Ancaman Erdogan terhadap Rusia
https://parstoday.ir/id/news/world-i79165-ancaman_erdogan_terhadap_rusia
Ketegangan Turki dan Rusia di Provinsi Idlib, Suriah meningkat tajam dan berpotensi memicu konfrontasi langsung antara kedua negara. Dalam sebuah pernyataan terbaru, Presiden Recep Tayyip Erdogan meminta Rusia menyingkir dari hadapan pasukan Turki di Idlib.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Mar 01, 2020 20:39 Asia/Jakarta
  • Presiden Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Vladimir Putin.
    Presiden Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Vladimir Putin.

Ketegangan Turki dan Rusia di Provinsi Idlib, Suriah meningkat tajam dan berpotensi memicu konfrontasi langsung antara kedua negara. Dalam sebuah pernyataan terbaru, Presiden Recep Tayyip Erdogan meminta Rusia menyingkir dari hadapan pasukan Turki di Idlib.

“Rusia mencoba mencampuri urusan Turki dengan menjadikan situasi di Idlib sebagai dalihnya. Pemerintah Ankara tidak mencari minyak dan pencaplokan wilayah Suriah, tapi ingin memastikan keamanan nasional Turki, namun Rusia berdiri di hadapannya,” kata Erdogan.

Para pejabat Turki dan Erdogan sudah sering mengaku tidak mengejar sumber daya alam Suriah dan wilayah negara itu. Dalam hal ini, mantan Menteri Luar Negeri Turki Yasar Yakis mengatakan, Turki ingin memaksakan sebuah perubahan dalam pemerintahan Suriah sesuai dengan kepentingannya sendiri.

“Turki mengejar pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad dan memilih pemerintah dengan kecenderungan ideologis yang sama yaitu kepemimpinan Islamis pro-Barat,” jelasnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa para pejabat pemerintah Turki tidak jujur dalam statemennya mengenai Suriah dan tidak konsisten dalam mengambil sikap.

Erdogan sudah beberapa kali mengancam Rusia demi mewujudkan ambisinya di Suriah. Sebelum ini, pemerintahan Ankara juga berseteru dengan Moskow dalam hubungannya dengan perkembangan di Suriah.

Konvoi pasukan Turki di wilayah Suriah.

Namun, Erdogan pada akhirnya memilih menyerah dan memperbaiki hubungan negaranya dengan Rusia.

Sebagai contoh, setelah Turki menembak jatuh jet tempur Rusia di wilayah Suriah pada tahun 2015, Moskow menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara tersebut. Erdogan kemudian meminta maaf kepada Presiden Vladimir Putin dan mengambil langkah-langkah agar sanksi Rusia dapat dicabut.

Erdogan secara mengejutkan menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Putin setelah tujuh bulan dari insiden itu. Jelas ini merupakan sebuah penghinaan kepada bangsa Turki.

Kubu oposisi Turki juga mengkritik keras sikap Erdogan dan mengatakan, “Dia hingga kemarin masih bersikap seperti singa, tapi hari ini seperti kucing yang mengeong-ngeong.”

Dalam menanggapi ancaman Erdogan terhadap Moskow dan pemerintah Damaskus, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Duma Rusia, Dmitry Novikov mengatakan, para pemimpin Suriah tidak akan membiarkan Turki menentukan nasib negara mereka dan tidak satu pun dari resolusi internasional yang memberikan mandat seperti ini kepada pemerintah Turki.

“Pemimpin Turki sedang berusaha menjadikan campur tangan di Suriah sebagai hak eksklusifnya dan memaksakan kehendaknya kepada negara-negara lain, tapi tindakan seperti ini sama sekali tidak dapat diterima,” tegasnya.

Jelas bahwa reaksi Moskow terhadap manuver Ankara benar-benar serius dan kecil kemungkinan para pejabat Turki akan mencapai tujuannya dengan cara mengancam Rusia dan pemerintah sah Suriah.

Tujuan yang ingin dicapai Erdogan, dipandang sejalan dan masih satu jalur dengan kepentingan Amerika Serikat, rezim Zionis, dan beberapa negara arogan Eropa. (RM)