
Berbagai kalangan menilai Turki melakukan kesalahan strategis dalam serangan militer di Idlib.
Pertama, pemerintah Ankara mengira berperang dengan tentara Suriah seperti bertempur dengan milisi Kurdi di Afrin atau wilayah utara al-Hasakah dan al-Raqa. Padahal, militer Suriah bersama sekutunya memiliki kemampuan untuk menghadapi serangan militer Turki, bahkan berhasil melancarkan pukulan berat yang menimbulkan korban dari pihak tentara Turki. Serangan militer Suriah terhadap tentara Turki di distrik al-Barah di Jabal al-Zawiyah menunjukkan kepada Ankara mengenai kekuatan pertahanan pasukan negara ini yang didukung sekutunya menghadapi agresor.
Kedua, pemerintah Turki mengabaikan peringatan Rusia tentang konsekuensi dari serangan militer Ankara terhadap tentara Suriah yang dipandang hanya berupa peringatan verbal yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Namun faktanya, militer Rusia menanggapi invasi Turki di Idlib dengan membunuh 33 tentara Turki dalam serangan terbaru terhadap pangkalan teroris yang berafiliasi dengan Ankara.
Ketiga, kesalahan lain pemerintah Ankara memandang aksinya akan didukung oleh AS dan NATO, karena negara ini termasuk anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara. Turki yakin NATO akan mendukung aksinya memerangi pasukan Suriah yang didukung Rusia, tetapi tampaknya NATO hanya memberikan dukungan verbal saja.
Turki melancarkan agresi militer di Suriah untuk mendukung kelompok teroris Front al-Nusra. Padahal negara-negara Eropa telah mengingatkan Ankara supaya tidak mendukung Front Al-Nusra yang termasuk organisasi teroris. Kekalahan pasukan Turki di Jabal al-Zawiyah memicu reaksi dari sejumlah negara Eropa seperti Luxembourg yang mengingatkan Turki bahwa kehadirannya di Suriah tanpa koordinasi dengan NATO, dan kini mengharapkan dukungannya.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell juga menanggapi perkembangan terbaru di Idlib yang akan memicu konflik internasional besar-besaran, dengan mengatakan bahwa "situasi terbaru di Idlib menyebabkan penderitaan besar, karena menewaskan banyak warga sipil".
Sikap pejabat Uni Eropa dan anggota NATO terhadap langkah Turki di Idlib menunjukkan Ankara sendirian dalam melakukan petualangan politiknya di Suriah. Pemerintah Turki telah melakukan upaya besar selama sembilan tahun terakhir untuk menyeret NATO masuk dalam krisis Suriah, tetapi Ankara bertepuk sebelah tangan, bahkan ketika militer Rusia sudah melancarkan serangan terhadap militer Turki yang menewaskan puluhan tentaranya di Idlib. Hingga kini, NATO tidak melakukan intervensi militer untuk mendukung Turki sebagai salah satu anggotanya sebagaimana diharapkan Ankara sebelumnya.(PH)